Pemilu 2024, Ikatan Sarjana Katolik Berharap Tak Ada Ujaran Kebencian
Minggu, 29 Oktober 2023 - 23:12 WIB
loading...
A
A
A
Sedangkan dalam melihat kemungkinan adanya penyebaran berita bohong dan hoaks sebanyak 38,5 persen responden menyatakan mungkin terjadi dan sejumlah 38,1 persen menyatakan sangat mungkin terjadi.
"Terkait ujaran kebencian juga terdapat prosentase yang cukup tinggi, sebesar 30,5 persen menilai sangat mungkin terjadi ujaran kebecian. Serta sejumlah 32,5 persen lainnya menyatakan mungkin terjadinya ujaran kebencian," ujar Agus Mulyono, Sekum Iska DPD DKI Jakarta yang juga peneliti dari riset ini.
"Pesimisme terhadap proses selama kampanye tak bisa dilepaskan dari proses dua kampanye terakhir pada 2014 dan 2019. Proses politik yang melahirkan polaritas sebagai dampak marketing politik para kandidat telah membuat luka dan trauma politik pada kelompok minoritas seperti komunitas umat katolik di DKI Jakarta," Imbuhnya.
Agus menjelaskan, polarisasi tersebut merupakan strategi marketing politik yang sengaja dilakukan oleh masing-masing pihak. Menurutnya pembelahan tersebut perlu dilakukan untuk membuat jarak pembeda antar kandidat sehingga pemilih mampu terbentuk loyalitas yang kuat.
Strategi marketing tersebut dilakukan untuk memastikan adanya Brand Differentiation dan Brand Loyalty dari masing-masing kandidat. "Semakin tinggi brand differentiation dan brand loyalty pada masing-masing kandidat maka potensi untuk mendapatkan pemilih yang loyal semakin tinggi," ungkap Agus.
"Pada upaya membangun hal tersebut konten yang bernuasa ujaran kebencian dan berita bohong diproduksi oleh para marketer politik ini," jelasnya.
Meskipun pesimisme terhadap proses kampanye pilpres masih cukup tinggi, namun optimisme terhadap kandidat masih sangat baik. Optimisme terhadap nama-nama kandidat presiden yang beredar sebelum penetapan terlihat cukup baik.
"Terkait ujaran kebencian juga terdapat prosentase yang cukup tinggi, sebesar 30,5 persen menilai sangat mungkin terjadi ujaran kebecian. Serta sejumlah 32,5 persen lainnya menyatakan mungkin terjadinya ujaran kebencian," ujar Agus Mulyono, Sekum Iska DPD DKI Jakarta yang juga peneliti dari riset ini.
"Pesimisme terhadap proses selama kampanye tak bisa dilepaskan dari proses dua kampanye terakhir pada 2014 dan 2019. Proses politik yang melahirkan polaritas sebagai dampak marketing politik para kandidat telah membuat luka dan trauma politik pada kelompok minoritas seperti komunitas umat katolik di DKI Jakarta," Imbuhnya.
Agus menjelaskan, polarisasi tersebut merupakan strategi marketing politik yang sengaja dilakukan oleh masing-masing pihak. Menurutnya pembelahan tersebut perlu dilakukan untuk membuat jarak pembeda antar kandidat sehingga pemilih mampu terbentuk loyalitas yang kuat.
Strategi marketing tersebut dilakukan untuk memastikan adanya Brand Differentiation dan Brand Loyalty dari masing-masing kandidat. "Semakin tinggi brand differentiation dan brand loyalty pada masing-masing kandidat maka potensi untuk mendapatkan pemilih yang loyal semakin tinggi," ungkap Agus.
"Pada upaya membangun hal tersebut konten yang bernuasa ujaran kebencian dan berita bohong diproduksi oleh para marketer politik ini," jelasnya.
Meskipun pesimisme terhadap proses kampanye pilpres masih cukup tinggi, namun optimisme terhadap kandidat masih sangat baik. Optimisme terhadap nama-nama kandidat presiden yang beredar sebelum penetapan terlihat cukup baik.
Lihat Juga :