Akses Air Bersih Ditargetkan Merata dan Setara di Aceh Pada 2030
Minggu, 19 Desember 2021 - 23:20 WIB
Kegiatan yang diinisiasi Ikatan Alumni Jerman (IAJ) Aceh ini diawali sesi konferensi yang menghadirkan narasumber dari Kementerian PPN dan BAPPENAS, Kementerian PUPR, Bappeda Aceh, Dinas ESDM Aceh, BPBD Aceh, Balai Wilayah Sungai I Sumatera. Salain itu, kegiatan yang dilaksanakan oleh Yayasan Bijèh InspirAktion ini juga menghadirkan narasumber dari PT Solusi Bangun Andalas (SBA), Lembaga Karst Aceh, Lembaga Solidaritas Perempuan, dan PT Varsha Zamindo Lestari. Acara dilanjutkan dengan 5 Focus Group Discussion (FGD).
Beberapa poin-poin penting dihasilkan dalam KAA 2021 yang menjadi dasar perumuskan rekomendasi kebijakan serta arah strategis pembangunan di bidang air dan sanitasi. Pertama, terkait kawasan Karst yang merupakan salah satu ekosistem sumber air berkualitas tinggi seperti di Kawasan Kaloy Aceh Tamiang, Lhok Nga Aceh Besar, hingga Lamno Aceh Jaya mampu mencegah potensi kekeringan. Kawasan Karst sebagai sumber air penting untuk dijaga dan diselamatkan dari kerusakan. Karena itu, sangat penting dilakukan penetapan kawasan karst yang berpotensi terhadap peningkatan akses air dan penghidupan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Aceh.
Poin penting lainnya adalah mendesak pelaksanaan program RPJMA 2022 untuk membangun masyarakat yang berkualitas dan berdaya saing untuk mewujudkan kemandirian ekonomi yang inklusif. Program perumahaan, permukiman, air bersih, dan sanitasi merupakan unggulan dalam mencapai akses universal air minum yang merata, aman, dan terjangkau. Hal ini tentunya dengan fokus pembangunan infratruktur air dan sanitasi untuk kelompok rentan.
"Di sisi bencana, poin penting yang didapat adalah Aceh termasuk daerah yang memiliki potensi kekeringan seluas 5.707.385 hektare. Hal ini bisa berakibat pada turunnya produktivitas pertanian, peternakan, dan meningkatnya kemiskinan serta turunnya kualitas hidup," katanya.
Baca juga: Jaga Kesehatan Masyarakat, Kemenkes Kejar Perbaikan Sanitasi
Beberapa poin-poin penting dihasilkan dalam KAA 2021 yang menjadi dasar perumuskan rekomendasi kebijakan serta arah strategis pembangunan di bidang air dan sanitasi. Pertama, terkait kawasan Karst yang merupakan salah satu ekosistem sumber air berkualitas tinggi seperti di Kawasan Kaloy Aceh Tamiang, Lhok Nga Aceh Besar, hingga Lamno Aceh Jaya mampu mencegah potensi kekeringan. Kawasan Karst sebagai sumber air penting untuk dijaga dan diselamatkan dari kerusakan. Karena itu, sangat penting dilakukan penetapan kawasan karst yang berpotensi terhadap peningkatan akses air dan penghidupan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Aceh.
Poin penting lainnya adalah mendesak pelaksanaan program RPJMA 2022 untuk membangun masyarakat yang berkualitas dan berdaya saing untuk mewujudkan kemandirian ekonomi yang inklusif. Program perumahaan, permukiman, air bersih, dan sanitasi merupakan unggulan dalam mencapai akses universal air minum yang merata, aman, dan terjangkau. Hal ini tentunya dengan fokus pembangunan infratruktur air dan sanitasi untuk kelompok rentan.
"Di sisi bencana, poin penting yang didapat adalah Aceh termasuk daerah yang memiliki potensi kekeringan seluas 5.707.385 hektare. Hal ini bisa berakibat pada turunnya produktivitas pertanian, peternakan, dan meningkatnya kemiskinan serta turunnya kualitas hidup," katanya.
Baca juga: Jaga Kesehatan Masyarakat, Kemenkes Kejar Perbaikan Sanitasi
Lihat Juga :