BKKBN Genjot Turunkan Stunting dan Unmet Need di 2024
Jum'at, 23 Februari 2024 - 18:50 WIB
loading...
A
A
A
Dokter Hasto juga menginformasikan capaian prevalensi kontrasepsi modern (mCPR) pada 2023 sebesar 62,92 persen, ditargetkan menjadi 63,41 persen pada 2024. “Target-target ini harus dipetakan di depan untuk kemudian dicapai. Kinerja-kinerja lain yang sifatnya administratif dan juga menunjukkan akuntabilitas, LKIP, SAKIP, nilainya harus juga bagus. Target-target itu yang menjadikan indikator kinerja,” tambahnya.
Usia pernikahan juga menjadi fokus kinerja BKKBN di 2024. Dia meminta jangan terlalu muda dan terlalu tua ketika melahirkan. “Itu artinya perempuan-perempuan kalau kawin jangan terlalu muda, jangan kurang dari 20 tahun. Target BKKBN 22 tahun. Tapi juga jangan terlalu tua. Jadi, kalau jomblo jangan lama-lama. Terlalu muda dan terlalu tua risiko stuntingnya juga tinggi,” terangnya.
Dia pun menginformasikan bahwa BKKBN mempunyai indeks baru, yaitu Indeks Pembangunan Keluarga atau iBangga. Indeks ini terkait keluarga yang mandiri, tenteram dan bahagia, dengan target di atas 60 dan saat ini telah mencapai 61. “Ini indeks pembangunan keluarga seperti happiness index,” tuturnya.
Pada acara yang sama, Wali Kota Semarang Hevearita G. Rahayu dalam sambutannya mengklaim bahwa Semarang telah berhasil menurunkan angka stunting di bawah 10%. “Alhamdulillah, penurunan angka stunting kelihatan nyata di Kota Semarang. Kami juga berharap nantinya dengan program yang ada di Semarang bisa menjadikan stunting turun terus menerus, turun secara signifikan,” ujar Hevearita.
Optimisme wali kota lantaran didukung sebuah program bernama “Rumah Pelita”. Ini merupakan program tempat atau ‘daycare’ penitipan khusus anak stunting. “Ternyata program ini bisa menurunkan hampir 60% kasus stunting di Kota Semarang,” kata Hevearita.
Usia pernikahan juga menjadi fokus kinerja BKKBN di 2024. Dia meminta jangan terlalu muda dan terlalu tua ketika melahirkan. “Itu artinya perempuan-perempuan kalau kawin jangan terlalu muda, jangan kurang dari 20 tahun. Target BKKBN 22 tahun. Tapi juga jangan terlalu tua. Jadi, kalau jomblo jangan lama-lama. Terlalu muda dan terlalu tua risiko stuntingnya juga tinggi,” terangnya.
Dia pun menginformasikan bahwa BKKBN mempunyai indeks baru, yaitu Indeks Pembangunan Keluarga atau iBangga. Indeks ini terkait keluarga yang mandiri, tenteram dan bahagia, dengan target di atas 60 dan saat ini telah mencapai 61. “Ini indeks pembangunan keluarga seperti happiness index,” tuturnya.
Pada acara yang sama, Wali Kota Semarang Hevearita G. Rahayu dalam sambutannya mengklaim bahwa Semarang telah berhasil menurunkan angka stunting di bawah 10%. “Alhamdulillah, penurunan angka stunting kelihatan nyata di Kota Semarang. Kami juga berharap nantinya dengan program yang ada di Semarang bisa menjadikan stunting turun terus menerus, turun secara signifikan,” ujar Hevearita.
Optimisme wali kota lantaran didukung sebuah program bernama “Rumah Pelita”. Ini merupakan program tempat atau ‘daycare’ penitipan khusus anak stunting. “Ternyata program ini bisa menurunkan hampir 60% kasus stunting di Kota Semarang,” kata Hevearita.
Lihat Juga :