Ini Sosok Hoegeng, Polisi yang Disebut Gus Dur Tidak Mempan Disogok
Jum'at, 19 Juni 2020 - 06:46 WIB
Salah satu kelompok bahkan berusaha menyogok Hoegeng yang saat itu bertugas sebagai Kepala Direktorat Reskrim Kantor Polisi Sumut. Begitu tiba di Medan, sekelompok orang tidak dikenal telah menyambutnya dan mengucapkan selamat.
Perwakilan itu menyatakan, pihaknya telah menyediakan rumah dan juga mobil untuknya. Namun ditolak oleh Hoegeng, dan dia meninggalkan orang tersebut. Lalu bergabung dengan beberapa polisi yang menjemputnya, dan pergi bersama mereka.
Setelah beberapa waktu tinggal di hotel, rumah dinas Hoegeng pun siap ditempati. Setibanya di rumah dinas itu, Hoegeng terkejut bukan main karena orang-orang yang dulu ditemuinya sudah ada di situ dan mengisi rumah dengan perabot mewah.
Hoegeng pun marah, dan meminta barang-barang itu dikeluarkan. Dua jam kemudian, barang-barang tersebut dikeluarkan oleh Hoegeng, dan orang-orang tersebut pun bengong. Namun, mereka tidak jera untuk terus berusaha menyogok Hoegeng.
Beberapa waktu kemudian, istri Hoegeng, Merry sempat diisukan telah menerima cincin berlian dari orang India. Hoegeng lalu menemukan orang India itu kepada istrinya. Tetapi setelah bertemu istrinya, orang India itu mengaku tidak mengenalnya.
Merasa difitnah, Hoegeng marah besar dan hampir melukai orang India itu, karena melemparnya dengan tempat sampah. Dari beberapa kisah antikorupsi di Medan, nama Hoegeng pun makin dikenal. Dia menjadi sangat disegani oleh para pejabat.
"Ketika akhirnya saya menjadi Kapolri pada 1968, saya punya banyak cita-cita. Seperti orang lain pada umumnya, saya menaruh banyak harapan terhadap Orde Baru, karena menjanjikan koreksi total terhadap kesalahan Orde Lama," ungkapnya.
Saat pertama menjadi Kapolri, Hoegeng harus menghadapi berbagai masalah. Salah satu yang terbesar adalah mengembalikan citra polisi sebagai penolong rakyat. Tugas ini cukup berat, karena institusi Polri sudah terlanjur buruk.
Seperti dikeluhkan olehnya. "Tidak mudah menjadi polisi yang baik. Persoalan yang dihadapi polisi dari masa ke masa adalah soal citra. Dari sebutan "prit jigo" sampai citra tukang pukul tahanan," terangnya.
Prit jigo merupakan sebutan untuk polisi yang suka "damai" dengan pelanggar lalu lintas di jalan. Untuk menghilangkan sebutan ini, Hoegeng sempat kewalahan. Namun, dengan memberikan kesadaran moral secara perlahan, dia bisa mengatasinya.
Kendati masih banyak polisi "nakal", namun di zaman Hoegeng hal ini mendapatkan perhatian lebih. Kedua adalah saat diterapkannya peraturan memakai helm. Ada oknum polisi yang mengambil keuntungan dengan berbinis helm.
Bisnis helm polisi itu langsung dia berangus. Kontan, dia mulai mendapatkan musuh dari dalam institusi Polri yang tidak setuju dengan sikapnya yang "terlampau lurus". Gebrakan yang dia lakukan selanjutnya adalah menghapus sogokan-sogokan.
Marak terjadi, masyarakat yang ingin menjadi polisi harus membayar agar bisa lolos. Hal itu diungkap Hoegeng, dan beberapa waktu kemudian praktik tersebut bisa dihilangkan sedikit demi sedikit. Meski diluar pengawasannya hal itu masih terjadi.
Hal lain yang sempat ramai dibicarakan saat Hoegeng menjabat Kapolri adalah ketika tren golf menyerang para pejabat. Hoegeng tidak ikut bermain, karena tidak memiliki uang untuk membeli stik golf yang harganya mahal.
Perwakilan itu menyatakan, pihaknya telah menyediakan rumah dan juga mobil untuknya. Namun ditolak oleh Hoegeng, dan dia meninggalkan orang tersebut. Lalu bergabung dengan beberapa polisi yang menjemputnya, dan pergi bersama mereka.
Setelah beberapa waktu tinggal di hotel, rumah dinas Hoegeng pun siap ditempati. Setibanya di rumah dinas itu, Hoegeng terkejut bukan main karena orang-orang yang dulu ditemuinya sudah ada di situ dan mengisi rumah dengan perabot mewah.
Hoegeng pun marah, dan meminta barang-barang itu dikeluarkan. Dua jam kemudian, barang-barang tersebut dikeluarkan oleh Hoegeng, dan orang-orang tersebut pun bengong. Namun, mereka tidak jera untuk terus berusaha menyogok Hoegeng.
Beberapa waktu kemudian, istri Hoegeng, Merry sempat diisukan telah menerima cincin berlian dari orang India. Hoegeng lalu menemukan orang India itu kepada istrinya. Tetapi setelah bertemu istrinya, orang India itu mengaku tidak mengenalnya.
Merasa difitnah, Hoegeng marah besar dan hampir melukai orang India itu, karena melemparnya dengan tempat sampah. Dari beberapa kisah antikorupsi di Medan, nama Hoegeng pun makin dikenal. Dia menjadi sangat disegani oleh para pejabat.
"Ketika akhirnya saya menjadi Kapolri pada 1968, saya punya banyak cita-cita. Seperti orang lain pada umumnya, saya menaruh banyak harapan terhadap Orde Baru, karena menjanjikan koreksi total terhadap kesalahan Orde Lama," ungkapnya.
Saat pertama menjadi Kapolri, Hoegeng harus menghadapi berbagai masalah. Salah satu yang terbesar adalah mengembalikan citra polisi sebagai penolong rakyat. Tugas ini cukup berat, karena institusi Polri sudah terlanjur buruk.
Seperti dikeluhkan olehnya. "Tidak mudah menjadi polisi yang baik. Persoalan yang dihadapi polisi dari masa ke masa adalah soal citra. Dari sebutan "prit jigo" sampai citra tukang pukul tahanan," terangnya.
Prit jigo merupakan sebutan untuk polisi yang suka "damai" dengan pelanggar lalu lintas di jalan. Untuk menghilangkan sebutan ini, Hoegeng sempat kewalahan. Namun, dengan memberikan kesadaran moral secara perlahan, dia bisa mengatasinya.
Kendati masih banyak polisi "nakal", namun di zaman Hoegeng hal ini mendapatkan perhatian lebih. Kedua adalah saat diterapkannya peraturan memakai helm. Ada oknum polisi yang mengambil keuntungan dengan berbinis helm.
Bisnis helm polisi itu langsung dia berangus. Kontan, dia mulai mendapatkan musuh dari dalam institusi Polri yang tidak setuju dengan sikapnya yang "terlampau lurus". Gebrakan yang dia lakukan selanjutnya adalah menghapus sogokan-sogokan.
Marak terjadi, masyarakat yang ingin menjadi polisi harus membayar agar bisa lolos. Hal itu diungkap Hoegeng, dan beberapa waktu kemudian praktik tersebut bisa dihilangkan sedikit demi sedikit. Meski diluar pengawasannya hal itu masih terjadi.
Hal lain yang sempat ramai dibicarakan saat Hoegeng menjabat Kapolri adalah ketika tren golf menyerang para pejabat. Hoegeng tidak ikut bermain, karena tidak memiliki uang untuk membeli stik golf yang harganya mahal.
Lihat Juga :