Yenny Wahid Pusing Baca Tanggapan Jansen Sitindaon: Muter-muter Kayak Tong Setan di Pasar Malam
Minggu, 13 Agustus 2023 - 05:14 WIB
loading...
A
A
A
Dia mempersilakan siapa pun yang selama ini berada dan ikut di rezim saat ini mendukung lanjutkan. “Kami yang di luar mengusung perubahan. Biar nanti rakyat yang menentukan di pemilu siapa yang menang dan mendapat dukungan terbanyak,” tuturnya.
Jansen mengakui dapat memahami karena yang jadi perhatian saat ini adalah soal pengisian posisi cawapres. “Karena tinggal ini yang kosong dan Koalisi Perubahan ini juga sudah cukup syarat berlayar 20 persen. Tentulah banyak peminat dari luar sana yang merasa dirinya pantas dan ingin mengisi posisi itu,” ucapnya.
“Jadi bagi para peminat, jika diri Anda selama ini tidak merepresentasikan perubahan, apalagi jadi bagian dan ikut menikmati rezim ini, saya pribadi berharap Anda cari koalisi lain saja jika mau jadi cawapres. Saya pribadi akan menentang Anda, minimal di rapat-rapat di partai saya Demokrat yang adalah pemegang 9,3 % (persen) dalam Koalisi Perubahan ini,” katanya.
“Soal apakah pendapat saya itu akan menang atau kalah, tidak terlalu penting buat saya. Penting saya akan bersuara menentang dan menolak Anda yang tidak merepresentasikan perubahan namun ingin jadi cawapres di koalisi ini. Selamat menuju pemilu untuk kita semua. NB: tulisan ini adalah pendapat pribadi saya,” pungkasnya.
Cuitan Jansen tersebut ditanggapi oleh Yenny Wahid. “Saya enggak pernah nyodorin diri jadi cawapres Mas Anies lho. Saya cuma merespons lamaran yang datang. Justru saya mendukung Mas AHY jadi cawapres Mas Anies. Kalau situ belum apa2 udah menolak saya, pas bossmu butuh dukungan, saya emoh lho,” cuit Yenny Wahid dengan emoji tertawa.
Jawaban Yenny Wahid tersebut kemudian ditimpali oleh Jansen. “Hehe. Ampunn Mbakk,” cuit Jansen dengan emoji tertawa.
“Kalau soal dukung mendukung siapa, karena perbebatan ini terkait politik dan pemilu besok, ya kembali pada sikap, keyakinan, dan pilihan jenengan Mbak,” tambah Jansen.
Dia menilai idealnya cawapres pendamping Anies bukan bagian dari rezim sepanjang nama koalisi Partai Demokrat, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan Partai Nasdem adalah Koalisi Perubahan. Jansen mengatakan, nama koalisi itu sejalan dengan hasil Rapimnas Partai Demokrat 2022 yang menghasilkan keputusan tentang Perubahan dan Perbaikan sebagai agenda politik partainya di Pemilu 2024.
Jansen mengakui dapat memahami karena yang jadi perhatian saat ini adalah soal pengisian posisi cawapres. “Karena tinggal ini yang kosong dan Koalisi Perubahan ini juga sudah cukup syarat berlayar 20 persen. Tentulah banyak peminat dari luar sana yang merasa dirinya pantas dan ingin mengisi posisi itu,” ucapnya.
“Jadi bagi para peminat, jika diri Anda selama ini tidak merepresentasikan perubahan, apalagi jadi bagian dan ikut menikmati rezim ini, saya pribadi berharap Anda cari koalisi lain saja jika mau jadi cawapres. Saya pribadi akan menentang Anda, minimal di rapat-rapat di partai saya Demokrat yang adalah pemegang 9,3 % (persen) dalam Koalisi Perubahan ini,” katanya.
“Soal apakah pendapat saya itu akan menang atau kalah, tidak terlalu penting buat saya. Penting saya akan bersuara menentang dan menolak Anda yang tidak merepresentasikan perubahan namun ingin jadi cawapres di koalisi ini. Selamat menuju pemilu untuk kita semua. NB: tulisan ini adalah pendapat pribadi saya,” pungkasnya.
Cuitan Jansen tersebut ditanggapi oleh Yenny Wahid. “Saya enggak pernah nyodorin diri jadi cawapres Mas Anies lho. Saya cuma merespons lamaran yang datang. Justru saya mendukung Mas AHY jadi cawapres Mas Anies. Kalau situ belum apa2 udah menolak saya, pas bossmu butuh dukungan, saya emoh lho,” cuit Yenny Wahid dengan emoji tertawa.
Jawaban Yenny Wahid tersebut kemudian ditimpali oleh Jansen. “Hehe. Ampunn Mbakk,” cuit Jansen dengan emoji tertawa.
“Kalau soal dukung mendukung siapa, karena perbebatan ini terkait politik dan pemilu besok, ya kembali pada sikap, keyakinan, dan pilihan jenengan Mbak,” tambah Jansen.
Dia menilai idealnya cawapres pendamping Anies bukan bagian dari rezim sepanjang nama koalisi Partai Demokrat, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan Partai Nasdem adalah Koalisi Perubahan. Jansen mengatakan, nama koalisi itu sejalan dengan hasil Rapimnas Partai Demokrat 2022 yang menghasilkan keputusan tentang Perubahan dan Perbaikan sebagai agenda politik partainya di Pemilu 2024.
Lihat Juga :