Plus Minus Duet Anies Baswedan - Sandiaga Uno di Pilpres 2024
Selasa, 07 Maret 2023 - 06:15 WIB
loading...
A
A
A
“Anies adalah intelektual dan akademisi latar belakangnya, sementara Sandi adalah pengusaha dan paham dan punya dasar kuat di bidang ekonomi,” ucapnya.
Di samping itu, dia mengungkapkan kesamaan Anies dan Sandi. “Sama-sama pernah maju di pemilu, Anies pernah punya pengalaman maju di DKI Jakarta dan Sandi punya pengalaman maju sebagai cawapres pada Pilpres 2019,” pungkasnya.
Sementara itu, Pengamat politik sekaligus Direktur Lembaga Survei dan Polling Indonesia (SPIN) Igor Dirgantara menilai duet Anies-Sandi lebih banyak minusnya ketimbang plusnya. Dia pun mengungkapkan tiga alasannya.
“Pertama, Sandi sudah menyatakan bahwa momennya sudah berbeda. Sandi sekarang sudah berada di dalam pemerintahan sebagai Menparekraf di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi dan punya komitmen continuity atas program pembangunan pemerintahan sekarang,” kata Igor dihubungi terpisah.
Igor melanjutkan, sedangkan Anies saat ini dicitrakan sebagai antitesa Jokowi. “Dan berada di Koalisi Perubahan atau change yang punya makna bukan keberlanjutan dari Jokowi. Bisa dikatakan pemilih Anies umumnya mereka yang memang tidak suka terhadap pemerintahan Jokowi dan ingin perubahan,” ujar Igor.
Kedua, lanjut Igor, duet Anies-Sandi mungkin bagus untuk pilkada seperti di Jakarta, Depok, atau Banten. “Tetapi kurang realistis untuk pilpres yang berskala nasional,” imbuhnya.
Dia berpendapat, salah satu faktor yang membuat Anies-Sandi menang di Pilkada Jakarta 2017 karena solidnya pemilih Prabowo dan Gerindra saat itu. “Problemnya di 2024, Anies justru berpotensi menghadapi Prabowo yang dulu justru pendukung utamanya,” jelasnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, Sandi adalah kader Gerindra yang sudah menyatakan loyalitasnya di berbagai kesempatan untuk mendukung Prabowo sebagai capres 2024. “Oleh Karena itu, duet Prabowo-Sandi jilid II justru jauh lebih masuk akal ketimbang duet Anies-Sandi jilid II. Apalagi duet Anies-Sandi juga ternyata menyimpang jejak persoalan utang-piutang oleh Anies kepada Sandi, meskipun sudah case closed,” ungkapnya.
Ketiga, kata Igor, usulan duet Anies-Sandi layaknya seperti manuver politik yang dilakukan oleh PKS atau Koalisi Perubahan untuk menggembosi Prabowo yang notabene termasuk capres kuat di Pilpres 2024. Dia juga menilai duet Anies-Sandi jilid II untuk Pilpres 2024 belum tentu mendapat sentimen positif dari masyarakat.
“Alih-alih menjadi duet perubahan, malah bisa sebaliknya dikonotasikan atau dikampanyekan negatif sebagai duet brutus (pengkhianat) terhadap Menhan Prabowo Subianto. Mungkin buat Anies no problem, tapi Bang Sandi: that's the problem," pungkasnya.
Analis politik dan Direktur Eksekutif Indonesia Political Power Ikhwan Arif berpendapat bahwa peluang duet Anis-Sandi masih terbuka karena sejauh ini posisi tawar Sandiaga Uno masih diperhitungkan untuk disandingkan dengan bakal capres dari koalisi mana pun.
Ikhwan mengatakan, dengan berkaca pada dinamika politik yang cair dalam menentukan bakal cawapres, kemungkinan besar Sandiaga Uno menjadi rebutan antarkoalisi. “Daya tawarnya bisa menciptakan tarik-menarik antarkoalisi semakin kuat. Hal ini terbukti ketika muncul wacana Sandiaga Uno disandingkan dengan Anies, Sandiaga Uno diusung oleh PPP dan PAN,” kata Ikhwan.
Dia juga mengakui duet Anies-Sandi memiliki kelemahannya. “Menurut saya lebih banyak plusnya karena sebelumnya Anies-Sandi pernah berjuang merebut kursi gubernur dan wakil gubernur DKI, jadi keduanya punya chemistry yang cukup kuat, lalu keduanya punya basis suara yang cukup kuat juga,” ungkapnya.
Dia mennuturkan, Anies dinilai sosok yang nasionalis religius dan Sandiaga Uno dinilai sebagai sosok pemimpin muda yang punya rekam jejak di pemerintahan. “Keduanya punya pengalaman yang sama di pemerintahan. Selain itu, Sandiaga Uno punya modal logistik yang kuat,” katanya.
Adapun minusnya duet Anies-Sandi, menurut dia, berpotensi mengulang kembali pertempuran menggunakan simbol-simbol keagamaan dan politisasi agama yang cukup kental. “Karena di Pilkada DKI Jakarta penggunaan simbol-simbol keagamaan dan politisasi agama cukup kuat, memang kita tidak bisa menyalahkan keduanya untuk maju kembali di Pilpres 2024,” ujarnya.
“Namun berkaca pada Pilgub DKI Jakarta potensi penggunaan politisasi agama cukup kuat. Hal ini yang menurut saya minusnya wacana Anies-Sandi. Jadi tidak heran wacana ini akan sulit terwujud apalagi Sandiaga Uno masih tegak lurus terhadap keputusan Gerindra yang mengusung Prabowo sebagai presiden,” pungkasnya.
Di samping itu, dia mengungkapkan kesamaan Anies dan Sandi. “Sama-sama pernah maju di pemilu, Anies pernah punya pengalaman maju di DKI Jakarta dan Sandi punya pengalaman maju sebagai cawapres pada Pilpres 2019,” pungkasnya.
Sementara itu, Pengamat politik sekaligus Direktur Lembaga Survei dan Polling Indonesia (SPIN) Igor Dirgantara menilai duet Anies-Sandi lebih banyak minusnya ketimbang plusnya. Dia pun mengungkapkan tiga alasannya.
“Pertama, Sandi sudah menyatakan bahwa momennya sudah berbeda. Sandi sekarang sudah berada di dalam pemerintahan sebagai Menparekraf di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi dan punya komitmen continuity atas program pembangunan pemerintahan sekarang,” kata Igor dihubungi terpisah.
Igor melanjutkan, sedangkan Anies saat ini dicitrakan sebagai antitesa Jokowi. “Dan berada di Koalisi Perubahan atau change yang punya makna bukan keberlanjutan dari Jokowi. Bisa dikatakan pemilih Anies umumnya mereka yang memang tidak suka terhadap pemerintahan Jokowi dan ingin perubahan,” ujar Igor.
Kedua, lanjut Igor, duet Anies-Sandi mungkin bagus untuk pilkada seperti di Jakarta, Depok, atau Banten. “Tetapi kurang realistis untuk pilpres yang berskala nasional,” imbuhnya.
Dia berpendapat, salah satu faktor yang membuat Anies-Sandi menang di Pilkada Jakarta 2017 karena solidnya pemilih Prabowo dan Gerindra saat itu. “Problemnya di 2024, Anies justru berpotensi menghadapi Prabowo yang dulu justru pendukung utamanya,” jelasnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, Sandi adalah kader Gerindra yang sudah menyatakan loyalitasnya di berbagai kesempatan untuk mendukung Prabowo sebagai capres 2024. “Oleh Karena itu, duet Prabowo-Sandi jilid II justru jauh lebih masuk akal ketimbang duet Anies-Sandi jilid II. Apalagi duet Anies-Sandi juga ternyata menyimpang jejak persoalan utang-piutang oleh Anies kepada Sandi, meskipun sudah case closed,” ungkapnya.
Ketiga, kata Igor, usulan duet Anies-Sandi layaknya seperti manuver politik yang dilakukan oleh PKS atau Koalisi Perubahan untuk menggembosi Prabowo yang notabene termasuk capres kuat di Pilpres 2024. Dia juga menilai duet Anies-Sandi jilid II untuk Pilpres 2024 belum tentu mendapat sentimen positif dari masyarakat.
“Alih-alih menjadi duet perubahan, malah bisa sebaliknya dikonotasikan atau dikampanyekan negatif sebagai duet brutus (pengkhianat) terhadap Menhan Prabowo Subianto. Mungkin buat Anies no problem, tapi Bang Sandi: that's the problem," pungkasnya.
Analis politik dan Direktur Eksekutif Indonesia Political Power Ikhwan Arif berpendapat bahwa peluang duet Anis-Sandi masih terbuka karena sejauh ini posisi tawar Sandiaga Uno masih diperhitungkan untuk disandingkan dengan bakal capres dari koalisi mana pun.
Ikhwan mengatakan, dengan berkaca pada dinamika politik yang cair dalam menentukan bakal cawapres, kemungkinan besar Sandiaga Uno menjadi rebutan antarkoalisi. “Daya tawarnya bisa menciptakan tarik-menarik antarkoalisi semakin kuat. Hal ini terbukti ketika muncul wacana Sandiaga Uno disandingkan dengan Anies, Sandiaga Uno diusung oleh PPP dan PAN,” kata Ikhwan.
Dia juga mengakui duet Anies-Sandi memiliki kelemahannya. “Menurut saya lebih banyak plusnya karena sebelumnya Anies-Sandi pernah berjuang merebut kursi gubernur dan wakil gubernur DKI, jadi keduanya punya chemistry yang cukup kuat, lalu keduanya punya basis suara yang cukup kuat juga,” ungkapnya.
Dia mennuturkan, Anies dinilai sosok yang nasionalis religius dan Sandiaga Uno dinilai sebagai sosok pemimpin muda yang punya rekam jejak di pemerintahan. “Keduanya punya pengalaman yang sama di pemerintahan. Selain itu, Sandiaga Uno punya modal logistik yang kuat,” katanya.
Adapun minusnya duet Anies-Sandi, menurut dia, berpotensi mengulang kembali pertempuran menggunakan simbol-simbol keagamaan dan politisasi agama yang cukup kental. “Karena di Pilkada DKI Jakarta penggunaan simbol-simbol keagamaan dan politisasi agama cukup kuat, memang kita tidak bisa menyalahkan keduanya untuk maju kembali di Pilpres 2024,” ujarnya.
“Namun berkaca pada Pilgub DKI Jakarta potensi penggunaan politisasi agama cukup kuat. Hal ini yang menurut saya minusnya wacana Anies-Sandi. Jadi tidak heran wacana ini akan sulit terwujud apalagi Sandiaga Uno masih tegak lurus terhadap keputusan Gerindra yang mengusung Prabowo sebagai presiden,” pungkasnya.
(rca)
Lihat Juga :