Transformasi Budaya Pangan Asal Kenyang
Selasa, 20 Juni 2023 - 16:19 WIB
loading...
A
A
A
GHI merupakan indeks gabungan dari elemen tingkat kematian balita, anak balita tengkes (stunting), anak balita kurus kering (child wasting), dan kekurangan gizi. Capaian GHI pada 2022 menggambarkan bahwa budaya makan warga Indonesia menghasilkan tingkat kematian balita 2,3%, balita tengkes 30,8%, balita kurus kering 10,2%, dan kekurangan gizi 6,5%. Ini penting diangkat ke tataran budaya makan karena sejak 2018 ada 15 negara berkembang memiliki GHI setara negara maju. Salah satunya Ukraina, yang pada 2020 pendapatan per kapita (nominal) di bawah Indonesia (Pakpahan, 2021).
Apabila ditelisik lebih dalam, ketergantungan yang tinggi asupan energi hanya dari beras, gandum, dan jagung sejatinya tidak lepas dari sifat-sifat tiga serealia ini: harga terjangkau (baca: murah), mudah didapatkan kapan dan di mana saja, gampang dimasak, dan mudah dikombinasikan dengan pangan lain. Di sisi lain, asupan protein pun sebagian besar dipenuhi dari beras, dengan asupan yang rendah tingkat konsumsi dari sumber protein hewani. Konsumsi sayuran dan buah pun amat rendah. Salah satu alasan di balik ini semua adalah soal daya beli. Pangan protein hewani, sayur, dan buah tergolong mahal.
Bagi warga miskin, termasuk mereka yang hanya beberapa jengkal di atas garis kemiskinan, mengonsumsi protein hewani, sayur, dan buah adalah sebuah kemewahan. Bagi mereka, konsumsi daging sapi misalnya, bisa dihitung jari dalam setahun. Ini berarti budaya pangan yang dibangun selama ini adalah budaya pangan asal kenyang. Soal kecukupan gizi dan nutrisi yang penting untuk menjaga kesehatan dan produktivitas masih menjadi nomor buncit. Akan tetapi, dari contoh Ukraina menunjukkan terdapat faktor non-income yang bisa jadi lebih penting dari faktor pendapatan: budaya makan.
Budaya makan antara Indonesia dan Ukraina berbeda pada pola konsumsi protein hewani. Tingkat konsumsi protein hewani Ukraina jauh lebih tinggi dari tingkat konsumsi protein hewani di Indonesia (Leeuwen et. al, 2012). Demikian pula konsumsi sayur dan buah. Agar GHI setara dengan negara maju dan kualitas SDM membaik tak ada jalan lain bagi Indonesia selain mentransformasi budaya pangan asal kenyang ke budaya pangan yang menyehatkan dan mencerdaskan.Untuk mewujudkan itu, dibutuhkan kebijakan makro yang pro-pembangunan pertanian berbasis tropis: berbasiskan keanekaragaman.
Pertama, pola produksi pangan monokultur, apalagi skala luas, harus diakhiri. Praktik produksi monokultur merupakan pengingkaran nyata terhadap sifat intrinsik alam tropis yang berciri kaya keanekaragaman baik dalam satuan luas maupun waktu. Sebagai gantinya, pola produksi polikultur harus dipromosikan. Dengan praktik tumpang sari atau sistem pertanian terintegrasi dan tertutup memungkinkan praktik polikultur jadi optimal.
Apabila ditelisik lebih dalam, ketergantungan yang tinggi asupan energi hanya dari beras, gandum, dan jagung sejatinya tidak lepas dari sifat-sifat tiga serealia ini: harga terjangkau (baca: murah), mudah didapatkan kapan dan di mana saja, gampang dimasak, dan mudah dikombinasikan dengan pangan lain. Di sisi lain, asupan protein pun sebagian besar dipenuhi dari beras, dengan asupan yang rendah tingkat konsumsi dari sumber protein hewani. Konsumsi sayuran dan buah pun amat rendah. Salah satu alasan di balik ini semua adalah soal daya beli. Pangan protein hewani, sayur, dan buah tergolong mahal.
Bagi warga miskin, termasuk mereka yang hanya beberapa jengkal di atas garis kemiskinan, mengonsumsi protein hewani, sayur, dan buah adalah sebuah kemewahan. Bagi mereka, konsumsi daging sapi misalnya, bisa dihitung jari dalam setahun. Ini berarti budaya pangan yang dibangun selama ini adalah budaya pangan asal kenyang. Soal kecukupan gizi dan nutrisi yang penting untuk menjaga kesehatan dan produktivitas masih menjadi nomor buncit. Akan tetapi, dari contoh Ukraina menunjukkan terdapat faktor non-income yang bisa jadi lebih penting dari faktor pendapatan: budaya makan.
Budaya makan antara Indonesia dan Ukraina berbeda pada pola konsumsi protein hewani. Tingkat konsumsi protein hewani Ukraina jauh lebih tinggi dari tingkat konsumsi protein hewani di Indonesia (Leeuwen et. al, 2012). Demikian pula konsumsi sayur dan buah. Agar GHI setara dengan negara maju dan kualitas SDM membaik tak ada jalan lain bagi Indonesia selain mentransformasi budaya pangan asal kenyang ke budaya pangan yang menyehatkan dan mencerdaskan.Untuk mewujudkan itu, dibutuhkan kebijakan makro yang pro-pembangunan pertanian berbasis tropis: berbasiskan keanekaragaman.
Pertama, pola produksi pangan monokultur, apalagi skala luas, harus diakhiri. Praktik produksi monokultur merupakan pengingkaran nyata terhadap sifat intrinsik alam tropis yang berciri kaya keanekaragaman baik dalam satuan luas maupun waktu. Sebagai gantinya, pola produksi polikultur harus dipromosikan. Dengan praktik tumpang sari atau sistem pertanian terintegrasi dan tertutup memungkinkan praktik polikultur jadi optimal.
Lihat Juga :