Dahsyat! Jenderal Kopassus Ini Andalkan Perang Psikologis untuk Lumpuhkan Ratusan Anggota GAM
Minggu, 23 Juli 2023 - 05:00 WIB
loading...
A
A
A
"Tapi aku juga ngomong, Din, aku bertiga bawa senjata enggak apa-apakan? itu semuanya saya declare aja, supaya dia paham macam-macam, kamu mati juga, kira-kira begitu. Saya bilang sama mereka jangan konyol," ujar Sutiyoso.
Dialog berlangsung cukup lama dan alot hingga akhirnya Din Minimi menyerah dan bersedia kembali ke pangkutan Ibu Pertiwi.
"Jam 5 pagi dia baru final menyerah. Walaupun dia kaku tapi sempat bilang kepada anak buahnya untuk menyerah. Kemudian 10 orang mambawa senjata 60 senjata, diserahkan langsung ke Jakarta diantar bupatinya," kata Sutiyoso.
Senjata yang dimiliki kelompok Din Minimi, kata Sutiyoso, merupakan peninggalan sisa-sisa konflik dahulu karena masih ada senjata yang belum diserahkan. Tidak menutup kemungkinan senjata yang diselundupkan dari perbatasan.
"Karena saya pernah tugas 10 bulan tahun 1978 dulu ya, mengawasi pantai utara itu amat sulit, tidak tercover. (senjata) bisa dari Thailand, bisa dari Filipina," ujarnya.
Kemampuan Sutiyoso melumpuhkan Din Minimi tanpa sebutir peluru meletus dan jatuh korban jiwa menunjukkan lulusan Akmil 1968 tersebut sebagai sosok pemberani yang berhati nurani. Din Minimi pun sangat menghormati Sutiyoso.
"Waktu penyerahan senjata terakhir, Bang Din (Din Minimi) menangis. Dia memeluk Pak Sutiyoso dan mengatakan, 'Pak Sutiyoso, jangan tinggalkan saya, Pak," ujar Ketua Aceh Human Foundation (AHF) Abdul Hadi menirukan ucapan Din Minimi.
Dialog berlangsung cukup lama dan alot hingga akhirnya Din Minimi menyerah dan bersedia kembali ke pangkutan Ibu Pertiwi.
"Jam 5 pagi dia baru final menyerah. Walaupun dia kaku tapi sempat bilang kepada anak buahnya untuk menyerah. Kemudian 10 orang mambawa senjata 60 senjata, diserahkan langsung ke Jakarta diantar bupatinya," kata Sutiyoso.
Senjata yang dimiliki kelompok Din Minimi, kata Sutiyoso, merupakan peninggalan sisa-sisa konflik dahulu karena masih ada senjata yang belum diserahkan. Tidak menutup kemungkinan senjata yang diselundupkan dari perbatasan.
"Karena saya pernah tugas 10 bulan tahun 1978 dulu ya, mengawasi pantai utara itu amat sulit, tidak tercover. (senjata) bisa dari Thailand, bisa dari Filipina," ujarnya.
Kemampuan Sutiyoso melumpuhkan Din Minimi tanpa sebutir peluru meletus dan jatuh korban jiwa menunjukkan lulusan Akmil 1968 tersebut sebagai sosok pemberani yang berhati nurani. Din Minimi pun sangat menghormati Sutiyoso.
"Waktu penyerahan senjata terakhir, Bang Din (Din Minimi) menangis. Dia memeluk Pak Sutiyoso dan mengatakan, 'Pak Sutiyoso, jangan tinggalkan saya, Pak," ujar Ketua Aceh Human Foundation (AHF) Abdul Hadi menirukan ucapan Din Minimi.
(abd)
Lihat Juga :