Sering Jadi Nama Jalan, Berikut Sepak Terjang Jenderal TNI Gatot Subroto
Jum'at, 14 Oktober 2022 - 16:31 WIB
Ketika Perang Dunia II bergejolak tahun 1939, Indonesia lalu diduduki oleh Jepang. Pada masa ini Gatot Subroto lantas mengikuti pendidikan Tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor.
Latar belakang terbentuknya PETA ini rupanya berawal dari surat Gatot Mangkupraja kepada Gunseikan (kepala pemerintahan militer Jepang) pada bulan September 1943. Surat tersebut berisi permohonan agar bangsa Indonesia diperkenankan membantu pemerintahan Jepang di medan perang.
PETA merupakan tempat dimana Gatot Subroto melebarkan sayapnya. Setelah tamat dari pendidikan PETA, Gatot Subroto kemudian diangkat pemerintah Jepang menjadi komandan kompi di Sumpiuh, Banyumas dan tidak berapa lama kemudian dinaikkan menjadi komandan batalyon.
Selama menjabat sebagai komandan kompi dan komandan batalyon, Gatot Subroto dinilai sering memihak kepada rakyat pribumi, maka dari itu ia sering mendapat teguran dari atasannya.
Kesertaan Gatot Subroto menjadi anggota KNIL maupun PETA tidaklah mengindikasikan dirinya seorang kaki tangan pihak kolonial atau jiwa kebangsaannya yang rendah. Tapi hal itu hanyalah sebatas pekerjaan yang sudah lumrah pada masa itu.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan, tahun 1945-1946 di Banyumas, Gatot Subroto berhasil mengambil alih kekuasaan kepolisian, dia kemudian diangkat menjadi komandan polisi di Purwokerto untuk mengamankan daerah tersebut.
Latar belakang terbentuknya PETA ini rupanya berawal dari surat Gatot Mangkupraja kepada Gunseikan (kepala pemerintahan militer Jepang) pada bulan September 1943. Surat tersebut berisi permohonan agar bangsa Indonesia diperkenankan membantu pemerintahan Jepang di medan perang.
PETA merupakan tempat dimana Gatot Subroto melebarkan sayapnya. Setelah tamat dari pendidikan PETA, Gatot Subroto kemudian diangkat pemerintah Jepang menjadi komandan kompi di Sumpiuh, Banyumas dan tidak berapa lama kemudian dinaikkan menjadi komandan batalyon.
Selama menjabat sebagai komandan kompi dan komandan batalyon, Gatot Subroto dinilai sering memihak kepada rakyat pribumi, maka dari itu ia sering mendapat teguran dari atasannya.
Kesertaan Gatot Subroto menjadi anggota KNIL maupun PETA tidaklah mengindikasikan dirinya seorang kaki tangan pihak kolonial atau jiwa kebangsaannya yang rendah. Tapi hal itu hanyalah sebatas pekerjaan yang sudah lumrah pada masa itu.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan, tahun 1945-1946 di Banyumas, Gatot Subroto berhasil mengambil alih kekuasaan kepolisian, dia kemudian diangkat menjadi komandan polisi di Purwokerto untuk mengamankan daerah tersebut.
Lihat Juga :