Waspada, BMKG Ingatkan Potensi Cuaca Ekstrem Selama Sepekan
Selasa, 08 November 2022 - 06:33 WIB
Sementara pada tanggal 10 hingga 11 November, cuaca ekstrem berpotensi melanda Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kep.Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah.
Selanjutnya, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Maluku, Papua Barat, dan Papua.
Guswanto menjelaskan, potensi cuaca ekstrem terjadi karena adanya gangguan fenomena Madden Julian Oscillation (MJO). Fenomena MJO diprakirakan terpantau aktif di Samudra Hindia selatan Jawa, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan yang berpotensi menyebabkan peningkatan pertumbuhan awan hujan di wilayah tersebut.
"Hasil analisis kondisi iklim global menunjukkan kondisi La Nina lemah dengan nilai SOI sebesar +14.8 dan nilai Nino3.4 sebesar -0.75 yang secara umum memberikan latar belakang atmosfer yang lebih basah di wilayah Indonesia bagian timur daripada kondisi normalnya," beber Guswanto.
"Selain itu, kondisi IOD juga bernilai -0.54 yang menunjukkan aktivitas pembentukan awan di wilayah Indonesia bagian barat signifikan," imbuhnya.
Selanjutnya, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Maluku, Papua Barat, dan Papua.
Guswanto menjelaskan, potensi cuaca ekstrem terjadi karena adanya gangguan fenomena Madden Julian Oscillation (MJO). Fenomena MJO diprakirakan terpantau aktif di Samudra Hindia selatan Jawa, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan yang berpotensi menyebabkan peningkatan pertumbuhan awan hujan di wilayah tersebut.
"Hasil analisis kondisi iklim global menunjukkan kondisi La Nina lemah dengan nilai SOI sebesar +14.8 dan nilai Nino3.4 sebesar -0.75 yang secara umum memberikan latar belakang atmosfer yang lebih basah di wilayah Indonesia bagian timur daripada kondisi normalnya," beber Guswanto.
"Selain itu, kondisi IOD juga bernilai -0.54 yang menunjukkan aktivitas pembentukan awan di wilayah Indonesia bagian barat signifikan," imbuhnya.
(muh)
Lihat Juga :