Mencari Cara Tuntas Bersihkan Sampah Sejak Dari Rumah

Rabu, 01 Maret 2023 - 08:20 WIB
loading...
Mencari Cara Tuntas...
Sejumlah aktivis pencinta alam berdiskusi di acara Cangkir Kopi (Berbincang dan Berpikir untuk Kota Prabumulih) dalam rangka peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN), pada Selasa (28/2/2023). foto: Istimewa
A A A
PRABUMULIH - Pada dasarnya, semua manusia menyukai kebersihan. Buktinya, semua orang senang membuang sampah ke luar rumah. Persoalan apakah sampah yang dibuang kemudian mengakibatkan tempat lain menjadi kotor, adalah persoalan berikutnya. Asalkan tempat tinggalnya menjadi bersih dan nyaman.

baca juga: Sampah-sampah di Balikpapan Jadi Penggerak Ekonomi Keluarga

Dalam gerakan lingkungan kebiasan ini dikenal sebagai "sindroma nimby" atau "Nimby's syndrom" yang merupakan kependekan dari "Not In My Back Yard". Artinya, suatu sikap kurang peduli manusia terhadap sampah asalkan sampah tersebut sudah berada di luar rumahnya. Sampah akan dibiarkan saja di tepi jalan, kebun kosong, atau bahkan selokan dan sungai.

Pendapat di atas dikemukakan oleh Maiduity Fitriansyah, Plt Kadin Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kota Prabumulih saat menjadi narasumber pada acara Cangkir Kopi (Berbincang dan Berpikir untuk Kota Prabumulih) dalam rangka peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN), Selasa (28/2/2023).

Menurut Maiduty, kebiasaan manusia bisa diubah. Selain melalui edukasi untuk mengubah cara pandang terhadap sampah, pengenalan teknologi sederhana untuk mengolah sampah mulai dari tingkat rumah tangga, juga diperlukan infrastruktur pendukung. Misalnya, ketersediaan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) yang umumnya berupa kontainer yang disediakan pemerintah.

"Jangan sampai cara pandang terhadap sampah sudah membaik, tetapi karena tidak tersedia infrastruktur pembuangan sampah di sekitar permukiman mereka, masyarakat akhirnya membuang sampah sembarangan lagi. Cara pandang yang baik pun kemudian menjadi abai. Akibatnya muncul banyak tempat pembuangan sampah (TPS) liar yang menjadi salah satu problem persampahan di Prabumulih saat ini. Idealnya, minimal 1 RW memiliki 1 TPS resmi yang secara rutin diangkut oleh petugas kebersihan," papar aktivis pecinta alam Mapala Bhuwana Cakti ini.

baca juga: Dukung Indonesia Bebas Sampah 2030 dengan Dropbox Sampah Kemasan

Urun rembuk yang muncul dalam acara Diskusi Kelompok Terarah (DKT) atau biasa disebut Focus Group Discussion (FGD) bertajuk "Cangkir Kopi" berlangsung sekitar 2,5 jam, dalam suasana hangat penuh keakraban. Perwakilan instansi pemerintah dan penanggap dari kalangan praktisi dan masyarakat terlihat tak berjarak. Salah satunya karena para pemapar dan penanggap pada gelaran pertama FGD Cangkir Kopi ini berasal dari kalangan pecinta alam yang memang memiliki ikatan persaudaraan sebagaimana kode etik pecinta alam.

Meski demikian direncanakan, kegiatan Cangkir Kopi untuk Kota Prabumulih yang akan datang akan melibatkan lebih banyak elemen masyarakat untuk menggali persoalan dan solusi bagi pembangunan Prabumulih, baik pembangunan fisik dan ekonomi kota, pembangunan manusia dan kerekatan sosial, maupun pelestarian alam.

Yayuk Suhartati, Kasi Kajian Dampak Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Prabumulih juga bersepakat, bahwa idealnya setiap warga masyarakat sudah harus mulai mengurangi sampah sejak dari sumber. “Artinya perlu dilakukan pemilahan sebelum kemudian masuk tahapan kumpulkan, jemput, dan buang. Tetapi untuk sampai ke sana kita perlu waktu," katanya.

baca juga: Kurangi Sampah, Tim ITS Rancang Mesin Balistik Pencacah Sampah

Menurut aktivis pecinta alam Mapala STTL YLH Yogyakarta ini, beberapa kendala yang menghambat program pengurangan sampah antara lain ada pada kebijakan retribusi sampah kota yang belum mengikat seluruh warga untuk berpartisipasi, edukasi yang belum intensif, bahkan bisa kendala alam misalnya pandemi Covid-19 lalu yang mengubah kebiasaan baik pengurangan sampah.

“Muncul kebiasaan membawa kotak makan dan botol minum, jadi kembali menggunakan makanan dan air minum dalam kemasan. Rapat-rapat atau hajatan yang biasa dilakukan dengan cara prasmanan, jadi hidangan dalam kotak sekali pakai, dan lain sebagainya,” ujarnya.

Praktik Baik Pengelolaan Sampah

Yayuk tak menampik, di sisi lain banyak juga praktik baik pengelolaan sampah yang sudah dilakukan oleh masyarakat, salah satunya terekam dalam program kampung iklim (Proklim) yang dicanangkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). "Di setiap kampung iklim, usaha pengurangan dan pengelolaan sampah terintegrasi dengan pengembangan pertanian pekarangan yang menggunakan kompos dari sampah organik dapur. Program kampung iklim juga menekankan tidak ada penanganan sampah dengan cara bakar atau dibuang ke sungai. Semangatnya, ya zero waste dan zero emission," terang Yayuk.

baca juga: Ketahuan Buang Sampah Sembarangan, Penyedia Jasa Angkut Sampah Ilegal Didenda Rp5 Juta

Menyinggung praktik baik pengelolaan sampah oleh masyarakat, Inggit Damayanti, aktivis pecinta alam dari Mapala Universitas Bandar Lampung dan saat ini menjabat sebagai Kepala Bagian Organisasi di Sekretariat Daerah Kota Prabumulih mengungkapkan, bahwa Kelurahan Majasari di Prabumulih menjadi salah satu contoh praktik baik dalam pengelolaan sampah. Ketika dirinya menjabat sebagai lurah di daerah tersebut, ada Inisiatif Kali Bersih, pengolahan jelantah menjadi sabun, pengolahan kompos dan sedekah sampah plastik.

"Untuk mengurangi masalah sampah mesti dimulai dari diri sendiri. Edukasi dimulai dari organisasi paling kecil, rumah tangga. Orang tua dan anak-anaknya mesti melakukan pemilahan hingga penanganan sampah secara aktif. Ada yang dipakai untuk kompos atau maggot dan pakan ayam, ada yang untuk ditabung ke Bank Sampah . Rumah kami tidak lagi menghasilkan sampah, baik dari pintu depan maupun pintu belakang," kata Inggit.

Penggiat persampahan di Kota Prabumulih ini menjelaskan, pelibatan masyarakat baru bisa dilakukan dengan membuat percontohan berbasis 10-20 rumah yang bertetanggaan. Untuk mengajak masyarakat, tidak cukup hanya dengan sosok contoh atau role-model, masyarakat juga perlu diyakinkan bahwa mengolah sampah juga menghasilkan uang. “Keuntungan ekonomi akan lebih cepat menarik minat masyarakat untuk menangani problem sampah. Misal dengan menjadi nasabah Bank Sampah,” ujarnya.

baca juga: Punya Sampah Elektronik sampai Sampah Minyak? Kirim ke Tempat Ini Biar Berguna

Inggit sendiri berhasil menggerakkan masyarakat umum dan membina Pekerja Harian Lepas (PHL) atau tenaga honorer di Kecamatan Prabumulih Selatan untuk aktif jadi nasabah bank sampah. Salah satu PHL binaan yang semula hanya mengumpulkan sampah anorganik dari rumahnya untuk disetor ke Bank Sampah, perlahan mulai mengambil sampah dari rumah-rumah tetangga, dan bahkan memungut sampah anorganik bernilai ekonomis yang dijumpai di jalan atau tempat umum. Kini, pendapatan rutinnya dari bank sampah sudah setara dengan honornya sebagai PHL per bulan.

Kolaborasi Multi Pihak

Ridwan, penggiat pecinta alam dari Universitas Muhammadiyah Palembang yang hadir sebagai peserta penanggap mengemukakan, pada dasarnya telah banyak inisiatif masyarakat untuk mengatasi masalah sampah di Kota Prabumulih. Salah satunya yang dilakukan pecinta alam yang tergabung dalam Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) di Prabumulih.

baca juga: Melihat Sampah dari Sisi Positif

"Karena di Prabumulih tidak ada sungai berarus deras yang bisa dilakukan untuk olahraga arung jeram, maka FAJI di Prabumulih melakukan kegiatan yang berbeda dengan FAJI di daerah lain. Orientasinya tidak hanya pada sport atau olahraga, tetapi pada aksi sosial atau lingkungan hidup. Salah satunya dengan pembersihan sampah di sungai-sungai yang ada di Prabumulih. Insya Allah pada perayaan hari Bumi nanti kita akan melakukan hal serupa dengan target pembersihan sungai-sungai kecil di tengah pemukiman," kata Ridwan.

Menurut Ridwan, kerja sama dengan Dinas Perkim maupun DLH yang selama ini terjalin perlu terus dilakukan. "Aksi mengangkat sampah dari sungai, tidak bisa dilakukan sepotong. Mesti ada mitra yang mengangkut sampah dari sungai ke TPA atau Pusat daur ulang. Juga diperlukan edukasi ke masyarakat supaya tidak membuang sampah ke sungai.

Pengalaman kerja sama multipihak dalam mengatasi sampah perkotaan juga dirasakan oleh Andi Pay, aktivis pecinta alam dari Mapala Universitas IBA Palembang. Bersama dengan warga kampung tempat ia tinggal, Andi kerap melakukan aksi bersih sampah di Sungai Muntang Tapus. Salah satu anak Sungai Kelekar yang melintasi kawasan permukiman padat.

baca juga: Kolaborasi Pengusaha Indonesia Atasi Sampah Makanan

"Penting juga kerja sama dan koordinasi yang rutin antara pemangku kepentingan bersama masyarakat supaya kegiatan pembersihan sampah di sungai dapat mengubah kebiasaan buang sampah sembarangan. Tentu aksi semacam ini tidak cukup dilakukan sekali dua kali, tetapi kalau terus-menerus dilakukan, berarti edukasinya belum berhasil mengubah cara pandang dan kebiasaan masyarakat," tukasnya.


Menghidupkan Budaya Begesah


Syamsul Asinar Radjam, penggagas acara sekaligus moderator Cangkir Kopi, mengakui bahwa kegiatan ini dimaksudkan untuk mencapai tiga hal. Pertama, membangun kerekatan antar para pemangku kepentingan (multi-stakehoders engagement) di Kota Prabumulih. Kedua, mengidentifikasi isu dan permasalahan dalam pembangunan kota Prabumulih sekaligus menjaring gagasan dan prakarsa untuk menjawab isu dan mengentaskan permasalahan tersebut. Ketiga, membangun budaya diskusi dan kultur intelektual di masyarakat Prabumulih.

baca juga: Menggelorakan Gerakan Jakarta Sadar Sampah

Penggiat di Institut Agroekologi Indonesia (INAgri) ini mengatakan, sebagai kota yang secara resmi baru terbentuk pada 2001, Prabumulih masih pada tahapan berkembang, namun juga berhadapan dengan sejumlah problem khas urban sebagaimana kota lain. Baik itu problem kualitas lingkungan, problem kemiskinan, kapasitas kota dalam pengembangan dan pengelolaan perkotaan, maupun isu-isu global yang tak dapat dihindari.

Untuk itu, kata Syamsul, semua pihak perlu membangun kultur intelektual di Prabumulih sekaligus menghidupkan budaya “begesah” (diskusi), yang menjadi budaya lokal dalam mendiskusikan isu publik sehari-hari untuk menyokong pembangunan kota Prabumulih, baik pada urusan ekonomi, alam, dan manusianya,” tukasnya.

“Semoga kelak dapat menghasilkan rumusan yang penting bagi para pemangku kepentingan yang ada di kota ini. Sebab, sebuah kota tidak muncul dalam semalam. Peradabannya terbangun dari sumbangan pemikiran banyak orang dan lintas generasi," kata anggota IMPALM Wahana Pecinta Alam dan Lingkungan Hidup Sriwijaya ini.
(hdr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ironi Sampah di Jantung...
Ironi Sampah di Jantung Jakarta
Prabowo Targetkan Masalah...
Prabowo Targetkan Masalah Sampah di Indonesia Tuntas 2–3 Tahun
Pemerintah Tegaskan...
Pemerintah Tegaskan Penghentian Open Dumping dan Percepatan Pemilahan Sampah
Prabowo Panggil Mendiktisaintek...
Prabowo Panggil Mendiktisaintek Brian Yuliarto ke Istana Bahas Teknologi Pengelolaan Sampah
Wamen LH Sebut Inovasi...
Wamen LH Sebut Inovasi Penutup Tumpukan Sampah Berbahan Singkong Ramah Lingkungan
Wakil Ketua MPR: Pengolahan...
Wakil Ketua MPR: Pengolahan Keekonomian Proyek Sampah Jadi Energi Menguntungkan
3 Unit Insinerator KKP...
3 Unit Insinerator KKP di Gili Trawangan Masih Menunggu Izin Operasi
Anak Diajarkan Bijak...
Anak Diajarkan Bijak Mengelola Sampah Plastik Sejak Dini Lewat Kegiatan Interaktif
Ciangir Disiapkan Jadi...
Ciangir Disiapkan Jadi Penampungan Kompos, Pramono Yakin 9.000 Ton Sampah Jakarta Bisa Tertangani
Rekomendasi
Harga Minyak Dunia Anjlok,...
Harga Minyak Dunia Anjlok, Kapan Pertamax Ikut Turun?
Menhub Minta Tambahan...
Menhub Minta Tambahan Anggaran Rp20 Triliun, Buat Apa?
Kesepakatan Iran Mencakup...
Kesepakatan Iran Mencakup Dana Rp5.327 Triliun, Setengahnya Sudah Jadi Komitmen
Berita Terkini
Ajukan Tambahan Anggaran...
Ajukan Tambahan Anggaran Rp762 Miliar, KPK: Kami Tidak Muluk-muluk
Prabowo Batal Hadiri...
Prabowo Batal Hadiri KTT ASEAN-Rusia, Istana Ungkap Alasannya
Dharma Pongrekun Rombak...
Dharma Pongrekun Rombak 85% Gugatan UU Kesehatan di MK
Taiwan, Identitas, dan...
Taiwan, Identitas, dan Politik Pengakuan: Membaca Ulang Perdebatan Lintas Selat
Kebebasan Berpendapat,...
Kebebasan Berpendapat, Rembuk Pemuda Ajak Generasi Muda Rawat Nilai Intelektual
KPK Periksa Mantan Stafsus...
KPK Periksa Mantan Stafsus Menag Gus Yaqut terkait Kasus Kuota Haji
Infografis
7 Perang Besar di Selat...
7 Perang Besar di Selat Malaka, dari Jalur Rempah hingga Medan Tempur Kekuatan Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved