TGB: Pemimpin Harus Mendengar Beragam Aspirasi
Jum'at, 04 Maret 2022 - 14:15 WIB
TGB Muhammad Zainul Majdi berpendapat bahwa seorang pemimpin harus mendengar banyak aspirasi masyarakat. FOTO/DOK.TGB
JAKARTA - Muhammad Zainul Majdi atau lebih dikenal Tuan Guru Bajang (TGB) merupakan contoh pemimpin yang berangkat dari daerah dan telah makan asam garam kerasnya pertarungan politik praktis. Sebagai mantan kepala daerah, dia punya pandangan luas mengenai kancah perpolitikan nasional.
Menurutnya, pasca reformasi beragam sektor, seperti ekonomi, sosial, dan politik, telah menunjukkan hasil yang nyata. Pada tataran institusi dan regulasi politik, menurutnya, Indonesia telah memiliki secara lengkap. Akan tetapi, dia punya catatan tentang praktik politik yang kadang-kadang sering bertentangan dengan diametral nilai-nilai politik, berbangsa, dan demokrasi. Contohnya, suara-suara penundaan pemilu atau perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode.
"Padahal Presiden sendiri berulang kali menegaskan bahwa beliau tidak mau," katanya kepada Koran SINDO, Selasa (2/3/2022).
Setelah reformasi Indonesia telah dipimpin empat presiden berbeda dengan beragam tantangan yang dihadapi pada masing-masing eranya. Kini, pemilu tinggal dua tahun lagi dan tantangannya akan semakin variatif. TGB memaparkan pemimpin Indonesia ke depan harus menavigasi Indonesia ke arah yang lebih baik di era turbulensi dan disrupsi.
"Kalau kita bicara menavigasi itu berarti ada arah yang harus dituju. Ada kompetensi untuk mengelola dinamika lingkungan geopolitik yang ada, baik itu internal dalam negeri, regional, maupun internasional. Apalagi kita melihat pertarungan antarnegara-negara besar untk menjadi adidaya atau penguasa de facto di dunia ini cukup keras dan kuat," ucapnya.
Tantangan nyata di depan adalah ekonomi, sosial, politik, dan tentu saja, kesehatan. Pemimpin juga harus bisa menyeimbangkan dan mengonsolidasi seluruh kepentingan yang tumbuh dan berkembang di Nusantara ini. Siapa pun pemimpin Indonesia nantinya harus bisa mendengar beragam aspirasi masyarakat sehingga dapat menjaga keutuhan bangsa ini.
Menurutnya, pasca reformasi beragam sektor, seperti ekonomi, sosial, dan politik, telah menunjukkan hasil yang nyata. Pada tataran institusi dan regulasi politik, menurutnya, Indonesia telah memiliki secara lengkap. Akan tetapi, dia punya catatan tentang praktik politik yang kadang-kadang sering bertentangan dengan diametral nilai-nilai politik, berbangsa, dan demokrasi. Contohnya, suara-suara penundaan pemilu atau perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode.
"Padahal Presiden sendiri berulang kali menegaskan bahwa beliau tidak mau," katanya kepada Koran SINDO, Selasa (2/3/2022).
Setelah reformasi Indonesia telah dipimpin empat presiden berbeda dengan beragam tantangan yang dihadapi pada masing-masing eranya. Kini, pemilu tinggal dua tahun lagi dan tantangannya akan semakin variatif. TGB memaparkan pemimpin Indonesia ke depan harus menavigasi Indonesia ke arah yang lebih baik di era turbulensi dan disrupsi.
"Kalau kita bicara menavigasi itu berarti ada arah yang harus dituju. Ada kompetensi untuk mengelola dinamika lingkungan geopolitik yang ada, baik itu internal dalam negeri, regional, maupun internasional. Apalagi kita melihat pertarungan antarnegara-negara besar untk menjadi adidaya atau penguasa de facto di dunia ini cukup keras dan kuat," ucapnya.
Tantangan nyata di depan adalah ekonomi, sosial, politik, dan tentu saja, kesehatan. Pemimpin juga harus bisa menyeimbangkan dan mengonsolidasi seluruh kepentingan yang tumbuh dan berkembang di Nusantara ini. Siapa pun pemimpin Indonesia nantinya harus bisa mendengar beragam aspirasi masyarakat sehingga dapat menjaga keutuhan bangsa ini.
Lihat Juga :