DPR Didorong Kutuk Dugaan Pelanggaran HAM yang Menimpa Anak-anak Tibet

Selasa, 26 Desember 2023 - 00:30 WIB
loading...
DPR Didorong Kutuk Dugaan...
DPR didorong mengutuk dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang menimpa anak-anak Tibet. Foto/Dok SINDOnews
A A A
JAKARTA - DPR didorong mengutuk dugaan pelanggaran hak asasi manusia ( HAM ) yang menimpa anak-anak Tibet. Setelah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), pada 14 Desember 2023, parlemen Eropa mengutuk dugaan penculikan dan indoktrinasi anak-anak Tibet yang dibawa secara paksa ke sekolah berasrama Tiongkok.

Dalam suara bulat parlemen Eropa ini, mereka mengeluarkan dalam sebuah resolusi yang telah dilantangkan ke seluruh dunia, khususnya China. Sikap tegas parlemen Eropa ini diambil usai PBB terlebih dahulu mengecam pelanggaran berat HAM terhadap anak-anak Tibet, yang diduga kuat dilakukan oleh China.

Resolusi tersebut menyatakan bahwa di bawah kepemimpinan Xi Jinping, pemerintah Tiongkok menjadi semakin menindas secara sistematis, di mana situasi HAM di Tibet terus memburuk. Menanggapi hal ini, Center for Indonesian Domestic and Foreign Policy Studies (Centris) meminta parlemen dunia, khususnya Indonesia atau DPR untuk mengambil sikap yang sama dengan parlemen Eropa terkait dugaan pelanggaran berat HAM yang menimpa anak-anak Tibet.

Baca juga: Otoritas China Batasi Penggunaan Bahasa Asli di Kalangan Siswa Sekolah Tibet

Peneliti senior Centris AB Solissa mengatakan, anak-anak Tibet dan dari etnis minoritas di China saat ini memerlukan dukungan seluruh parlemen dunia, untuk menyelamatkan mereka dari ancaman dihilangkan dari peradaban dunia. “Tidak cukup jika hanya parlemen Eropa, anak-anak Tibet dan anak-anak dari minoritas lainnya di China, butuh dukungan seluruh parlemen di dunia, untuk menyelamatkan mereka dari kepunahan,” kata AB Solissa, Senin (25/12/2023).

Apalagi, kata dia, dalam laporan tersebut tersaji fakta-fakta bahwa pihak berwenang Tiongkok telah membentuk sistem sekolah asrama wajib yang secara de facto, dan sangat dipolitisasi serta bersifat luas bagi anak-anak Tibet berusia 4-18 tahun. Anak-anak di usia tersebut diharuskan menjalani pendidikan wajib dalam bahasa Mandarin, tanpa ada kesempatan untuk mempelajari pendidikan dengan menggunakan bahasa, sejarah atau budaya Tibet.

“Akibatnya, sekitar 80% anak-anak Tibet diduga telah dipisahkan dari keluarga mereka karena sistem ini oleh otoritas China. Hal ini bertujuan untuk secara paksa mengasimilasi anak-anak secara budaya, agama, dan bahasa ke dalam kelompok mayoritas Han,” tutur AB Solissa.

Parlemen Eropa menyebutkan temuan PBB sebelumnya di mana para ahli PBB mengatakan kekhawatiran kepada anak-anak Tibet yang menderita tekanan psikologis dan emosional parah, termasuk kesepian karena isolasi, sehingga kehilangan kemampuan untuk berkomunikasi dengan mudah dalam bahasa asli mereka.

PBB menyebut kondisi ini berkontribusi terhadap erosi identitas individu dan sosial anak-anak Tibet yang tentunya melanggar HAM internasional dan mungkin dapat dianggap sebagai genosida. “Meskipun diawali dengan mungkin, penggunaan kata genosida sangatlah signifikan, khususnya bagi penggiat maupun organisasi HAM dunia, salah satunya di PBB,” jelas AB Solissa.

Selain Tibet, parlemen Eropa mengecam keras kebijakan asimilasi yang represif di seluruh Tiongkok, khususnya sistem sekolah berasrama yang berupaya menghilangkan tradisi bahasa, budaya, dan agama yang berbeda di antara warga minoritas lainnya, seperti Uighur.

Parlemen Eropa menyerukan penghapusan segera sistem sekolah berasrama yang diberlakukan pada anak-anak di Tibet dan praktik pemisahan keluarga seperti yang disoroti oleh para ahli PBB pada Februari 2023. Parlemen Eropa menyerukan kepada pihak berwenang Tiongkok untuk mengizinkan pendirian sekolah swasta Tibet.

“Selain itu, parlemen Eropa menuntut agar pemerintah Tiongkok mengeluarkan visa bagi diplomat Eropa untuk mengunjungi sekolah-sekolah berasrama di seluruh Tibet, serta mengizinkan jurnalis independen dan pengamat internasional memasuki wilayah tersebut dan mendesak Beijing untuk menahan menyebarkan berita palsu,” terang AB Solissa.

Di sisi lain, Uni Eropa mengingatkan pentingnya mengangkat masalah pelanggaran HAM di Tiongkok, khususnya situasi di Tibet dalam semua dialog politik dan HAM dengan pihak berwenang Tiongkok.

“Uni Eropa juga mengulangi seruannya kepada pemerintah Tiongkok untuk melibatkan kembali perwakilan Dalai Lama ke-14 dalam membangun otonomi sejati bagi warga Tibet di Tiongkok, mendesak pihak berwenang Tiongkok untuk membebaskan Panchen Lama dan menahan diri untuk tidak ikut campur dalam penunjukan pemimpin spiritual Tibet,” pungkas AB Solissa.
(rca)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
PDIP: Jika Seluruh Fraksi...
PDIP: Jika Seluruh Fraksi di DPR Hanya Manut Eksekutif, Apa Bedanya dengan Era Orde Baru?
Di Hadapan Pimpinan...
Di Hadapan Pimpinan DPR, Mahasiswa Minta Pemerintah Tak Mainkan Isu Perut Rakyat
DPR Sesalkan Anggaran...
DPR Sesalkan Anggaran Komnas HAM yang Substantif Hanya 6 Persen, Sisanya Administratif
KPK Telusuri Dugaan...
KPK Telusuri Dugaan Aliran Uang Kasus Kuota Haji dari Kemenag ke Pansus DPR
Ajukan Tambahan Anggaran...
Ajukan Tambahan Anggaran Rp762 Miliar, KPK: Kami Tidak Muluk-muluk
DPR Desak Negara Tindak...
DPR Desak Negara Tindak Keras Tanpa Kompromi Judi Online dan Teror Pinjol
Starmer Didesak Mundur...
Starmer Didesak Mundur dari Jabatan Perdana Menteri Inggris
Dasco Terima Audiensi...
Dasco Terima Audiensi Massa Mahasiswa di Gedung DPR
Massa HMI MPO Datangi...
Massa HMI MPO Datangi Gedung DPR, Sampaikan Tuntutan Ini
Rekomendasi
Dari Sopir Bus Mendadak...
Dari Sopir Bus Mendadak Jadi Pemimpin Negara? Ini Serunya Microdrama Love In A Fallen Nation di V+Short
Timnas Amerika Serikat...
Timnas Amerika Serikat Dapat Jalur Relatif Mudah ke Semifinal Piala Dunia 2026
Gunakan MT Gamkonora,...
Gunakan MT Gamkonora, Pertamina Patra Niaga Tambah 450 Ribu Barel Minyak
Berita Terkini
Bukan Sekadar Insinyur,...
Bukan Sekadar Insinyur, Alumni ITS Didorong Kuasai Kepemimpinan dan Finansial
Roy Suryo-Tifa Tak Ditahan,...
Roy Suryo-Tifa Tak Ditahan, Relawan Jokowi: Ini Bukan Akhir dari Segalanya
Hadapi Masa Depan yang...
Hadapi Masa Depan yang Tak Pasti, Mahasiswa Diajarkan Kepemimpinan, Inovasi, dan Talenta Digital
APHI Dorong Pemegang...
APHI Dorong Pemegang PBPH Manfaatkan Permenhut untuk Kembangkan Proyek Karbon
Ade Darmawan Minta Jaksa...
Ade Darmawan Minta Jaksa Tolak Segala Intervensi di Kasus Ijazah Jokowi
Nostalgia dengan Fotografi...
Nostalgia dengan Fotografi Analog, Lomography Kini Hadir di Indonesia
Infografis
10 Pemain Bintang yang...
10 Pemain Bintang yang Absen di Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved