Perempuan dan Aksara
Senin, 11 Maret 2024 - 22:08 WIB
loading...
A
A
A
Saya jadi ingat pernah membaca sesuatu tentang JK Rowling, sang kreator Harry Potter. Ia dikabarkan menginap di sebuah hotel sendirian selama dua bulan demi menuntaskan bagian terakhir seri Harry Potter. Ya, memang harus hotel, atau tempat mana pun asal bukan rumah. Ah, bukankah rumah merupakan tempat ternyaman? Belum tentu. Rumah pun bisa jadi tempat paling menjengkelkan jika situasinya tidak mendukung keinginan, harapan, atau rencana-rencana kita.
Bayangkan jika Rowling sedang menulis adegan perang terakhir antara pasukan Dumbledore dan Voldemort, lalu ia teringat bahwa tumpukan piring kotor sisa makan siang belum dibersihkan. Ia mungkin bukan seseorang yang impulsif, tetapi bentuk tumpukan piring kotor itu akan melayang-layang di antara lontaran mantra-mantra.
Oke, anggaplah seorang perempuan punya pasangan yang suportif, insting seorang ibu sedikit banyak akan muncul untuk memastikan segala di rumah baik-baik saja. Terlintas di pikiran, apakah anak-anaknya aman di tangan suami?
Apakah jemuran sudah dimasukkan karena langit tampak mendung sedari tadi? Apakah sisa lauk pagi tadi sudah dihangatkan untuk makan siang? Apakah mangkuk makanan kucing sudah diisi kembali? Kekhawatiran-kekhawatiran kecil tetapi banyak seperti ini mampu membelokkan fokus perempuan.
baca juga: Bercerita Penulis Ternama Menjadi ’Korban’ Tradisi Keluarga
Jangan tanya jika pasangan si perempuan bukan tipe yang suportif. Tentunya akan lebih banyak siasat agar ia tetap bisa mengerjakan kesenangannya dengan aksara. Jika tidak diakali, ia tidak menghasilkan apa-apa. Dan, gelembung-gelembung memuakkan itu siap meledak kapan saja dalam sebutan gangguan mental.
Gambaran menyatunya perempuan dan aksara dapat kita jumpai dalam Manggali Kalki, buku kedua dari Trilogi Jirah karya Cok Sawitri. Dyah Ratna Manggali diceritakan mewarisi sebuah kitab yang ‘tertulis’ di tubuhnya. Aksara-aksara itu, sayangnya, hanya dapat terbaca oleh orang-orang tertentu.
Agak sulit membayangkan bagaimana Manggali dapat mewarisi sebuah kitab yang tak kasatmata. Namun, efeknya nyata. Banyak yang berebut mendapatkan kitab yang katanya mempu membuat pemiliknya bertambah sakti. Ngomong-ngomong soal sakti, saya setuju kalau Virginia Woolf dan Nawal El Saadawi mendapat julukan itu. Mereka adalah dua perempuan sakti dengan senjata berupa pena.
Betapa tidak? Nawal, misalnya, sampai harus berurusan dengan pemerintah Mesir, bahkan sempat merasakan dinginnya lantai penjara. Sementara Virginia Woolf, dalam bukunya Ruang Milik Sendiri (Jalan Baru Publisher, Desember 2020), begitu luwes sekaligus tegas mengatakan bahwa perempuan memang butuh ruang untuk mengekspresikan dirinya.
Akan tetapi, kesaktian itu sesungguhnya sudah ada dalam diri perempuan sejak ia masih berupa janin. Hanya perlu membukanya dengan kunci yang tepat. Sayangnya, kunci itu sendiri butuh untuk ditemukan. Yang menemukan secara tidak sengaja, patut bersyukur, tidak perlu buang banyak tenaga. Sementara yang sengaja mencarinya, malah kesulitan karena―sialnya―bertemu dengan partner yang tidak ingin kunci itu ditemukan. Atau, kuncinya sudah ditemukan, tetapi berusaha dirusak dengan segala cara.
Ada lelucon berbunyi begini, “Kalau perempuan dianggap lemah, mengapa obat kuat justru tercipta untuk laki-laki?” Saya pikir ini senada dengan premis yang disampaikan Rina Nose. Paradoks yang mengundang tawa sekaligus tanya. Benarkah label-label yang selama ini kita dengar tentang perempuan? Atau, itu hanya rekaan kaum patriarki? Adonis, seorang penyair berkebangsaan Suriah, bercerita banyak soal perempuan di bukunya Sejarah yang Tercabik di Tubuh Perempuan (Diva Press, 2022).
Bayangkan jika Rowling sedang menulis adegan perang terakhir antara pasukan Dumbledore dan Voldemort, lalu ia teringat bahwa tumpukan piring kotor sisa makan siang belum dibersihkan. Ia mungkin bukan seseorang yang impulsif, tetapi bentuk tumpukan piring kotor itu akan melayang-layang di antara lontaran mantra-mantra.
Oke, anggaplah seorang perempuan punya pasangan yang suportif, insting seorang ibu sedikit banyak akan muncul untuk memastikan segala di rumah baik-baik saja. Terlintas di pikiran, apakah anak-anaknya aman di tangan suami?
Apakah jemuran sudah dimasukkan karena langit tampak mendung sedari tadi? Apakah sisa lauk pagi tadi sudah dihangatkan untuk makan siang? Apakah mangkuk makanan kucing sudah diisi kembali? Kekhawatiran-kekhawatiran kecil tetapi banyak seperti ini mampu membelokkan fokus perempuan.
baca juga: Bercerita Penulis Ternama Menjadi ’Korban’ Tradisi Keluarga
Jangan tanya jika pasangan si perempuan bukan tipe yang suportif. Tentunya akan lebih banyak siasat agar ia tetap bisa mengerjakan kesenangannya dengan aksara. Jika tidak diakali, ia tidak menghasilkan apa-apa. Dan, gelembung-gelembung memuakkan itu siap meledak kapan saja dalam sebutan gangguan mental.
Gambaran menyatunya perempuan dan aksara dapat kita jumpai dalam Manggali Kalki, buku kedua dari Trilogi Jirah karya Cok Sawitri. Dyah Ratna Manggali diceritakan mewarisi sebuah kitab yang ‘tertulis’ di tubuhnya. Aksara-aksara itu, sayangnya, hanya dapat terbaca oleh orang-orang tertentu.
Agak sulit membayangkan bagaimana Manggali dapat mewarisi sebuah kitab yang tak kasatmata. Namun, efeknya nyata. Banyak yang berebut mendapatkan kitab yang katanya mempu membuat pemiliknya bertambah sakti. Ngomong-ngomong soal sakti, saya setuju kalau Virginia Woolf dan Nawal El Saadawi mendapat julukan itu. Mereka adalah dua perempuan sakti dengan senjata berupa pena.
Betapa tidak? Nawal, misalnya, sampai harus berurusan dengan pemerintah Mesir, bahkan sempat merasakan dinginnya lantai penjara. Sementara Virginia Woolf, dalam bukunya Ruang Milik Sendiri (Jalan Baru Publisher, Desember 2020), begitu luwes sekaligus tegas mengatakan bahwa perempuan memang butuh ruang untuk mengekspresikan dirinya.
Akan tetapi, kesaktian itu sesungguhnya sudah ada dalam diri perempuan sejak ia masih berupa janin. Hanya perlu membukanya dengan kunci yang tepat. Sayangnya, kunci itu sendiri butuh untuk ditemukan. Yang menemukan secara tidak sengaja, patut bersyukur, tidak perlu buang banyak tenaga. Sementara yang sengaja mencarinya, malah kesulitan karena―sialnya―bertemu dengan partner yang tidak ingin kunci itu ditemukan. Atau, kuncinya sudah ditemukan, tetapi berusaha dirusak dengan segala cara.
Ada lelucon berbunyi begini, “Kalau perempuan dianggap lemah, mengapa obat kuat justru tercipta untuk laki-laki?” Saya pikir ini senada dengan premis yang disampaikan Rina Nose. Paradoks yang mengundang tawa sekaligus tanya. Benarkah label-label yang selama ini kita dengar tentang perempuan? Atau, itu hanya rekaan kaum patriarki? Adonis, seorang penyair berkebangsaan Suriah, bercerita banyak soal perempuan di bukunya Sejarah yang Tercabik di Tubuh Perempuan (Diva Press, 2022).
Lihat Juga :