Lupakan Muhammadiyah dan NU, Politikus PAN Kritisi Mendikbud
Jum'at, 24 Juli 2020 - 08:12 WIB
loading...
A
A
A
Dia mengatakan, Alih-alih mencatatkan prestasi selama memimpin kementerian pendidikan dan kebudayaan, justru Nadiem sering menimbulkan kontroversi, polemik dan perdebatan. Menurutnya, yang paling anyar adalah lolosnya dua yayasan yang terafiliasi ke perusahaan besar dalam seleksi program organisasi penggerak (POP).
Selain itu kata Saleh, banyak organisasi dan entitas baru yang dinyatakan lolos dalam seleksi program tersebut. "Wajar saja jika kemudian Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah dan LP Ma'arif PBNU mengundurkan diri dari kepesertaan POP. Ini adalah bentuk protes dari kedua organisasi besar dan tertua di Indonesia tersebut. Nadiem tidak peka. Tidak memahami sejarah pergerakan ormas di Indonesia secara utuh," ujar Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah periode 2010-2014 ini.
"Sikap dan kebijakan Nadiem ini tentu sangat tidak baik. Banyak pihak yang tersinggung. Kebijakan ini pasti tidak sesuai dengan arahan dan keinginan Presiden Jokowi. Apalagi selama ini, presiden sangat dekat dengan Muhammadiyah, NU, dan ormas-ormas keagamaan lain di Indonesia," ungkap Saleh.
Berkenaan dengan itu, Presiden Jokowi diminta segera memanggil dan meminta penjelasan Nadiem Makarim. Bahkan, Presiden Jokowi dituntut mempergunakan hak prerogatifnya untuk mengganti Nadiem Makarim sebagai Mendikbud. Saleh berpendapat, harus dicari sosok yang mengerti dan menguasai persoalan pendidikan dan kebudayaan untuk memimpin Kemendikbud.
"Insya Allah, tidak sulit mencari pengganti Nadiem. Ada banyak sosok dan tokoh yang jauh lebih menguasai persoalan pendidikan. Gendangnya sekarang ada di Presiden. Semua pihak sekarang menunggu kapan gendang tersebut akan ditabuh," pungkas Legislator asal Dapil Sumatera Utara II ini.
Selain itu kata Saleh, banyak organisasi dan entitas baru yang dinyatakan lolos dalam seleksi program tersebut. "Wajar saja jika kemudian Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah dan LP Ma'arif PBNU mengundurkan diri dari kepesertaan POP. Ini adalah bentuk protes dari kedua organisasi besar dan tertua di Indonesia tersebut. Nadiem tidak peka. Tidak memahami sejarah pergerakan ormas di Indonesia secara utuh," ujar Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah periode 2010-2014 ini.
"Sikap dan kebijakan Nadiem ini tentu sangat tidak baik. Banyak pihak yang tersinggung. Kebijakan ini pasti tidak sesuai dengan arahan dan keinginan Presiden Jokowi. Apalagi selama ini, presiden sangat dekat dengan Muhammadiyah, NU, dan ormas-ormas keagamaan lain di Indonesia," ungkap Saleh.
Berkenaan dengan itu, Presiden Jokowi diminta segera memanggil dan meminta penjelasan Nadiem Makarim. Bahkan, Presiden Jokowi dituntut mempergunakan hak prerogatifnya untuk mengganti Nadiem Makarim sebagai Mendikbud. Saleh berpendapat, harus dicari sosok yang mengerti dan menguasai persoalan pendidikan dan kebudayaan untuk memimpin Kemendikbud.
"Insya Allah, tidak sulit mencari pengganti Nadiem. Ada banyak sosok dan tokoh yang jauh lebih menguasai persoalan pendidikan. Gendangnya sekarang ada di Presiden. Semua pihak sekarang menunggu kapan gendang tersebut akan ditabuh," pungkas Legislator asal Dapil Sumatera Utara II ini.
(maf)
Lihat Juga :