Denny JA: Jumlah Pemilih Partai Islam Terus Menurun Setiap Pemilu
Rabu, 06 September 2023 - 15:46 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Partai Islam yang Lolos sebagai Peserta Pemilu 2024, Nomor Terakhir Pendatang Baru
Sementara, pemilih partai nasionalis terus bertambah tinggi. Berdasarkan data LSI Denny JA, pada Pemilu 1955, jumlah pemilih partai nasionalis adalah 56,10%. Partai nasionalis kala itu adalah PNI, PKI, PSI, dan lainnya.
Lalu, pada Pemilu 2019, total pemilih partai nasionalis jumlahnya menjadi 70,24%. Partai nasionalis saat ini adalah PDIP, Partai Golkar, Partai Gerindra, Partai Nasdem, dan Partai Demokrat. Selanjutnya, menurut survey LSI Denny JA Agustus 2023, total pemilih nasional mencapai 76,90%.
“Salah satu penyebab menurunnya jumlah pemilih partai Islam adalah karena sejak era Orde Baru sudah diterapkan azas tunggal Pancasila. Pancasila kala itu disosialisasikan secara massif dan sistematis selama bertahun-tahun,” katanya.
Akibatnya, kata Denny, terbentuklah kultur politik yang baru, walaupun dia seorang Muslim, majority politiknya sangat kental diwarnai oleh keindonesiaan, nasionalisme, dan kebinekaan. “Akibatnya pula, platform politik ini justru lebih banyak diberikan oleh partai-partai nasional. Itulah sebabnya, mengapa negara mayoritas Muslim terbesar, seperti Indonesia, potensi Islam justru menurun,” ungkap Denny
Sementara, pemilih partai nasionalis terus bertambah tinggi. Berdasarkan data LSI Denny JA, pada Pemilu 1955, jumlah pemilih partai nasionalis adalah 56,10%. Partai nasionalis kala itu adalah PNI, PKI, PSI, dan lainnya.
Lalu, pada Pemilu 2019, total pemilih partai nasionalis jumlahnya menjadi 70,24%. Partai nasionalis saat ini adalah PDIP, Partai Golkar, Partai Gerindra, Partai Nasdem, dan Partai Demokrat. Selanjutnya, menurut survey LSI Denny JA Agustus 2023, total pemilih nasional mencapai 76,90%.
“Salah satu penyebab menurunnya jumlah pemilih partai Islam adalah karena sejak era Orde Baru sudah diterapkan azas tunggal Pancasila. Pancasila kala itu disosialisasikan secara massif dan sistematis selama bertahun-tahun,” katanya.
Akibatnya, kata Denny, terbentuklah kultur politik yang baru, walaupun dia seorang Muslim, majority politiknya sangat kental diwarnai oleh keindonesiaan, nasionalisme, dan kebinekaan. “Akibatnya pula, platform politik ini justru lebih banyak diberikan oleh partai-partai nasional. Itulah sebabnya, mengapa negara mayoritas Muslim terbesar, seperti Indonesia, potensi Islam justru menurun,” ungkap Denny
(cip)
Lihat Juga :