Filosofi Wayang Masih Aktual Dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Jum'at, 11 November 2022 - 13:12 WIB
Sementara itu, Dirjen Kebudayaan Kemendikbudristek Hilmar Farid berharap perayaan Hari Wayang Nasional tahun depan tidak sekadar seremonial tapi ada aksi nyata untuk pengenalan serta pengembangan ke generasi milenial.

“Kami berharap tahun depan dalam merayakan hari wayang tidak sekedar seremonial tapi ada pagelaran wayang di gelanggang remaja, kami upayakan tempatnya,” ujarnya.

Hal ini kata dia, sesuai mandat rapat ICH NGO’s Forum UNESCO pada 11 Desember 2019, saat Sidang Ke-14 Komite Antar Pemerintah tentang Implementasi Konvensi Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, di Bogota, Kolombia, pada tanggal 9-14 Desember 2019.

Sementara itu, Ketua Umum Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (Senawangi) Suparmin Sunjoyo menambahkan wayang bernapaskan keleluasaan pandangan yang mengedepankan dialog dalam perbedaan. Serta bernapaskan toleransi terhadap pluralitas untuk menerima komunitas lain. Baca juga: Peringati Hari Sumpah Pemuda, PDIP Lestarikan Budaya Lewat Wayang Kulit

“Wayang itu bukan Jawa sentris, tetapi Indonesia sentris. Karena ada Wayang Golek, Wayang Bali, Wayang Sasak, Wayang Banjar, Wayang Si Gale-Gale, Wayang Potehi, Wayang Orang, Wayang Revolusi dan lain-lain termasuk wayang kontemporer. Jadi wayang lebih menyatukan rakyat dan bangsa Indonesia,” tutupnya.
(kri)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!