Pengamat Ingatkan Sikap Pemerintah soal Invansi Rusia ke Ukraina
Kamis, 01 September 2022 - 12:00 WIB
Warga melintas di stadion yang hancur akibat serangan militer Rusia, di Bakhmut, Ukraina, Rabu (12/7/2022). Stadion ini merupakan fasilitas olahraga bagi para atlet olimpiade Ukraina. REUTERS/Gleb Garanich
JAKARTA - Pengamat Ilmu Komunikasi Pascasarjana Universitas Sahid, Algooth Putranto menilai Pemerintah Indonesia kurang tegas mengenai kebijakan soal tindakan Rusia menyerbu Ukraina . Pandangan ini mengacu pada hasil survei tanggapan masyarakat terhadap konflik tersebut.
“Hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) sudah sangat jelas bahwa mayoritas responden tidak setuju Rusia menyerbu Ukraina dan menilai sebaiknya Presiden Jokowi mengambil peran aktif ikut mendamaikan perang Rusia-Ukraina. Yang terjadinya malah pemerintah kita tak tegas,” katanya, Rabu (31/8/2022). Baca juga: Uni Eropa Tangguhkan Perjanjian Visa dengan Rusia
Hasil riset SMRC mengenai Opini Publik tentang KTT G20 yang digelar 5-13 Agustus 2022 mendapati sebanyak 71% tidak setuju Rusia menyerbu Ukraina . Sebanyak 58% menilai sebaiknya Presiden Jokowi mengambil peran aktif ikut mendamaikan perang Rusia-Ukraina.
Menariknya, mayoritas responden yang tidak setuju tidak kemudian mendukung pelarangan Rusia menghadiri kegiatan G20 di Bali. Sehingga dapat diartikan masyarakat sudah dapat membedakan antara bersikap dan bertingkah laku sebagai tuan rumah kegiatan internasional.
“Hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) sudah sangat jelas bahwa mayoritas responden tidak setuju Rusia menyerbu Ukraina dan menilai sebaiknya Presiden Jokowi mengambil peran aktif ikut mendamaikan perang Rusia-Ukraina. Yang terjadinya malah pemerintah kita tak tegas,” katanya, Rabu (31/8/2022). Baca juga: Uni Eropa Tangguhkan Perjanjian Visa dengan Rusia
Hasil riset SMRC mengenai Opini Publik tentang KTT G20 yang digelar 5-13 Agustus 2022 mendapati sebanyak 71% tidak setuju Rusia menyerbu Ukraina . Sebanyak 58% menilai sebaiknya Presiden Jokowi mengambil peran aktif ikut mendamaikan perang Rusia-Ukraina.
Menariknya, mayoritas responden yang tidak setuju tidak kemudian mendukung pelarangan Rusia menghadiri kegiatan G20 di Bali. Sehingga dapat diartikan masyarakat sudah dapat membedakan antara bersikap dan bertingkah laku sebagai tuan rumah kegiatan internasional.
Lihat Juga :