Hoaks RS Dinilai Tak Berefek pada Elektabilitas Prabowo-Sandi
Jum'at, 05 Oktober 2018 - 15:37 WIB
Hoaks RS Dinilai Tak Berefek pada Elektabilitas Prabowo-Sandi
A
A
A
JAKARTA - Berita bohong yang dimunculkan Ratna Sarumpaet (RS) jelang Pilpres dimanfaatkan sejumlah pihak untuk menyerang Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Namun demikian, serangan itu dinilai tidak bakal berefek banyak dalam menggerus elektabilitas calon presiden-wakil presiden nomor urut 02 itu.
Pengamat politik Manilka Research Herzaky M Putra mengatakan, Prabowo-Sandi memang kecolongan karena dibohongi salah satu pendukung mereka. Tapi, mereka juga korban dari kasus ini.
"Wajar saja sebenarnya, jika ada orang tua yang selama ini kita hormati, kita kenal lama, lalu memberitahu kalau dia jadi korban penganiayaan, tentunya reaksi alami kita adalah berusaha membelanya. Begitu juga yang dilakukan oleh Prabowo-Sandi. Kasus ini tak akan berefek banyak untuk Prabowo-Sandi," kata Zaky kepada Sindonews, Jumat (5/10/2018).
Zaky mengatakan, Prabowo secara terbuka dan ksatria telah meminta maaf kepada publik karena ikut menyuarakan sesuatu yang belum tentu diyakini kebenarannya terkait Ratna Sarumpaet. Bahkan, langsung mengambil tindakan tegas meminta Ratna mengundurkan diri dari tim pemenangan.
Lebih dari itu, Prabowo bahkan mendukung langkah-langkah hukum yang dilakukan pihak kepolisian. Zaky mengatakan, situasi ini malah menunjukkan kualitas Prabowo. Sangat jarang seorang tokoh nasional mau mengakui telah berbuat salah, apalagi meminta maaf kepada publik.
"Teladan seperti ini jarang kita temui dari para tokoh nasional kita akhir-akhir," imbuh Zaky.
Lebih lanjut, kata Zaky, Prabowo juga menyampaikan tidak menolerir anggota timnya yang berbohong dan bakal mengambil tindakan tegas. Untuk kasus Ratna, Prabowo meminta Ratna mengundurkan diri, dan itu sudah dilakukan oleh Ratna.
"Komitmen seperti ini perlu kita dapatkan dari para politisi kita. Jenuh rasanya menemui berbagai hoax di segala ruang kehidupan kita, dan para tokoh nasional selama ini cenderung malah ikut menyebarkannya, bukan meredamnya," kata Zaky.
Pengamat politik Manilka Research Herzaky M Putra mengatakan, Prabowo-Sandi memang kecolongan karena dibohongi salah satu pendukung mereka. Tapi, mereka juga korban dari kasus ini.
"Wajar saja sebenarnya, jika ada orang tua yang selama ini kita hormati, kita kenal lama, lalu memberitahu kalau dia jadi korban penganiayaan, tentunya reaksi alami kita adalah berusaha membelanya. Begitu juga yang dilakukan oleh Prabowo-Sandi. Kasus ini tak akan berefek banyak untuk Prabowo-Sandi," kata Zaky kepada Sindonews, Jumat (5/10/2018).
Zaky mengatakan, Prabowo secara terbuka dan ksatria telah meminta maaf kepada publik karena ikut menyuarakan sesuatu yang belum tentu diyakini kebenarannya terkait Ratna Sarumpaet. Bahkan, langsung mengambil tindakan tegas meminta Ratna mengundurkan diri dari tim pemenangan.
Lebih dari itu, Prabowo bahkan mendukung langkah-langkah hukum yang dilakukan pihak kepolisian. Zaky mengatakan, situasi ini malah menunjukkan kualitas Prabowo. Sangat jarang seorang tokoh nasional mau mengakui telah berbuat salah, apalagi meminta maaf kepada publik.
"Teladan seperti ini jarang kita temui dari para tokoh nasional kita akhir-akhir," imbuh Zaky.
Lebih lanjut, kata Zaky, Prabowo juga menyampaikan tidak menolerir anggota timnya yang berbohong dan bakal mengambil tindakan tegas. Untuk kasus Ratna, Prabowo meminta Ratna mengundurkan diri, dan itu sudah dilakukan oleh Ratna.
"Komitmen seperti ini perlu kita dapatkan dari para politisi kita. Jenuh rasanya menemui berbagai hoax di segala ruang kehidupan kita, dan para tokoh nasional selama ini cenderung malah ikut menyebarkannya, bukan meredamnya," kata Zaky.
(pur)