Memilukan, Jenderal TNI Ini Kumpulkan Isi Kepala Prajuritnya yang Gugur Ditembak di Medan Operasi
Jum'at, 03 Maret 2023 - 07:10 WIB
loading...
A
A
A
Melihat situasi Timtim yang semakin kacau dan pergerakan pasukan Fretilin yang berhaluan komunis serta keinginan masyarakat Timor Leste yang ingin bergabung dengan Indonesia, Menhankam/Panglima ABRI Jenderal TNI Maraden Panggabean kala itu mengeluarkan keputusan pada 4 Desember 1975 di Kupang, NTT untuk menggelar operasi militer.
Operasi militer berskala besar yang digelar TNI pun berhasil menguasai Timtim. Meski demikian, gangguan keamanan oleh kelompok bersenjata Fretilin tetap ada secara sporadis. Untuk itu, operasi pemulihan keamanan terus dilakukan. Seluruh prajurit TNI secara silih berganti diterjunkan ke Timtim. Termasuk Jenderal Dudung yang kala itu masih berpangkat Letnan Dua (Letda).
![Memilukan, Jenderal TNI Ini Kumpulkan Isi Kepala Prajuritnya yang Gugur Ditembak di Medan Operasi]()
Dalam buku biografinya berjudul “Jenderal TNI Dudung Abdurachman: Pemimpin yang Berani Ambil Resiko” yang diterbitkan Dinas Sejarah Angkatan Darat (Disjarahad), Dudung yang baru menyelesaikan pendidikan di Akademi Militer (Akmil) pada 1988 ini mendapat tugas sebagai Komandan Peleton III, Kompi B Batalyon Infanteri 744/Satya Yudha Bakti di Dili, Timor Leste.
Sebagai prajurit TNI, penugasan tersebut merupakan sebuah kehormatan yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya. Apalagi tidak banyak prajurit muda lulusan Akmil yang langsung diterjunkan ke medan operasi saat itu. Tergabung dalam Timsus Kasador, Dudung mendapat tugas mengejar dan memburu pemberontak bersenjata yang berada di pegunungan Mappe.
Kepercayaan itu pun dibayar tuntas oleh Dudung. Saat penugasan di Timtim Dudung berhasil menunjukkan kemampuannya berperang di belantara hutan. Pria kelahiran Bandung, Jawa Barat, 19 November 1965 sukses menghancurkan dan mengobrak abrik kekuatan Fretilin.
Hal itu tidak lepas dari strategi Dudung yang selalu membawa tim khusus (timsus) beranggotakan prajurit-prajurit pilihan dan orang asli Timtim yang diberdayakan untuk membantu pasukannya. Kemampuan inilah yang membuat Dudung sangat menonjol dalam operasi tempur melawan Fretilin.
Operasi militer berskala besar yang digelar TNI pun berhasil menguasai Timtim. Meski demikian, gangguan keamanan oleh kelompok bersenjata Fretilin tetap ada secara sporadis. Untuk itu, operasi pemulihan keamanan terus dilakukan. Seluruh prajurit TNI secara silih berganti diterjunkan ke Timtim. Termasuk Jenderal Dudung yang kala itu masih berpangkat Letnan Dua (Letda).

Dalam buku biografinya berjudul “Jenderal TNI Dudung Abdurachman: Pemimpin yang Berani Ambil Resiko” yang diterbitkan Dinas Sejarah Angkatan Darat (Disjarahad), Dudung yang baru menyelesaikan pendidikan di Akademi Militer (Akmil) pada 1988 ini mendapat tugas sebagai Komandan Peleton III, Kompi B Batalyon Infanteri 744/Satya Yudha Bakti di Dili, Timor Leste.
Sebagai prajurit TNI, penugasan tersebut merupakan sebuah kehormatan yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya. Apalagi tidak banyak prajurit muda lulusan Akmil yang langsung diterjunkan ke medan operasi saat itu. Tergabung dalam Timsus Kasador, Dudung mendapat tugas mengejar dan memburu pemberontak bersenjata yang berada di pegunungan Mappe.
Kepercayaan itu pun dibayar tuntas oleh Dudung. Saat penugasan di Timtim Dudung berhasil menunjukkan kemampuannya berperang di belantara hutan. Pria kelahiran Bandung, Jawa Barat, 19 November 1965 sukses menghancurkan dan mengobrak abrik kekuatan Fretilin.
Hal itu tidak lepas dari strategi Dudung yang selalu membawa tim khusus (timsus) beranggotakan prajurit-prajurit pilihan dan orang asli Timtim yang diberdayakan untuk membantu pasukannya. Kemampuan inilah yang membuat Dudung sangat menonjol dalam operasi tempur melawan Fretilin.
Lihat Juga :