Sihir yang Cantik
Sabtu, 24 Juni 2023 - 12:06 WIB
loading...
A
A
A
“Tengah malam, sebuah mobil produksi Eropa berjungkir balik beberapa kali sebelum berhenti dengan menabrak pembatas jalan hanya beberapa puluh meter di depan bengkel tambal bannya. Semua penumpangnya mati. Anehnya, hantu-hantu mereka langsung duduk manis di hadapannya justru sebelum dia sempat berdiri untuk menghampiri tempat kejadian itu.” (Hantu dan Tukang Tambal Ban, halaman 104)
Tidak ada kesan jenaka di bagian itu sampai kita bertemu dengan kata ‘duduk manis’ yang membuyarkan seluruh kesan horor yang sejak awal terbangun. Belum lagi percakapan Karman dan sang hantu cantik yang mungkin membuat kita bertanya-tanya: apakah hantu memang seramah itu?
Ego manusia memang sumber konflik. AK Basuki tidak luput membawa tema itu seperti dalam cerpen Tali Sepatu. Ya, ini cerita tentang seutas tali yang biasa-biasa saja, bahkan cenderung buruk rupa karena termakan kondisi. Namun, bukan AK BAsuki jika tidak bisa membuat benda biasa menjadi luar biasa. Ia membuat tali itu bertuah: mampu mengusir rasa lapar dan raja hutan.
baca juga: Buku-Buku Terlarang Abad 21, Da Vinci Code Terjual 80 Juta Copy
“Lalu harimau itu, aku pun sebenarnya hilang akal dan hanya melakukan apa yang ada di pikiranku saja. Jika akhirnya pergi, mungkin karena dia memang tidak lapar atau malah baru saja mengudap babi hutan.” (Tali Sepatu, halaman 158)
“Benda seperti tali sepatu dalam perut saya ini hanyalah sebuah benda. Manusialah yang membuatnya jadi ajaib dengan menghubung-hubungkan setiap kemungkinan dan mengesampingkan pelajaran logis yang sebenarnya ada dalam setiap kejadian.” (Tali Sepatu, halaman 159)
Dari dua kutipan itu sudah jelas, bahwa pikiran manusia begitu kuat hingga mampu mengaburkan realitas dan membuat segala hal tambah rumit.
Yang Berputar-putar di Otak Kita
Seperti ungkapan “… beribadah dengan dengan akal budimu!” yang tertulis di halaman 247, kita pun harus pandai membaca dengan akal budi. Dan, kita pun tahu, membaca di sini bukan melulu tulisan, tetapi juga situasi.
Bicara soal membaca, ketika menengok daftar isi, saya cukup terkejut. Mungkin Anda juga akan mengalami hal yang sama. Atau mungkin juga tidak terkejut, mengingat judul buku ini saja sudah memberi tahu isinya. Yap, something magical―sesuatu yang ajaib. Dan, betulan ajaib. Sebab, dari sebagian judul yang beraroma horor, ternyata meninggalkan sesuatu yang benar-benar lain ketika selesai membacanya. Beberapa lainnya mungkin akan membuat Anda senyum-senyum sendiri, atau malah tertawa terbahak-bahak seperti yang saya alami.
Anda mungkin juga akan segera tahu bahwa sejatinya penulis tidak bermaksud menakut-nakuti. Aroma horor dan seram memang tetap menggantung di udara, tetapi tidak membuat Anda lantas tersesat. Saya berani jamin itu
Sasti Gotama dalam pengantarnya mengatakan bahwa ini adalah jenis ketersesatan yang membuat pembaca tidak tersesat. Bagi saya, ini humor yang tidak diniatkan awalnya untuk membuat pembaca tertawa. Akan tetapi, itu terjadi. Kalaupun tidak terbahak-bahak, lengkung senyum mestilah terbit.
baca juga: Buku dan Kertas Berlalu
Tidak ada kesan jenaka di bagian itu sampai kita bertemu dengan kata ‘duduk manis’ yang membuyarkan seluruh kesan horor yang sejak awal terbangun. Belum lagi percakapan Karman dan sang hantu cantik yang mungkin membuat kita bertanya-tanya: apakah hantu memang seramah itu?
Ego manusia memang sumber konflik. AK Basuki tidak luput membawa tema itu seperti dalam cerpen Tali Sepatu. Ya, ini cerita tentang seutas tali yang biasa-biasa saja, bahkan cenderung buruk rupa karena termakan kondisi. Namun, bukan AK BAsuki jika tidak bisa membuat benda biasa menjadi luar biasa. Ia membuat tali itu bertuah: mampu mengusir rasa lapar dan raja hutan.
baca juga: Buku-Buku Terlarang Abad 21, Da Vinci Code Terjual 80 Juta Copy
“Lalu harimau itu, aku pun sebenarnya hilang akal dan hanya melakukan apa yang ada di pikiranku saja. Jika akhirnya pergi, mungkin karena dia memang tidak lapar atau malah baru saja mengudap babi hutan.” (Tali Sepatu, halaman 158)
“Benda seperti tali sepatu dalam perut saya ini hanyalah sebuah benda. Manusialah yang membuatnya jadi ajaib dengan menghubung-hubungkan setiap kemungkinan dan mengesampingkan pelajaran logis yang sebenarnya ada dalam setiap kejadian.” (Tali Sepatu, halaman 159)
Dari dua kutipan itu sudah jelas, bahwa pikiran manusia begitu kuat hingga mampu mengaburkan realitas dan membuat segala hal tambah rumit.
Yang Berputar-putar di Otak Kita
Seperti ungkapan “… beribadah dengan dengan akal budimu!” yang tertulis di halaman 247, kita pun harus pandai membaca dengan akal budi. Dan, kita pun tahu, membaca di sini bukan melulu tulisan, tetapi juga situasi.
Bicara soal membaca, ketika menengok daftar isi, saya cukup terkejut. Mungkin Anda juga akan mengalami hal yang sama. Atau mungkin juga tidak terkejut, mengingat judul buku ini saja sudah memberi tahu isinya. Yap, something magical―sesuatu yang ajaib. Dan, betulan ajaib. Sebab, dari sebagian judul yang beraroma horor, ternyata meninggalkan sesuatu yang benar-benar lain ketika selesai membacanya. Beberapa lainnya mungkin akan membuat Anda senyum-senyum sendiri, atau malah tertawa terbahak-bahak seperti yang saya alami.
Anda mungkin juga akan segera tahu bahwa sejatinya penulis tidak bermaksud menakut-nakuti. Aroma horor dan seram memang tetap menggantung di udara, tetapi tidak membuat Anda lantas tersesat. Saya berani jamin itu
Sasti Gotama dalam pengantarnya mengatakan bahwa ini adalah jenis ketersesatan yang membuat pembaca tidak tersesat. Bagi saya, ini humor yang tidak diniatkan awalnya untuk membuat pembaca tertawa. Akan tetapi, itu terjadi. Kalaupun tidak terbahak-bahak, lengkung senyum mestilah terbit.
baca juga: Buku dan Kertas Berlalu
Lihat Juga :