Kunjungi Ponpes Ma'ahidul Irfan, Atikoh Tekankan Pentingnya Pendidikan
Kamis, 28 Desember 2023 - 18:18 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Senam Bareng Ibu-Ibu Magelang, Siti Atikoh Kenalkan Program Ganjar-Mahfud soal Pengentasan Kemiskinan
Pertanyaan kedua, santriwati berharap Atikoh bisa menjelaskan cara meningkatkan SDM kaum hawa agar terjadi persamaan gender. "Apa yang dapat dilakukan santri perempuan untuk meningkatkan SDM perempuan agar adanya persamaan gender," tanya santriwati lainnya.
Menjawab pertanyaan pertama, Atikoh mengatakan, selama di pesantren banyak belajar dan menyerap ilmu tentang ikhlas dan berbagi. Sebab, seorang kiai tidak memandang asal usul santri saat menerima murid.
"Jadi, kiai itu tidak pernah menolak santri. Tidak pernah menanyakan, nanti kamu bagaimana makannya. Tidak pernah. Semua ditanggung Pak Kiai. Itu kalau Salafiyah. Itu mengajarkan Ibu, rezeki ada yang mengatur. Kita belajar untuk ikhlas dan berbagi," kata Atikoh.
Atikoh juga menjelaskan, selama hidup di lingkungan pesantren juga menyerap ilmu tentang perlunya manusia bisa bermanfaat bagi sesama. Atikoh menyebutkan manusia bisa bermanfaat apabila memiliki ilmu tinggi yang diperoleh melalui belajar secara tekun.
"Kita harus mencari ilmu setinggi-tingginya. Bukan selalu berkaitan mencari kerjaan, agar kerjaan kita kariernya tinggi. Itu juga bentuk dari kita berterima kasih kepada Yang Maha Kuasa sudah diberi hidup. Kita bisa bermanfaat dengan orang lain, kalau kita punya ilmu tinggi, kita bisa berbagi ilmu. Itu yang menjadi pegangan saya ketika hidup di lingkungan pesantren, ya, karena kita harus bermanfaat," ujarnya.
Pertanyaan kedua, santriwati berharap Atikoh bisa menjelaskan cara meningkatkan SDM kaum hawa agar terjadi persamaan gender. "Apa yang dapat dilakukan santri perempuan untuk meningkatkan SDM perempuan agar adanya persamaan gender," tanya santriwati lainnya.
Menjawab pertanyaan pertama, Atikoh mengatakan, selama di pesantren banyak belajar dan menyerap ilmu tentang ikhlas dan berbagi. Sebab, seorang kiai tidak memandang asal usul santri saat menerima murid.
"Jadi, kiai itu tidak pernah menolak santri. Tidak pernah menanyakan, nanti kamu bagaimana makannya. Tidak pernah. Semua ditanggung Pak Kiai. Itu kalau Salafiyah. Itu mengajarkan Ibu, rezeki ada yang mengatur. Kita belajar untuk ikhlas dan berbagi," kata Atikoh.
Atikoh juga menjelaskan, selama hidup di lingkungan pesantren juga menyerap ilmu tentang perlunya manusia bisa bermanfaat bagi sesama. Atikoh menyebutkan manusia bisa bermanfaat apabila memiliki ilmu tinggi yang diperoleh melalui belajar secara tekun.
"Kita harus mencari ilmu setinggi-tingginya. Bukan selalu berkaitan mencari kerjaan, agar kerjaan kita kariernya tinggi. Itu juga bentuk dari kita berterima kasih kepada Yang Maha Kuasa sudah diberi hidup. Kita bisa bermanfaat dengan orang lain, kalau kita punya ilmu tinggi, kita bisa berbagi ilmu. Itu yang menjadi pegangan saya ketika hidup di lingkungan pesantren, ya, karena kita harus bermanfaat," ujarnya.
Lihat Juga :