Persaingan Menuju Pilpres 2024, Elektabilitas Semu Kepala Daerah
Rabu, 12 Agustus 2020 - 08:28 WIB
loading...
A
A
A
Melihat peta ini, maka Pilpres 2024 kemungkinan masih akan menampilkan pertarungan para elite politik. Dengan begitu, maka peluang sejumlah kepala daerah untuk bisa berkontestasi praktis sangat kecil. Elektabilitas kepala daerah yang moncer di masa pandemik sangat mungkin tidak berarti apa-apa menjalang pilpres yang masih tersisa empat tahun lagi. (Baca juga: Pemerintahan Lebanon Bubar di Tengah Kemarahan Publik)
“Saya setuju bahwa, syarat nomor satu untuk maju (di pilpres) itu lewat parpol, dan itu tentu tokoh parpol yang berpeluang karena bagaimana pun ketumnya yang tanda tangani pencalonan,” ujar Direktur Eksekutif Indobarometer M Qodari saat dihubungi kemarin.
Meski demikian, tetap ada celah bagi figure lain di luar parpol termasuk para gubernur. Menurut Qodari, ketua umum parpol nanti tetap akan realisitis melihat dukungan yang tercermin pada survei. Karena itu kombinasi antara syarat dukungan partai dengan elektabilitas akan menciptakan matrix.
Dijelaskan, nanti terlihat ada ketua umum parpol yang punya kursi tapi tidak punya elektabilitas. Ada juga ketua umum parpol yang punya kursi dan punya elektabilitas. Selain itu, ada juga tokoh punya elektabilitas tapi tidak punya partai.
“Nah, yang paling berpotensi maju adalah tokoh yang punya partai dan punya elektabilitas. Pada titik ini ada Prabowo Subianto. Dia punya kursi 14% di parlemen dan tinggal gandeng satu partai menengah, atau besar,” paparnya.
Elektabilitas Kepala Daerah Sesaat
Salah satu faktor lain yang membuat peluang gubernur kecil untuk bisa menjadi capres adalah elektabilitas yang bisa turun jelang pipres. Penurunan tak lepas dari berakhirnya masa jabatan mereka sebagai kepala daerah.
Anies Baswedan misalnya akan mengakhiri jabatan pada 2022 atau dua tahun jelang pilpres. Sedangkan Ridwan Kamil, Ganjar dan Khofifah juga akan mengakhiri masa jabatan pada 2023 atau setahun jelang pilpres. Kondisi ini akan membuat para gubernur jadi kehilangan “panggung” untuk menjaga elektabilitas.
“Saya setuju bahwa, syarat nomor satu untuk maju (di pilpres) itu lewat parpol, dan itu tentu tokoh parpol yang berpeluang karena bagaimana pun ketumnya yang tanda tangani pencalonan,” ujar Direktur Eksekutif Indobarometer M Qodari saat dihubungi kemarin.
Meski demikian, tetap ada celah bagi figure lain di luar parpol termasuk para gubernur. Menurut Qodari, ketua umum parpol nanti tetap akan realisitis melihat dukungan yang tercermin pada survei. Karena itu kombinasi antara syarat dukungan partai dengan elektabilitas akan menciptakan matrix.
Dijelaskan, nanti terlihat ada ketua umum parpol yang punya kursi tapi tidak punya elektabilitas. Ada juga ketua umum parpol yang punya kursi dan punya elektabilitas. Selain itu, ada juga tokoh punya elektabilitas tapi tidak punya partai.
“Nah, yang paling berpotensi maju adalah tokoh yang punya partai dan punya elektabilitas. Pada titik ini ada Prabowo Subianto. Dia punya kursi 14% di parlemen dan tinggal gandeng satu partai menengah, atau besar,” paparnya.
Elektabilitas Kepala Daerah Sesaat
Salah satu faktor lain yang membuat peluang gubernur kecil untuk bisa menjadi capres adalah elektabilitas yang bisa turun jelang pipres. Penurunan tak lepas dari berakhirnya masa jabatan mereka sebagai kepala daerah.
Anies Baswedan misalnya akan mengakhiri jabatan pada 2022 atau dua tahun jelang pilpres. Sedangkan Ridwan Kamil, Ganjar dan Khofifah juga akan mengakhiri masa jabatan pada 2023 atau setahun jelang pilpres. Kondisi ini akan membuat para gubernur jadi kehilangan “panggung” untuk menjaga elektabilitas.
Lihat Juga :