Kemenkominfo Ajak Pemuda Papua Jaga Demokrasi dan Cegah Hoaks di Ruang Digital
Jum'at, 24 November 2023 - 17:30 WIB
loading...
A
A
A
Dalam menghadapi masa kampanye selama 75 hari yang dimulai Selasa 28 November 2023 sampai 10 Februari 2024 nanti, pemilih diberi kesempatan untuk mencermati platform demokrasi setiap pasangan capres, para caleg, dan partai politik. “Kita perlu mencermati data resmi yang bersumber dari KPU dan Badan Pengawas Pemilu. Di luar itu, kita perlu cermati data, informasi, konten, dan berita dari media massa dan media sosial,” ujarnya.
Menurutnya, media sosial berpotensi menyebarkan hoaks politik, kampanye hitam, dan ujaran kebencian yang rawan beredar tanpa batas ruang dan waktu serta melampaui batas etika politik dan demokrasi, bahkan melanggar peraturan perundang-undangan.
![Kemenkominfo Ajak Pemuda Papua Jaga Demokrasi dan Cegah Hoaks di Ruang Digital]()
(Foto: dok Kominfo)
Penyelenggara Pemilu dan pemerintah telah mengundang dan melibatkan pengelola platform digital dan media sosial di Indonesia untuk turut berperan aktif menjaga demokrasi di ruang-ruang digital. Di samping itu, sebagai bagian dari masyarakat, terutama generasi muda Papua diharapkan memiliki keterampilan analitis, kritis, dan terlibat dalam diskursus publik secara konstruktif. Ini agar setelah pemekaran provinsi di Papua menjadi enam, generasi muda menjadi ujung tombak secara bersama-sama menjaga persatuan dan kesatuan.
Menanggapi hal tersebut, Argo kemudian mengungkap jika setiap suku-suku di Papua memiliki caranya sendiri-sendiri untuk menjaga keharmonisan di antara mereka. Lalu, Cayetanus menambahkan salah satu cara yang bisa dilakukan mengasah keterampilan literasi tadi yakni dengan memilih lingkungan yang positif termasuk di ruang digital.
"Sebisa mungkin juga tidak hanya di ruang digital, tapi dengan tetap memperhatikan keadaan lingkungan sekitar kita," katanya.
Pada kesempatan diskusi tersebut, para mahasiswa perantauan Papua mengemukakan keluh-kesahnya terkait pembangunan dan kondisi di Papua. Cayetanus juga mengemukakan tantangan penerimaan lingkungan saat di perantauan. Untuk itu menyarankan agar para pemuda Papua di perantauan harus mau bergaul dan berbaur dengan masuk sebuah organisasi di lingkungan kampus sesuai dengan minat masing.
Menurutnya, media sosial berpotensi menyebarkan hoaks politik, kampanye hitam, dan ujaran kebencian yang rawan beredar tanpa batas ruang dan waktu serta melampaui batas etika politik dan demokrasi, bahkan melanggar peraturan perundang-undangan.

(Foto: dok Kominfo)
Penyelenggara Pemilu dan pemerintah telah mengundang dan melibatkan pengelola platform digital dan media sosial di Indonesia untuk turut berperan aktif menjaga demokrasi di ruang-ruang digital. Di samping itu, sebagai bagian dari masyarakat, terutama generasi muda Papua diharapkan memiliki keterampilan analitis, kritis, dan terlibat dalam diskursus publik secara konstruktif. Ini agar setelah pemekaran provinsi di Papua menjadi enam, generasi muda menjadi ujung tombak secara bersama-sama menjaga persatuan dan kesatuan.
Menanggapi hal tersebut, Argo kemudian mengungkap jika setiap suku-suku di Papua memiliki caranya sendiri-sendiri untuk menjaga keharmonisan di antara mereka. Lalu, Cayetanus menambahkan salah satu cara yang bisa dilakukan mengasah keterampilan literasi tadi yakni dengan memilih lingkungan yang positif termasuk di ruang digital.
"Sebisa mungkin juga tidak hanya di ruang digital, tapi dengan tetap memperhatikan keadaan lingkungan sekitar kita," katanya.
Pada kesempatan diskusi tersebut, para mahasiswa perantauan Papua mengemukakan keluh-kesahnya terkait pembangunan dan kondisi di Papua. Cayetanus juga mengemukakan tantangan penerimaan lingkungan saat di perantauan. Untuk itu menyarankan agar para pemuda Papua di perantauan harus mau bergaul dan berbaur dengan masuk sebuah organisasi di lingkungan kampus sesuai dengan minat masing.
Lihat Juga :