Tingkatkan Literasi Digital, Kemenkominfo Gelar Webinar di Kabupaten Tangerang
Rabu, 28 Februari 2024 - 19:32 WIB
loading...
A
A
A
Materi pertama webinar disampaikan oleh Dosen Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, Anang Masduki. Dalam paparannya, Anang menyampaikan tentang etika berinternet untuk anak.
Sama halnya seperti di kehidupan nyata, berselancar di dunia maya pun harus menggunakan etika. Melihat konten yang sesuai dengan usia, berhati-hati saat mengunggah sesuatu, serta mawas diri dengan waktu penggunaan gadget.
Anang menambahkan pentingnya bimbingan dan pengawasan orang tua saat anak menggunakan media digital. Saat anak paham akan tanggung jawab dan etika dalam menggunakan internet dan sosial media, dunia digital dapat menjadi peluang untuk meningkatkan kreatifitas dalam diri, serta menciptakan ekosistem digital yang produktif.
Sejalan dengan paparan Anang, paparan materi kedua yang disampaikan oleh Sekjen Jaringan Media Siber Indonesia Pusat dan Dosen Ilmu Komunikasi UNESA, Eko Pamuji. Dia menekankan pentingnya anak memahami pemanfaatan teknologi untuk hal positif.
”Pada saat kita membuat konten kita harus bisa membuat hal yang menarik perhatian banyak orang dan menampilkan kualitas yang baik. Kita juga harus bisa menghargai rasa toleransi dan mempertahankan keunikan di masing-masing konten yang kita buat, karena konten yang kita buat adalah cerminan dari diri kita,” tutur Eko.
Eko juga mengingatkan agar anak menjadikan dunia digital sebagai ruang budaya, tempat berinteraksi dan belajar, sekaligus tempat di mana kita sebagai bangsa hadir dengan bermartabat.
Paparan terakhir disampaikan oleh influencer Ratu Vivit Novita yang berbagi materi tentang budaya bermedia digital. Bicara tentang budaya bermedia digital, salah satu tantangan yang dihadapi saat ini adalah memudarnya wawasan kebangsaan, serta menipisnya rasa sopan santun.
Ratu menjelaskan, sebagai influencer, dia kerap masih menemukan komen kasar hingga diskriminasi, namun dianggap lelucon yang lumrah bagi sebagian orang.
Sama halnya seperti di kehidupan nyata, berselancar di dunia maya pun harus menggunakan etika. Melihat konten yang sesuai dengan usia, berhati-hati saat mengunggah sesuatu, serta mawas diri dengan waktu penggunaan gadget.
Anang menambahkan pentingnya bimbingan dan pengawasan orang tua saat anak menggunakan media digital. Saat anak paham akan tanggung jawab dan etika dalam menggunakan internet dan sosial media, dunia digital dapat menjadi peluang untuk meningkatkan kreatifitas dalam diri, serta menciptakan ekosistem digital yang produktif.
Sejalan dengan paparan Anang, paparan materi kedua yang disampaikan oleh Sekjen Jaringan Media Siber Indonesia Pusat dan Dosen Ilmu Komunikasi UNESA, Eko Pamuji. Dia menekankan pentingnya anak memahami pemanfaatan teknologi untuk hal positif.
”Pada saat kita membuat konten kita harus bisa membuat hal yang menarik perhatian banyak orang dan menampilkan kualitas yang baik. Kita juga harus bisa menghargai rasa toleransi dan mempertahankan keunikan di masing-masing konten yang kita buat, karena konten yang kita buat adalah cerminan dari diri kita,” tutur Eko.
Eko juga mengingatkan agar anak menjadikan dunia digital sebagai ruang budaya, tempat berinteraksi dan belajar, sekaligus tempat di mana kita sebagai bangsa hadir dengan bermartabat.
Paparan terakhir disampaikan oleh influencer Ratu Vivit Novita yang berbagi materi tentang budaya bermedia digital. Bicara tentang budaya bermedia digital, salah satu tantangan yang dihadapi saat ini adalah memudarnya wawasan kebangsaan, serta menipisnya rasa sopan santun.
Ratu menjelaskan, sebagai influencer, dia kerap masih menemukan komen kasar hingga diskriminasi, namun dianggap lelucon yang lumrah bagi sebagian orang.
Lihat Juga :