Kekerasan Anak Marak, Pengamat LIPI Tekankan Pendidikan dalam Keluarga
Senin, 13 Maret 2023 - 20:23 WIB
loading...
Prof Siti Musdah Mulia. FOTO/IST
A
A
A
JAKARTA - Aktivis perempuan, Prof Siti Musdah Mulia menilai aksi kekerasan yang dilakukan anak dan remaja yang akhir-akhir ini sudah sangat meresahkan. Karena itulah peran perempuan menjadi sangat krusial dalam membentuk karakter dan pribadi anak yang toleran serta antikekerasan.
"Sesuai dengan tema International Women's Day tahun 2023 ini, yaitu embrace equity (merangkul kesetaraan), perempuan harus sadar bagaimana mempraktikan keadilan khususnya keadilan gender. Jangan membiarkan ada perilaku diskriminatif, eksploitatif dan kekerasan sekecil apa pun untuk alasan apa pun. Kata kuncinya, speak up," kata Siti Musdah Mulia di Jakarta, Senin (13/3/2023).
Sejatinya tanggung jawab melahirkan dan membentuk generasi yang berakhlak dan antikekerasan bukanlah tugas perempuan semata. Kaum laki-laki juga harus menjadi benteng dalam membangun karakter anak melalui pendidikan dalam rumah tangga.
"Bukan hanya perempuan, laki-laki juga harus jadi benteng. Jadi diajarkan mulai dari keluarga, dari hal-hal yang kecil-kecil dan biasa dianggap cuma sepele, justru itu yang sepele itu berpengaruh dalam benak seseorang akhirnya menjadi sebuah karakter. Jadi kaca kuncinya itu adalah teladan," kata Profesor Riset bidang Lektur Keagamaan LIPI ini.
Menurutnya, tidak bisa dipungkiri peran perempuan, khususnya ibu, selalu dianggap tokoh krusial dalam pembentukan karakter anak dan disebut sebagai sekolah pertama (madrasatul ula) bagi anak. Namun, kerja sama orang tua dalam membentuk karakter anak merupakan bagian dari amanah Tuhan kepada umatnya.
"Sesuai dengan tema International Women's Day tahun 2023 ini, yaitu embrace equity (merangkul kesetaraan), perempuan harus sadar bagaimana mempraktikan keadilan khususnya keadilan gender. Jangan membiarkan ada perilaku diskriminatif, eksploitatif dan kekerasan sekecil apa pun untuk alasan apa pun. Kata kuncinya, speak up," kata Siti Musdah Mulia di Jakarta, Senin (13/3/2023).
Sejatinya tanggung jawab melahirkan dan membentuk generasi yang berakhlak dan antikekerasan bukanlah tugas perempuan semata. Kaum laki-laki juga harus menjadi benteng dalam membangun karakter anak melalui pendidikan dalam rumah tangga.
"Bukan hanya perempuan, laki-laki juga harus jadi benteng. Jadi diajarkan mulai dari keluarga, dari hal-hal yang kecil-kecil dan biasa dianggap cuma sepele, justru itu yang sepele itu berpengaruh dalam benak seseorang akhirnya menjadi sebuah karakter. Jadi kaca kuncinya itu adalah teladan," kata Profesor Riset bidang Lektur Keagamaan LIPI ini.
Menurutnya, tidak bisa dipungkiri peran perempuan, khususnya ibu, selalu dianggap tokoh krusial dalam pembentukan karakter anak dan disebut sebagai sekolah pertama (madrasatul ula) bagi anak. Namun, kerja sama orang tua dalam membentuk karakter anak merupakan bagian dari amanah Tuhan kepada umatnya.
Lihat Juga :