Publik Tunggu Konsep Ekonomi Digital Gibran Dalam Skala Nasional

Jum'at, 22 Desember 2023 - 22:34 WIB
loading...
Publik Tunggu Konsep...
Cawapres nomor urut 2 Gibran Rakabuming Raka dianggap lebih diuntungkan dengan tema ekonomi digital. Foto: Dok MPI
A A A
JAKARTA - Direktur Eksekutif Centre for Indonesia Strategic Actions (CISA) Herry Mendrofa mengatakan, cawapres nomor urut 2 Gibran Rakabuming Raka lebih diuntungkan dengan tema ekonomi digital.

"Kalau bicara ekonomi digital saya rasa praktiknya mungkin memang benar Gibran lebih unggul," ujarnya di Jakarta, Jumat (22/12/2023).

Menurut dia, Gibran diuntungkan dengan rekam jejaknya berkecimpung di Solo Technopark yang didesain untuk mengembangkan minat dan bakat generasi muda di bidang ekonomi digital.

"Karena dia menjadi wali kota dan dia punya kebijakan Solo Technopark. Ini kan pro terhadap ekonomi digital yang digagas untuk usia muda," ucapnya.

Baca juga: Debat Cawapres 2024, Gibran Tekankan Keberlanjutan Pembangunan

Berbicara ekonomi digital dalam lingkup kota berbeda dengan ekonomi digital dalam lingkup nasional.

"Saya kira ini akan menguntungkan Gibran, tapi bicara Indonesia kan tidak bicara Solo. Maka ketika Gibran bicara ekonomi digital sebagai cawapres, maka dia harus berbicara ekonomi digitalnya Indonesia bukan ekonomi digitalnya Solo," katanya.

Keberadaan Solo Technopark yang menguntungkan posisi Gibran namun sekaligus menjadi catatan untuk Gibran.

"Gibran ini diuntungkan juga. Meskipun dia menggagas Solo Technopark tapi kan itu akses-akses untuk mendapat stimulasi dana dari pemerintah pusat. Artinya pengaruh Presiden Jokowi juga tidak terlepas dari keuntungan ini," ungkapnya.

Menurut dia, debat tema ekonomi juga akan memberi ruang untuk Mahfud MD dan Muhaimin Iskandar.

Sedangkan Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, akan didukung dengan pengalamannya di legislatif. Oleh sebab itu, ketiganya dinilai punya potensi seimbang dalam debat cawapres.

"Kalau Cak Imin karena dia malang melintang di legislatif. Artinya seimbang menurut saya," ucapnya.

Ekonom Center of Reform on Economic (CORE) Yusuf Rendy Manilet mengatakan, pekerjaan rumah pemimpin mendatang untuk mengeluarkan kepastian hukum dan regulasi berkelanjutan mendorong pertumbuhan ekonomi dan iklim investasi.

“Kalau kita bicara regulasi ataupun ketentuan yang berkaitan dengan investasi memang perubahan dari suatu regulasi kerap kali terjadi di Indonesia,” ujarnya.

Hal ini tentu tidak menarik bagi investor karena tidak ada kepastian hukum. Regulasi yang mudah dinilai investor sebagai bentuk inkonsistensi maka investor akan cenderung lebih berhati-hati ketika misalnya ingin berinvestasi di suatu negara atau dalam konteks ini di suatu daerah karena ada track record dari perubahan regulasi.

Dia mencontohkan ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan tentang kewajiban pembangunan smelter. Hal lain misalnya ketika pemerintah membuat kebijakan terkait kewajiban membangun smelter.

Dia menambahkan kepentingan yang tinggi antara pemerintah pusat-daerah dan bahkan pemilik modal juga menjadi faktor mudahnya regulasi berganti.

“Jadi memang menurut saya pekerjaan rumahnya ke depan adalah memastikan sebuah regulasi telah dihasilkan dari proses yang melibatkan banyak pihak sehingga di kemudian hari regulasi tersebut bisa konsisten untuk tidak berubah karena diproses awal dia telah melibatkan banyak pihak dan disepakati secara bersama untuk dijalankan,” ujar Yusuf.

Dia menuturkan kesepahaman antarpemangku kebijakan kemudian diperkuat dengan komitmen berkelanjutan. Artinya, regulasi yang ditetapkan di level paling tinggi dalam hal ini misalnya pemerintah pusat tentu juga harus dijalankan di level yang lebih rendah dalam hal ini misalnya Pemkot maupun Pemkab.
(jon)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Akui Program Pemerintah...
Akui Program Pemerintah Banyak Kekurangan, Wapres Gibran: Kita Perbaiki Bersama
Istana Wapres Sebut...
Istana Wapres Sebut Tidak Ada Kesepakatan soal Tenggat Waktu Realisasikan Tuntutan Mahasiswa
Temui Gibran, Mahasiswa...
Temui Gibran, Mahasiswa Beri Tenggat Waktu 5 Hari ke Pemerintah untuk Realisasikan Tuntutan
Gugatan CLS terkait...
Gugatan CLS terkait Ijazah Wapres Gibran Lanjut ke Pemeriksaan Pokok Perkara
Momen Prabowo Bincang...
Momen Prabowo Bincang dengan Megawati, Gibran, hingga JK saat Hari Lahir Pancasila
BPIP Undang Jokowi dan...
BPIP Undang Jokowi dan Gibran di Upacara Harlah Pancasila, PDIP: Insya Allah Megawati Hadir
Implementasi PP TUNAS...
Implementasi PP TUNAS Harus Bisa Jaga Daya Saing Generasi Muda di Ekonomi Digital
Grab Tepis Rumor Keluar...
Grab Tepis Rumor Keluar dari Indonesia, Komitmen untuk UMKM dan Mitra Tetap Kuat
White Paper MDI Ventures...
White Paper MDI Ventures Petakan Jalur Ekonomi Digital Inklusif di Indonesia
Rekomendasi
BMKG: 9 Gempa Susulan...
BMKG: 9 Gempa Susulan Terjadi Pascagempa M6,7 di Palu
Inggris, Prancis, Jerman,...
Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia Siap Cabut Sanksi Teheran setelah Kesepakatan Damai AS-Iran
Larangan Perangkat Lunak...
Larangan Perangkat Lunak AS Bikin Susah Banyak Produsen Mobil
Berita Terkini
Pengamat: Pemberantasan...
Pengamat: Pemberantasan Korupsi Tak Maksimal jika Hanya Berfokus pada Pelaku
DPR Minta Pemerintah...
DPR Minta Pemerintah Evaluasi Harga BBM Non-Subsidi Pascaanjloknya Harga Minyak Dunia
Denny JA Soroti Kerusuhan...
Denny JA Soroti Kerusuhan Agustus 2025 dalam Perspektif Kelas Rentan Digital
Nasaruddin Umar Ingin...
Nasaruddin Umar Ingin Indonesia Jadi Epicentrum Peradaban Dunia Islam Modern
Menag: Tahun Baru Islam...
Menag: Tahun Baru Islam 1 Muharram Momentum Transformasi Diri dan Sosial
Tepis Media Nasional...
Tepis Media Nasional Tak Liput Demo Mahasiswa, KPI Sebut 9 Televisi Telah Memberitakan
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved