Pemerintah Perlu Gaungkan Narasi Positif untuk Imbangi Isu People Power

Kamis, 22 Juni 2023 - 21:01 WIB
loading...
Pemerintah Perlu Gaungkan...
Pakar Komunikasi Politik UPH Emrus Sihombing. FOTO/IST
A A A
JAKARTA - Istilah people power makin sering digaungkan oleh oposisi pemerintah menjelang Pemilu 2024. Pemerintah dinilai perlu menggaungkan narasi sebaliknya untuk mengimbangi gerakan tersebut.

Pakar Komunikasi Politik Universitas Pelita Harapan (UPH) Emrus Sihombing menjelaskan, istilah people power yang dipahami di beberapa negara berarti menggulingkan pemerintahan yang sah. Karena bersifat tidak konstruktif, gerakan people power bisa menimbulkan dampak jatuhnya korban jiwa.

"Seandainya ada kekurangan pemerintah, apa salahnya dikritik, didemo, atau diajak berdialog yang berbasis fakta, data, dan bukti. Tidak serta-merta melakukan people power dalam pengertian menggulingkan kekuasaan, karena konsekuensinya itu tidak baik dan berpotensi menabrak konstitusi," kata Emrus menanggapi adanya pertemuan bertajuk Rakyat Bertanya, Kapan People Power? di Kota Solo, Kamis (22/6/2023).

Baca juga: Kembali Ulas People Power, Amien Rais Bicara soal Buzzer

Ketidakpuasan kelompok terhadap pemerintah selalu dibarengi dengan narasi bahwa pemerintahan di bawah Presiden Joko Widodo (Jokowi) gagal dalam menyejahterakan rakyatnya. Menghadapi gerakan ini diperlukan narasi antitesisnya, yaitu seruan untuk mendukung pemerintah karena masyarakatnya bahagia, sejahtera, nyaman, dan tetap dalam kebhinekaan di bawah kepemimpinan presiden saat ini.

"Saya kira perlu juga digerakkan people power yang mendukung Pemerintah. Supaya pengertian people power ini tidak hanya dimaknai sebagai menurunkan pemerintah. Mari kita berdemo people power dengan kekuatan rakyat untuk mendukung pemerintah karena kinerjanya yang sangat luar biasa di bawah kepemimpinan Pak Joko Widodo," ujarnya.

Terkait politik identitas yang kerap menyertai narasi people power, Direktur Eksekutif Emrus Corner itu menegaskan, dalam segala hal, khususnya Pemilu, tidak boleh ada politik identitas. Menurutnya, manusia lahir sejak lahir memiliki identitas berbeda satu dengan lainnya.

"Dua manusia kembar ke bumi yang sama, pasti tidak sama identitasnya. Laki-laki dan perempuan, apakah identitasnya sama? Sesama perempuan saja punya identitas yang berbeda, apalagi dengan yang berbeda gendernya," katanya.

Menurut Emrus, orang yang mempertentangkan identitas, tidak paham tentang hakikat manusia. Sayangnya seruan people power dalam pengertian negatif, seringkali dibumbui dengan isu politik identitas yang sempit.

Emrus berharap kalangan oposisi pemerintah melahirkan tindakan rasional dan berwacana berdasarkan gagasan solutif, bukan memainkan politik identitas, sehingga bisa menjadi antitesis berkualitas.

Selain itu juga perlu ada pengelolaan informasi yang baik dari pemerintah, sehingga bisa menangkal sentimen negatif yang dimainkan kelompok tertentu. Salah satunya bisa dengan membentuk atau memperkuat suatu badan yang bertanggung jawab langsung di bawah Presiden untuk mengelola informasi yang beredar di ruang publik.

"Fungsinya adalah menjadi leading sector di bidang komunikasi. Jangan begitu ada isu kita baru meng-counter karena itu tidak efektif. Lebih baik kita menganalisa kemungkinan isu yang akan terjadi, bahkan sebelum isu itu muncul sudah bisa kita sampaikan kontra narasinya. Tujuannya agar manajemen komunikasi pemerintah menjadi leading sector, bukan menjadi ekor ataupun seperti pemadam kebakaran," katanya.

Ia menyayangkan bila masih ada tokoh dalam perpolitikan Indonesia yang cenderung membuat keruh suasana di masyarakat. Ia menganggap, justru yang dibutuhkan saat ini adalah pernyataan-pernyataan yang mempersatukan anak bangsa agar bisa menjawab tantangan dunia ke depannya.
(abd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Prabowo Singgung Pihak...
Prabowo Singgung Pihak Bikin Gaduh usai Pemilu: Kapan Kita Mau Menuju Kesejahteraan untuk Rakyat?
AHY: Oposisi Harus Konstruktif,...
AHY: Oposisi Harus Konstruktif, Tidak Boleh Memecah Belah Bangsa
PDIP Tegaskan Jadi Penyeimbang,...
PDIP Tegaskan Jadi Penyeimbang, Golkar: Entah Apa yang Diseimbangkan, Nanti Rakyat yang Menilai
PKB Minta PDIP Tegas...
PKB Minta PDIP Tegas soal Posisi terhadap Pemerintah: Jangan Abu-abu
Said Didu: Jangan Juga...
Said Didu: Jangan Juga Semua Orang Kritis Ditakut-takuti
Ubedilah Badrun Prediksi...
Ubedilah Badrun Prediksi PDIP Jadi Oposisi Total 1,5 Tahun sebelum Pemilu 2029
Jaksa Turki Tuntut Hukuman...
Jaksa Turki Tuntut Hukuman 2.430 Tahun Penjara untuk Wali Kota Istanbul Ekrem Imamoglu
Masih Tinggal di Persembunyian,...
Masih Tinggal di Persembunyian, Machado Terkejut Raih Hadiah Nobel Perdamaian
Profil Maria Corina...
Profil Maria Corina Machado, Wanita Pemberani Venezuela Peraih Hadiah Nobel Perdamaian
Rekomendasi
Lineker Semprot FIFA:...
Lineker Semprot FIFA: Hukuman Madibo Tak Masuk Akal
Kapten Mehdi Taremi:...
Kapten Mehdi Taremi: FIFA Tak Adil, Iran Sendirian dan Tidak Ada yang Membantu Kami
HGI Jakarta Domino Tournament...
HGI Jakarta Domino Tournament 2026, Ribuan Peserta Ramaikan Olahraga Pikiran
Berita Terkini
29 Brigjen Pol Dimutasi...
29 Brigjen Pol Dimutasi Kapolri pada Juni 2026, Ini Nama-namanya
Jokowi Pakai Baju Berlogo...
Jokowi Pakai Baju Berlogo PSI: Artinya Tahu Sendiri
Bangun Integrasi Hukum...
Bangun Integrasi Hukum dan Seni Lewat Pustaka Nada
Kemhan Beberkan Materi...
Kemhan Beberkan Materi Latihan Fisik Calon Manajer Kopdes: Baris-berbaris hingga Hormat Militer
Boni Hargens: Peningkatan...
Boni Hargens: Peningkatan Kepercayaan Publik kepada Polri Perkuat Stabilitas Demokrasi
DPR Desak Latsarmil...
DPR Desak Latsarmil Peserta SPPI Disetop: Nyawa Jangan Dianggap Enteng!
Infografis
3 Syarat Iran di Selat...
3 Syarat Iran di Selat Hormuz: Aturan Ketat untuk Kapal yang Melintas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved