Didominasi Hidrometeorologi, BNPB Sebut Terjadi 1.675 Bencana Sejak Awal 2023
Minggu, 04 Juni 2023 - 14:13 WIB
loading...
BNPB melaporkan pada lima bulan di awal tahun 2023 ini, sudah terjadi 1.675 kejadian bencana. Hal ini dikatakan oleh Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto. Foto/Binti Mufarida
A
A
A
JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana ( BNPB ) melaporkan pada lima bulan di awal tahun 2023 ini, sudah terjadi 1.675 kejadian bencana. Hal ini dikatakan oleh Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto.
"Didominasi oleh bencana hidrometeorologi sebesar 99,1 persen, dengan rincian 92, persen adalah bencana hidrometeorologi basah dan 6,6 persen merupakan bencana hidrometeorologi kering, sisanya merupakan bencana geologi dan vulkanologi," kata Suharyanto dalam keterangan resminya, Minggu (4/6/2023).
Lebih lanjut, Suharyanto mengatakan, saat ini perubahan iklim yang terjadi di dunia secara nyata telah meningkatkan potensi kejadian bencana.
Hal itu diungkapkan saat memberikan sambutan pada Rapat Koordinasi Nasional Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) yang dihelat di Pondok Pesantren Alhamidiah, Depok, Jawa Barat, kemarin.
"Perubahan iklim terbukti meningkatkan frekuensi kejadian bencana dengan sangat drastis dan lebih ekstrim," ujar Suharyanto.
"Didominasi oleh bencana hidrometeorologi sebesar 99,1 persen, dengan rincian 92, persen adalah bencana hidrometeorologi basah dan 6,6 persen merupakan bencana hidrometeorologi kering, sisanya merupakan bencana geologi dan vulkanologi," kata Suharyanto dalam keterangan resminya, Minggu (4/6/2023).
Lebih lanjut, Suharyanto mengatakan, saat ini perubahan iklim yang terjadi di dunia secara nyata telah meningkatkan potensi kejadian bencana.
Hal itu diungkapkan saat memberikan sambutan pada Rapat Koordinasi Nasional Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) yang dihelat di Pondok Pesantren Alhamidiah, Depok, Jawa Barat, kemarin.
"Perubahan iklim terbukti meningkatkan frekuensi kejadian bencana dengan sangat drastis dan lebih ekstrim," ujar Suharyanto.
Lihat Juga :