Capres Golkar Disebut Bisa Kuasai Jabar, Asal Tak Ada Isu Agama
Sabtu, 20 November 2021 - 20:12 WIB
Adi menuturkan, suara Golkar bisa menguat jika mereka mencalonkan kadernya sendiri. Terlebih, pencalonan tersebut akan memberi efek ekor jas kepada partai berlambang pohon beringin tersebut saat pemilihan legislatif.
"Golkar bisa menguat signifikan karena dapat coattail effect di Pileg. Itu otomatis. Soal Pilpres, tergantung siapa pasangan Airlangga," ujarnya.
Adi menambahkan, jika Golkar berkoalisi dengan PDIP, dan kader mereka menjadi capres, kemungkinan suara Golkar menguat. Namun, apabila jagoan Golkar hanya menjadi cawapres, dia menyebut agak sulit memenangkan suara pileg.
"Karena secara alamiah, berkaca Pileg 2014 dan 2019, Golkar belum pernah juara," ujarnya.
Lebih lanjut Adi menambahkan, suara pemilih Jabar sukar ditebak. Oleh karena itu, dia mengakui sulit membaca kekuatan politik di provinsi tersebut khususnya dalam pemilihan legislatif.
"Di pilpres mayoritas anti-Jokowi. Tapi di Pileg silih berganti pemenangnya. 2014 yang menang PDIP disusul Golkar runner-up. Pileg 2019 Gerindra pemenangnya, ketiga PKS, Golkar posisi empat," katanya.
"Golkar bisa menguat signifikan karena dapat coattail effect di Pileg. Itu otomatis. Soal Pilpres, tergantung siapa pasangan Airlangga," ujarnya.
Adi menambahkan, jika Golkar berkoalisi dengan PDIP, dan kader mereka menjadi capres, kemungkinan suara Golkar menguat. Namun, apabila jagoan Golkar hanya menjadi cawapres, dia menyebut agak sulit memenangkan suara pileg.
"Karena secara alamiah, berkaca Pileg 2014 dan 2019, Golkar belum pernah juara," ujarnya.
Lebih lanjut Adi menambahkan, suara pemilih Jabar sukar ditebak. Oleh karena itu, dia mengakui sulit membaca kekuatan politik di provinsi tersebut khususnya dalam pemilihan legislatif.
"Di pilpres mayoritas anti-Jokowi. Tapi di Pileg silih berganti pemenangnya. 2014 yang menang PDIP disusul Golkar runner-up. Pileg 2019 Gerindra pemenangnya, ketiga PKS, Golkar posisi empat," katanya.
Lihat Juga :