Kebutuhan Vaksin Corona dan Urgensi Kemandirian Indonesia
Kamis, 06 Agustus 2020 - 14:50 WIB
loading...
Bambang Soesatyo
A
A
A
Bambang Soesatyo
Ketua MPR RI/Wakil Ketua Umum, Kadin Indonesia
MENANGGAPI pandemi global Covid-19, aktivitas riset dan pengembangan oleh ilmuwan atau peneliti di seluruh dunia terus berjalan hingga hari ini, termasuk di Indonesia. Semua berupaya menemukan vaksin yang bisa menetralisir virus korona (SARS-CoV-2), penyebab sakit Covid-19. Karena permintaan dunia dipastikan sangat tinggi, Indonesia harus berupaya mandiri dalam pengadaan vaksin korona.
Karena berskala global, semua negara saat ini sangat butuh vaksin korona. Namun, vaksin itu hingga hari ini baru sampai pada tahap klaim telah ditemukan, tetapi belum diproduksi. Konsekuensinya, industri farmasi dunia didorong bisa menyediakan vaksin korona untuk kebutuhan 7,8 miliar warga bumi dalam waktu bersamaan. Bahkan, karena diasumsikan per orang butuh dua kali vaksinasi untuk mencapai level kekebalan kelompok (herd immunity), berarti kebutuhan rielnya lebih besar dari total populasi dunia. Seperti itulah gambaran permintaan vaksin corona pada skala global.
Kalau semua tahapan berjalan mulus, vaksin itu baru diproduksi dan tersedia tahun 2021, dengan volume produksi sekitar tiga (3) miliar dosis. Sejumlah negara yang akan memproduksi vaksin korona memang telah berkomitmen memenuhi permintaan semua negara. Namun, masih ada keraguan mengenai pemerataan distribusinya. Bahkan sudah muncul kecurigaan bahwasanya negara kaya akan memborong dan menguasai suplai vaksin, sebagaimana terjadi pada pandemi flu babi tahun 2009. Dilaporkan bahwa Amerika Serikat (AS), Inggris, Uni Eropa, dan Jepang telah memborong 1,3 miliar dosis bakal vaksin korona. AS, misalnya, mengalokasikan anggaran USD2,1 miliar untuk belanja vaksin korona produksi Sanofi dan GSK.
Dari pendataan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), disebutkan bahwa sudah ada 200 temuan vaksin korona yang diupayakan oleh para ilmuwan di sejumlah negara. Dari jumlah itu, banyak juga yang sudah sampai tahap uji klinis. Vaksin ini menjadi harapan bagi 18,5 juta pasien di seluruh dunia yang terinfeksi Covid-19, termasuk lebih dari 100.000 pasien di Indonesia. Hingga pekan ini, jumlah kematian akibat Covid-19 tercatat 700.489, dengan jumlah pasien sembuh hampir 10,9 juta. Perhitungan terbaru menyebutkan terjadi satu kematian setiap 15 detik akibat Covid-19.
Gambaran di atas plus data-data tersebut menyajikan dua kesimpulan. Pertama, banyak pasien Covid-19 sembuh, tetapi tidak sedikit yang meninggal. Jadi, jangan pernah sekali-kali meremehkan ancaman Covid-19. Kecenderungan terkini juga patut diwaspadai orang muda Indonesia. Sudah terbukti bahwa Covid-19 bisa menginfeksi orang muda. Beberapa pekan setelah sejumlah negara mengakhiri penguncian (lockdown), muncul kecenderungan baru. Komunitas orang muda yang dinamis justru menjadi klaster baru. Dan di beberapa negara, kasus-kasus baru justru lebih banyak muncul dari orang muda. Walau pun tidak mudah, WHO pun terus berusaha mengingatkan orang di seluruh dunia bahwa virus ini bisa menimbulkan risiko serius bagi kesehatan orang muda.
Kedua, keterbatasan volume produksi global pada tahap awal di tahun 2021 akan menyebabkan vaksin korona menjadi produk yang diperebutkan semua negara. Volume produksi awal diperkirakan tiga miliar dosis, sementara kebutuhan dunia pada saat yang sama diperkirakan tiga sampai empat kali lipat. Jika negara kaya sudah memborong hampir 50 persen dari volume produksi awal itu, penanganan pandemi Covid-19 di banyak negara akan sulit mencatat kemajuan. Apalagi di negara-negara dengan tambahan jumlah kasus baru yang selalu tinggi, terutama di kawasan Amerika Selatan yang kini telah menjadi episentrum virus korona. Belum lagi kawasan Afrika yang mulai menunjukan percepatan tambahan kasus baru.
Ketua MPR RI/Wakil Ketua Umum, Kadin Indonesia
MENANGGAPI pandemi global Covid-19, aktivitas riset dan pengembangan oleh ilmuwan atau peneliti di seluruh dunia terus berjalan hingga hari ini, termasuk di Indonesia. Semua berupaya menemukan vaksin yang bisa menetralisir virus korona (SARS-CoV-2), penyebab sakit Covid-19. Karena permintaan dunia dipastikan sangat tinggi, Indonesia harus berupaya mandiri dalam pengadaan vaksin korona.
Karena berskala global, semua negara saat ini sangat butuh vaksin korona. Namun, vaksin itu hingga hari ini baru sampai pada tahap klaim telah ditemukan, tetapi belum diproduksi. Konsekuensinya, industri farmasi dunia didorong bisa menyediakan vaksin korona untuk kebutuhan 7,8 miliar warga bumi dalam waktu bersamaan. Bahkan, karena diasumsikan per orang butuh dua kali vaksinasi untuk mencapai level kekebalan kelompok (herd immunity), berarti kebutuhan rielnya lebih besar dari total populasi dunia. Seperti itulah gambaran permintaan vaksin corona pada skala global.
Kalau semua tahapan berjalan mulus, vaksin itu baru diproduksi dan tersedia tahun 2021, dengan volume produksi sekitar tiga (3) miliar dosis. Sejumlah negara yang akan memproduksi vaksin korona memang telah berkomitmen memenuhi permintaan semua negara. Namun, masih ada keraguan mengenai pemerataan distribusinya. Bahkan sudah muncul kecurigaan bahwasanya negara kaya akan memborong dan menguasai suplai vaksin, sebagaimana terjadi pada pandemi flu babi tahun 2009. Dilaporkan bahwa Amerika Serikat (AS), Inggris, Uni Eropa, dan Jepang telah memborong 1,3 miliar dosis bakal vaksin korona. AS, misalnya, mengalokasikan anggaran USD2,1 miliar untuk belanja vaksin korona produksi Sanofi dan GSK.
Dari pendataan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), disebutkan bahwa sudah ada 200 temuan vaksin korona yang diupayakan oleh para ilmuwan di sejumlah negara. Dari jumlah itu, banyak juga yang sudah sampai tahap uji klinis. Vaksin ini menjadi harapan bagi 18,5 juta pasien di seluruh dunia yang terinfeksi Covid-19, termasuk lebih dari 100.000 pasien di Indonesia. Hingga pekan ini, jumlah kematian akibat Covid-19 tercatat 700.489, dengan jumlah pasien sembuh hampir 10,9 juta. Perhitungan terbaru menyebutkan terjadi satu kematian setiap 15 detik akibat Covid-19.
Gambaran di atas plus data-data tersebut menyajikan dua kesimpulan. Pertama, banyak pasien Covid-19 sembuh, tetapi tidak sedikit yang meninggal. Jadi, jangan pernah sekali-kali meremehkan ancaman Covid-19. Kecenderungan terkini juga patut diwaspadai orang muda Indonesia. Sudah terbukti bahwa Covid-19 bisa menginfeksi orang muda. Beberapa pekan setelah sejumlah negara mengakhiri penguncian (lockdown), muncul kecenderungan baru. Komunitas orang muda yang dinamis justru menjadi klaster baru. Dan di beberapa negara, kasus-kasus baru justru lebih banyak muncul dari orang muda. Walau pun tidak mudah, WHO pun terus berusaha mengingatkan orang di seluruh dunia bahwa virus ini bisa menimbulkan risiko serius bagi kesehatan orang muda.
Kedua, keterbatasan volume produksi global pada tahap awal di tahun 2021 akan menyebabkan vaksin korona menjadi produk yang diperebutkan semua negara. Volume produksi awal diperkirakan tiga miliar dosis, sementara kebutuhan dunia pada saat yang sama diperkirakan tiga sampai empat kali lipat. Jika negara kaya sudah memborong hampir 50 persen dari volume produksi awal itu, penanganan pandemi Covid-19 di banyak negara akan sulit mencatat kemajuan. Apalagi di negara-negara dengan tambahan jumlah kasus baru yang selalu tinggi, terutama di kawasan Amerika Selatan yang kini telah menjadi episentrum virus korona. Belum lagi kawasan Afrika yang mulai menunjukan percepatan tambahan kasus baru.