Manusia yang Makin Terdigital: Tantangan dalam Hidup Modern
Rabu, 15 Juli 2020 - 06:30 WIB
loading...
Muhamad Ali
A
A
A
Muhamad Ali
Pemerhati Human Capital
ADAPTASI kebiasaan baru sudah berlangsung beberapa minggu. Kantor-kantor mulai membuka lembaran baru setelah sempat menghentikan aktivitas selama beberapa waktu. Pandemi korona (Covid-19) yang belum juga berlalu memaksa orang untuk menjalani aktivitas di tengah-tengah masyarakat dengan cara-cara yang baru.
Beradaptasi dengan kebiasaan baru tidaklah mudah. Apalagi kalau kebiasaan itu sudah dijalani bertahun-tahun, tidak lagi perlu dipersiapkan dan direncanakan secara mendalam. Semua tindakan sudah seperti gerak refleks yang tidak memerlukan pemikiran dan permenungan. Sebab alarm dan sistem kesadaran kita sudah bergerak mekanis tanpa perlu pertimbangan ini dan itu.
Hidup mekanis adalah hidup yang tidak perlu direfleksikan dan direnungkan. Semuanya berjalan begitu saja. Pagi-pagi bangun tidur, bersiap-siap untuk bekerja atau menjalani hari, semua itu berlangsung secara cepat. Mereka yang bekerja di kantor atau menjalankan bisnis sendiri bekerja dengan tuntutan atau target tertentu. Dalam situasi seperti itu hidup menjadi seperti robot.
Beruntung teknologi menyediakan hiburan-hiburan sehingga selama menjalani waktu sehari-hari itu orang masih bisa tertawa, sedih, gembira, terharu. Semua itu dipicu oleh konten yang dihadirkan melalui perangkat teknologi digital yang selalu kita genggam ke mana-mana. Ponsel tidak lagi hanya alat komunikasi. Ia adalah teman dalam suka dan duka sekaligus. Dengan ponsel hidup kita terdigitalkan. Dibangunkan oleh alarm, diingatkan oleh kalender, dihibur oleh tayangan video atau gambar atau dibuat terharu atau sedih oleh cerita yang memenuhi layar.
Singkatnya manusia-ponsel adalah sudah seperti kepingan mata uang dengan dua sisi. Ia menjadi teman yang personal dan asisten sekaligus dalam aktivitas di tempat kerja. Sepanjang waktu. Jadi ketergantungan manusia terhadap ponsel sudah tak terelakkan lagi.
Di dalam dunia korporasi dan organisasi birokrasi, ponsel juga sudah menjadi instrumen untuk mengerjakan tugas-tugas rutin. Ia meringankan dan memberatkan sekaligus. Meringankan karena kemampuannya untuk mengerjakan tugas yang semakin "pintar". Memberatkan karena membuat hakikat manusia sebagai individu yang otonom tidak lagi berdaya tanpa ada ponsel di saku atau genggaman tangan.
Pemerhati Human Capital
ADAPTASI kebiasaan baru sudah berlangsung beberapa minggu. Kantor-kantor mulai membuka lembaran baru setelah sempat menghentikan aktivitas selama beberapa waktu. Pandemi korona (Covid-19) yang belum juga berlalu memaksa orang untuk menjalani aktivitas di tengah-tengah masyarakat dengan cara-cara yang baru.
Beradaptasi dengan kebiasaan baru tidaklah mudah. Apalagi kalau kebiasaan itu sudah dijalani bertahun-tahun, tidak lagi perlu dipersiapkan dan direncanakan secara mendalam. Semua tindakan sudah seperti gerak refleks yang tidak memerlukan pemikiran dan permenungan. Sebab alarm dan sistem kesadaran kita sudah bergerak mekanis tanpa perlu pertimbangan ini dan itu.
Hidup mekanis adalah hidup yang tidak perlu direfleksikan dan direnungkan. Semuanya berjalan begitu saja. Pagi-pagi bangun tidur, bersiap-siap untuk bekerja atau menjalani hari, semua itu berlangsung secara cepat. Mereka yang bekerja di kantor atau menjalankan bisnis sendiri bekerja dengan tuntutan atau target tertentu. Dalam situasi seperti itu hidup menjadi seperti robot.
Beruntung teknologi menyediakan hiburan-hiburan sehingga selama menjalani waktu sehari-hari itu orang masih bisa tertawa, sedih, gembira, terharu. Semua itu dipicu oleh konten yang dihadirkan melalui perangkat teknologi digital yang selalu kita genggam ke mana-mana. Ponsel tidak lagi hanya alat komunikasi. Ia adalah teman dalam suka dan duka sekaligus. Dengan ponsel hidup kita terdigitalkan. Dibangunkan oleh alarm, diingatkan oleh kalender, dihibur oleh tayangan video atau gambar atau dibuat terharu atau sedih oleh cerita yang memenuhi layar.
Singkatnya manusia-ponsel adalah sudah seperti kepingan mata uang dengan dua sisi. Ia menjadi teman yang personal dan asisten sekaligus dalam aktivitas di tempat kerja. Sepanjang waktu. Jadi ketergantungan manusia terhadap ponsel sudah tak terelakkan lagi.
Di dalam dunia korporasi dan organisasi birokrasi, ponsel juga sudah menjadi instrumen untuk mengerjakan tugas-tugas rutin. Ia meringankan dan memberatkan sekaligus. Meringankan karena kemampuannya untuk mengerjakan tugas yang semakin "pintar". Memberatkan karena membuat hakikat manusia sebagai individu yang otonom tidak lagi berdaya tanpa ada ponsel di saku atau genggaman tangan.