Siti Nurbaya Kenang Masa Sulit Tangani Kebakaran Hutan 2015
Jum'at, 17 Juli 2020 - 19:48 WIB
loading...
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar. Foto/SINDOnews/Eko Purwanto
A
A
A
JAKARTA - Penanganan kebakaran hutan (karhutla) di Indonesia bukan perkara mudah. Luasnya lahan gambut, musim kemarau, dan perilaku oknum-oknum tertentu yang mengambil jalan pintas dalam membuka lahan dengan membakar, merupakan sederet tantangan yang harus dihadapi pemerintah pusat dan daerah.
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar menceritakan beratnya masalah yang harus dihadapinya saat pertama kali menjabat pada tahun 2014.
Dia mengakui keteteran menangani kebakaran hutan dari 2014 hingga November 2015. “Paradigma lama itu penanganan saat kebakaran terjadi. Anggaran pun baru keluar hanya untuk memadamkan,” ujarnya dalam Diskusi Media Forum Merdeka Barat (FMB) 9 bertajuk Antisipasi Karhutla di Pusaran Pandemik yang diselenggarakan di Ruang Serbaguna Kementerian Kominfo, Jakarta, Jumat (17/7/2020).
Dia mengenang situasi penanganan pada 2015 yang begitu berat. Siti beberapa kali harus berdebat dan berantem dengan pemerintah daerah (pemda). Untuk menghindari peristiwa itu terulang, KLHK merancang indikator kualitas udara sebagai rujukan dalam melakukan tindakan dan pencegahan kebakaran.
“Januari-April gambaran hotspot sudah kelihatan. Riau itu sudah kritis. Riau punya dua kali kritis. Kalau di Indonesia biasanya Agustus akhir dan awal September. Sampai bulan Desember hotspot itu masih ada. Di natal dan tahun baru, saya peloti itu record,” tuturnya.
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar menceritakan beratnya masalah yang harus dihadapinya saat pertama kali menjabat pada tahun 2014.
Dia mengakui keteteran menangani kebakaran hutan dari 2014 hingga November 2015. “Paradigma lama itu penanganan saat kebakaran terjadi. Anggaran pun baru keluar hanya untuk memadamkan,” ujarnya dalam Diskusi Media Forum Merdeka Barat (FMB) 9 bertajuk Antisipasi Karhutla di Pusaran Pandemik yang diselenggarakan di Ruang Serbaguna Kementerian Kominfo, Jakarta, Jumat (17/7/2020).
Dia mengenang situasi penanganan pada 2015 yang begitu berat. Siti beberapa kali harus berdebat dan berantem dengan pemerintah daerah (pemda). Untuk menghindari peristiwa itu terulang, KLHK merancang indikator kualitas udara sebagai rujukan dalam melakukan tindakan dan pencegahan kebakaran.
“Januari-April gambaran hotspot sudah kelihatan. Riau itu sudah kritis. Riau punya dua kali kritis. Kalau di Indonesia biasanya Agustus akhir dan awal September. Sampai bulan Desember hotspot itu masih ada. Di natal dan tahun baru, saya peloti itu record,” tuturnya.
Lihat Juga :