Gawat! Prajurit TNI Ngamuk, Komandan Diikat di Tiang Listrik

Minggu, 13 Februari 2022 - 08:18 WIB
Tidak hanya pemimpin yang menjual kaporlap, Prabowo juga menceritakan tindakan pemimpin yang tidak benar. Salah satunya, mengorupsi uang makan anak buahnya sendiri. Hal itu pernah terjadi di salah satu pasukan elite TNI.



”Sebuah kesatuan elite protes karena makannya tidak baik. Cara protesnya adalah mereka membariskan rantang-rantang yang dikenal sebagai rantang maxim. Dibariskan sekian ratus rantang tersebut di depan piket Kesatriat sehingga waktu komandan masuk di jajarkan di depan piket. Ini bentuk rasa tidak puas prajurit, makan mereka di korupsi,” ucapnya.

Prabowo mengakui, penyelewengan yang sering ditemukan adalah hal-hal semacam ini. Menantu dari Presiden ke 2 RI Soeharto menyebut, korupsi yang paling banyak di pasukan adalah mengorupsi, mencuri uang uang makan anak buah sendiri.

Tak ingin hal itu terjadi pada anak buahnya, putra dari begawan ekonomi Soemitro Djojohadikusumo ini banyak belajar dari Letnan Jenderal TNI (Purn) Himawan Soetanto. Bagi Prabowo, sosok Himawan Soetanto merupakan contoh pemimpin yang baik dan dekat dengan anak buah.

”Salah satu nilai yang saya dapat dari Pak Himawan Soetanto adalah komandan harus dekat dengan anak buah. Komandan harus bersama mereka dari bangun pagi sampai tidur. Komandan harus cek bagaimana kondisi anak buah mulai dari dapur, kamar mandi, bahkan harus juga periksa pakaian dalam anak buah,” katanya.

Prabowo mengaku mengenal sosok Himawan Soetanto saat dirinya masuk AKABRI. Saat itu, yang bersangkutan menjabat sebagai Wakil Gubernur AKABRI Bidang Operasi Pendidikan. Memiliki kemampuan bahasa Inggris, Belanda dan Jepang, Himawan Soetanto merupakan sosok pemimpin yang berwawasan luas karena gemar membaca, santai dan tidak kaku serta dekat anak buah.

”Belajar dari Pak Himawan Soetanto tersebutlah, saya mempunyai kebiasaan mengecek detail dapur dan pelengkapan anak buah. Pada suatu waktu saya pernah menemukan pakaian dalam prajurit sudah cokelat bukan putih lagi. Saya juga pernah menemukan korupsi yang paling banyak itu selalu dari dapur. Daging satu kilogram untuk 16 orang. Akhirnya di TNI sempat disebut daging silet. Karena daging setipis silet. Tragis,” kenangnya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!