Cegah Radikalisme, Perempuan Berperan Tentukan Pola Pikir Keluarga
Kamis, 07 September 2023 - 15:16 WIB
loading...
A
A
A
"Bayangkan kalau para ibu dan anak-anaknya terlibat aksi-aksi begini, tentu semakin mengerikan nasib bangsa," katanya.
Ruby berpendapat, sejatinya dalam penanganan konflik maupun pencegahan radikal terorisme, kaum perempuan juga perlu dilibatkan. Meski masih ada yang menganggap sebelah mata, tapi perempuan dinilai memiliki naluri tersendiri dalam mendeteksi dini perubahan sosial di lingkungannya.
Menurut perwakilan Asian Muslim Action Network (AMAN) di Indonesia ini, kaum ibu dapat memberikan data dan fakta karena terlibat dalam banyak hal di lingkungannya. Misalnya mengurus posyandu, lansia, anak anak, kebersihan dan aktivitas lainnya. Jika ada sesuatu hal yang tidak wajar, maka ibu-ibu dapat memberikan rekomendasi untuk mengambil keputusan dalam konteks menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungannya.
"Ketika ada fenomena di mana ada sekelompok orang mempengaruhi dengan cara-cara tertentu menjauhkan dari nilai-nilai di masyarakat yang guyub saling membantu dan sebagainya itu menjadi eksklusif. Nah itu biasanya perempuan sangat tahu," kata Ruby.
Untuk membangun kemampuan tersebut, maka dibutuhkan pembelajaran dan peningkatan keahlian bagi perempuan. Salah satunya membangun cara pikir atau berpikir kritis. Hal ini berhubungan dengan kemampuan memahami hak, dan kemampuan menganalisa, sehingga seorang perempuan peka terhadap sekitar, mampu mengindentifikasi dan menyelesaikan konflik. Jangan sampai perempuan tersebut malah menjadi eskalator konflik itu sendiri.
Ruby berpendapat, sejatinya dalam penanganan konflik maupun pencegahan radikal terorisme, kaum perempuan juga perlu dilibatkan. Meski masih ada yang menganggap sebelah mata, tapi perempuan dinilai memiliki naluri tersendiri dalam mendeteksi dini perubahan sosial di lingkungannya.
Menurut perwakilan Asian Muslim Action Network (AMAN) di Indonesia ini, kaum ibu dapat memberikan data dan fakta karena terlibat dalam banyak hal di lingkungannya. Misalnya mengurus posyandu, lansia, anak anak, kebersihan dan aktivitas lainnya. Jika ada sesuatu hal yang tidak wajar, maka ibu-ibu dapat memberikan rekomendasi untuk mengambil keputusan dalam konteks menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungannya.
"Ketika ada fenomena di mana ada sekelompok orang mempengaruhi dengan cara-cara tertentu menjauhkan dari nilai-nilai di masyarakat yang guyub saling membantu dan sebagainya itu menjadi eksklusif. Nah itu biasanya perempuan sangat tahu," kata Ruby.
Untuk membangun kemampuan tersebut, maka dibutuhkan pembelajaran dan peningkatan keahlian bagi perempuan. Salah satunya membangun cara pikir atau berpikir kritis. Hal ini berhubungan dengan kemampuan memahami hak, dan kemampuan menganalisa, sehingga seorang perempuan peka terhadap sekitar, mampu mengindentifikasi dan menyelesaikan konflik. Jangan sampai perempuan tersebut malah menjadi eskalator konflik itu sendiri.
Lihat Juga :