Perang Melawan Stunting
Selasa, 07 Februari 2023 - 20:29 WIB
loading...
A
A
A
Selain itu, stunting juga menyebabkan kemampuan kognitif para penderitanya berkurang, sehingga mengakibatkan kerugian ekonomi di masa depan. Hasil penelitian Grantham-McGregor dan Baker-Henningham (2005) menunjukkan bahwa di banyak negara, stunting juga berkaitan dengan rendahnya kemampuan kognitif anak dan performa di sekolah.
Stunting memengaruhi kapasitas belajar pada usia sekolah, nilai dan prestasi sekolah, upah kerja pada saat dewasa, risiko penyakit kronis seperti diabet, morbiditas dan mortalitas, dan bahkan produktivitas ekonomi.
Sejalan dengan isu global tersebut, Pemerintah Indonesia juga berusaha menurunkan angka stunting, walaupun akan terus ditekan lebih signifikan. Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting di Tanah Air mengalami penurunan dari 24,4% di 2021 menjadi 21,6% di 2022. Angka tersebut turun 2,8 poin dari tahun sebelumnya.
Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali menempati posisi teratas dengan angka balita stunting sebesar 35,3%. Meski masih bertengger di posisi puncak, namun prevalensi balita stunting di NTT pun sejatinya juga telah menurun dari 2021 yang sebesar 37,8%.
Selanjutnya, Sulawesi Barat di peringkat kedua dengan prevalensi balita stunting 35%. Serta Papua Barat dan Nusa Tenggara Barat yang memiliki prevalensi balita stunting masing-masing 34,6% dan 32,7%. Sementara itu, Bali menempati peringkat terbawah atau prevalensi balita stunting terendah di Indonesia. Persentasenya hanya 8% atau jauh di bawah angka stunting nasional pada 2022.
Determinan Terjadinya Stunting
Status ekonomi keluarga adalah salah satu faktor yang cukup besar berkontribusi terhadap kurangnya pemenuhan gizi pada anak. Hasil kajian Pusat Penelitian Kebijakan Ekonomi (PPKE) 2020 menunjukkan bahwa faktor dominan pertama penyebab stunting adalah pendapatan keluarga.
Pendapatan keluarga yang rendah berpeluang 34 kali lebih besar menyebabkan terjadinya stunting. Hal tersebut selaras catatan Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan bahwa sebagian besar stunting terjadi di perdesaan dengan tingkat ekonomi terbawah.
Stunting memengaruhi kapasitas belajar pada usia sekolah, nilai dan prestasi sekolah, upah kerja pada saat dewasa, risiko penyakit kronis seperti diabet, morbiditas dan mortalitas, dan bahkan produktivitas ekonomi.
Sejalan dengan isu global tersebut, Pemerintah Indonesia juga berusaha menurunkan angka stunting, walaupun akan terus ditekan lebih signifikan. Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting di Tanah Air mengalami penurunan dari 24,4% di 2021 menjadi 21,6% di 2022. Angka tersebut turun 2,8 poin dari tahun sebelumnya.
Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali menempati posisi teratas dengan angka balita stunting sebesar 35,3%. Meski masih bertengger di posisi puncak, namun prevalensi balita stunting di NTT pun sejatinya juga telah menurun dari 2021 yang sebesar 37,8%.
Selanjutnya, Sulawesi Barat di peringkat kedua dengan prevalensi balita stunting 35%. Serta Papua Barat dan Nusa Tenggara Barat yang memiliki prevalensi balita stunting masing-masing 34,6% dan 32,7%. Sementara itu, Bali menempati peringkat terbawah atau prevalensi balita stunting terendah di Indonesia. Persentasenya hanya 8% atau jauh di bawah angka stunting nasional pada 2022.
Determinan Terjadinya Stunting
Status ekonomi keluarga adalah salah satu faktor yang cukup besar berkontribusi terhadap kurangnya pemenuhan gizi pada anak. Hasil kajian Pusat Penelitian Kebijakan Ekonomi (PPKE) 2020 menunjukkan bahwa faktor dominan pertama penyebab stunting adalah pendapatan keluarga.
Pendapatan keluarga yang rendah berpeluang 34 kali lebih besar menyebabkan terjadinya stunting. Hal tersebut selaras catatan Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan bahwa sebagian besar stunting terjadi di perdesaan dengan tingkat ekonomi terbawah.
Lihat Juga :