Kenapa Kualitas Udara Jakarta, Banten, Jabar, dan Kalbar Tak Sehat? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Jum'at, 18 Agustus 2023 - 08:05 WIB
loading...
Kenapa Kualitas Udara...
Suasana gedung bertingkat tertutup kabut polusi udara di Jakarta, Jumat (11/8/2023). Foto/Isra Triansyah
A A A
JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG ) mengeluarkan prediksi kualitas udara tidak sehat di Indonesia. BMKG mengungkapkan kualitas udara di DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat (Jabar), dan Kalimantan Barat (Kalbar) pada 18 Agustus 2023 masuk kategori tidak sehat.

“Prediksi kualitas udara berdasarkan konsentrasi PM2.5 menunjukkan terdapat beberapa kabupaten/kota yang mencapai konsentrasi PM2.5 kategori tidak sehat. Beberapa daerah tersebut berada di Provinsi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Kalimantan Barat,” ungkap BMKG dalam keterangan resminya, dikutip Jumat (18/8/2023).

Diketahui, PM2.5 merupakan partikel udara yang berukuran lebih kecil dari atau sama dengan 2.5 µ (mikrometer). Berbagai material yang terkandung dalam PM2.5 ini dapat menyebabkan berbagai gangguan saluran pernapasan seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), kanker paru- paru, kardiovaskular, kematian dini, dan penyakit paru-paru obstruktif kronis.

Kenapa Kualitas Udara Jakarta, Banten, Jabar, dan Kalbar Tak Sehat? Ini Penjelasan Ilmiahnya


Baca juga: Jokowi Dorong Pelaksanaan WFH hingga Rekayasa Cuaca Perbaiki Kualitas Udara di Jabodetabek



Sementara itu, BMKG menentukan tingkat kualitas udara berdasarkan pengukuran konsentrasi PM2.5 di udara. BMKG terus memantau konsentrasi PM2.5 di 27 lokasi di Indonesia dengan karakter yang berbeda.

BMKG menjelaskan perbedaan kabut uap air atau kabut polutan. Pasalnya, saat ini di langit Jakarta khususnya tampak fenomena langit tampak berkabut, keruh dan gedung-gedung tidak tampak secara jelas.

Kenapa Kualitas Udara Jakarta, Banten, Jabar, dan Kalbar Tak Sehat? Ini Penjelasan Ilmiahnya


Jarak pandang (visibility) berkurang pada jam-jam tertentu. BMKG menjelaskan kabut adalah fenomena atmosfer di mana udara tampak keruh dan jarak pandang menjadi berkurang akibat hamburan sinar matahari oleh partikel- partikel yang terkandung dalam udara saat itu.

Dalam meteorologi, kabut dibedakan menjadi 3, yaitu Fog, Mist, dan Haze. Kabut uap air, kata BMKG merupakan fenomena kabut yang disebabkan oleh titik-titik air (water droplets). “Apabila jarak pandang <1 km maka disebut Fog, dan apabila >1 km maka disebut dengan Mist,” ungkapnya.

BMKG menjelaskan kabut polutan merupakan fenomena kabut yang disebabkan oleh endapan partikel kering di udara atau partikel polutan (bukan merupakan titik-titik air). Partikel tersebut tidak bisa dilihat dengan mata telanjang, namun membuat udara tampak keruh (tidak tembus pandang). Fenomena ini disebut dengan Haze.

BMKG mengatakan keberadaan kabut dekat permukaan sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca saat itu berupa suhu udara, curah hujan, dan lapisan inversi dekat permukaan. “Kabut polutan umumnya terjadi apabila konsentrasi polutan meningkat dengan kondisi cuaca yang mendukung (musim kemarau, hari tidak hujan cukup lama, adanya lapisan inversi,” jelasnya.
(rca)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pantau Badai Monsun...
Pantau Badai Monsun di Teluk Benggala, BMKG Ungkap Dampaknya ke Indonesia
Bantah Isu Kemarau 2026...
Bantah Isu Kemarau 2026 Terparah Sepanjang 30 Tahun, Ini Penjelasan BMKG
BMKG Bakal Pantau Hilal...
BMKG Bakal Pantau Hilal di 37 Titik, Potensi Teramatinya Hilal Kecil
BMKG Prediksi Cuaca...
BMKG Prediksi Cuaca saat Lebaran Berawan hingga Hujan Lebat
DPR Minta Prediksi BMKG...
DPR Minta Prediksi BMKG soal Musim Kemarau 2026 Disikapi Serius Pemerintah
Musim Kemarau 2026 Datang...
Musim Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, BMKG: Puncaknya di Agustus
Warga Jakarta Bangun...
Warga Jakarta Bangun Gerakan Bersama Perangi Polusi Udara
Ilmuwan Mengembangkan...
Ilmuwan Mengembangkan Jaket Penghasil Air dari Udara Sekitar
BMKG Ingatkan Dampak...
BMKG Ingatkan Dampak El Nino, Ancaman Karhutla dan Kekeringan Mengintai
Rekomendasi
B50 Mulai Berjalan 1...
B50 Mulai Berjalan 1 Juli 2026, Harga Solar Dipastikan Tidak Berubah
Polytron Wujudkan Desain...
Polytron Wujudkan Desain Pemenang FOX Berkreasik: Dari Konsep Basket hingga Sneaker Culture
Satgas PRR Aceh Minta...
Satgas PRR Aceh Minta BPJN-Pemda Bangun Komunikasi dengan Warga Enang-Enang
Berita Terkini
Mensesneg Sebut Prabowo...
Mensesneg Sebut Prabowo Monitor Kasus 3 Calon Manajer Kopdes dan Kampung Nelayan Meninggal
Penyidik KPK Limpahkan...
Penyidik KPK Limpahkan Berkas Perkara Budiman Bayu Prasojo Tersangka Bea Cukai ke JPU
Citra Positif Polri...
Citra Positif Polri Meningkat, Pakar: Masyarakat Rasakan Perubahan Kinerja Kepolisian
Perang Iran 2026: Akhir...
Perang Iran 2026: Akhir Pertempuran, Awal Perebutan Kemenangan
PHK Massal Berisiko...
PHK Massal Berisiko Gerus Kelas Menengah, Sekjen Perindo Ferry Kurnia Dorong Insentif Dunia Usaha
Menkomdigi Meutya Hafid:...
Menkomdigi Meutya Hafid: 4,7 Juta Akun Anak di TikTok dan YouTube Dinonaktifkan
Infografis
Pakistan dan India Berperang,...
Pakistan dan India Berperang, Kenapa China yang Menang?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved