Siti Atikoh: Lapangan Kerja dan Pendidikan Jadi Tantangan Indonesia Hadapi Bonus Demogafi
Jum'at, 26 Januari 2024 - 20:14 WIB
loading...
Siti Atikoh Supriyanti, istri calon presiden (capres) nomor urut 3, Ganjar Pranowo menyebut pendidikan dan lapangan pekerjaan jadi tantangan Indonesia dalam menghadapi bonus demografi. Foto/MPI/atikah umiyani
A
A
A
JAWA TIMUR - Siti Atikoh Supriyanti , istri calon presiden (capres) nomor urut 3, Ganjar Pranowo memaparkan peluang dan tantangan yang bagi Indonesia ketika dihadapkan dengan bonus demografi.
Dikatakannya, bonus demografi merupakan suatu kondisi di mana penduduk usia produktif itu lebih banyak dibandingkan usia warga negara senior atau senior citizen maupun yang usia di bawahnya.
"Tantangan pertama, terkait ketersediaan lapangan pekerjaan. Kemudian kedua, tantangan dari sisi pendidikan," jelasnya saat berdialog dengan Milenial, Generasi Z dan ibu-ibu di halaman depan area Makam Bung Karno, Blitar, Jawa Timur, Jumat (26/1/2024)
Baca juga: Siti Atikoh Ajak Rakyat Melapor Jika Ada Intimadasi dan Money Politic di Pemilu 2024
Menurut Atikoh, masih banyak anak yang berasal dari keluarga dengan ekonomi kurang mampu namun sangat membutuhkan akses pendidikan. "Jadi di sini perlu sekali kehadiran dari negara agar mereka tetap bisa mencapai pendidikan tinggi tetapi orang tuanya itu tidak mampu, sehingga ini perlu difasilitasi oleh negara," terangnya.
Dikatakannya, bonus demografi merupakan suatu kondisi di mana penduduk usia produktif itu lebih banyak dibandingkan usia warga negara senior atau senior citizen maupun yang usia di bawahnya.
"Tantangan pertama, terkait ketersediaan lapangan pekerjaan. Kemudian kedua, tantangan dari sisi pendidikan," jelasnya saat berdialog dengan Milenial, Generasi Z dan ibu-ibu di halaman depan area Makam Bung Karno, Blitar, Jawa Timur, Jumat (26/1/2024)
Baca juga: Siti Atikoh Ajak Rakyat Melapor Jika Ada Intimadasi dan Money Politic di Pemilu 2024
Menurut Atikoh, masih banyak anak yang berasal dari keluarga dengan ekonomi kurang mampu namun sangat membutuhkan akses pendidikan. "Jadi di sini perlu sekali kehadiran dari negara agar mereka tetap bisa mencapai pendidikan tinggi tetapi orang tuanya itu tidak mampu, sehingga ini perlu difasilitasi oleh negara," terangnya.
Lihat Juga :