Melacak Jejak Harimau Jawa, Raja Rimba yang Menolak Punah (3-tamat)

Minggu, 14 November 2021 - 01:54 WIB
Untuk memperluas area pelacakan, jumlah kamera pengintai pun ditambah. Pelacakan tidak hanya berlaku untuk harimau Jawa, tetapi juga macan kumbang, macan tutul termasuk burung merak. Begitu juga dengan lokasi pelacakan. Tidak hanya di kawasan lereng Gunung Wilis. Tapi juga berlaku pada lereng Gunung Kelud yang juga memiliki kawasan hutan cukup tebal.

baca juga: Kasus Perdagangan Tulang Harimau di Pasaman Barat Siap Disidangkan

Setelah tiga bulan pengintaian, tim tidak juga menemukan penampakan harimau Jawa, hingga kamera pengintai ditarik dari lokasi dan diobservasi lebih jauh. Sementara di sisi lain, tidak ada lagi laporan warga setempat yang melihat keberadaan harimau, bahkan hingga detik ini.

Nyoto Santoso, dosen Fakultas Kehutanan IPB, dalam opininya di Koran SINDO/2017, berjudul Harimau Jawa dan Arti Penting Keberadaannya, menyatakan, dalam ekosistem, keberadaan flora dan fauna harus seimbang dan lestari. Jika salah satunya musnah, keseimbangan ekosistem terguncang. Dan ujungnya, manusialah yang paling menderita. Dari perspektif inilah, kita melihat pentingnya keberadaan harimau Jawa.

baca juga: Tragis, Harimau Sumatera Mati Terkena Jerat Babi yang Dipasang Warga

Karena itu, punahnya harimau berkaitan langsung dengan masalah kerusakan alam. Dengan kata lain, punahnya harimau juga mengindikasikan rusaknya ekosistem, rusaknya suhu bumi (global warming), dan rusaknya biodiversitas (keanekaragaman hayati). Itulah sebabnya keberadaan mbah Loreng Jawa tersebut dirindukan kalangan konservasionis dan environmentalis.

Peneliti harimau Jawa, Wahyu Giri Prasetya dalam presentasinya berjudul “Mengapa Kami Menolak Harimau Jawa Punah”, menyatakan implikasi dari pernyataan punah harimau Jawa sangatlah besar terutama pada pengelolaan dan tata guna kawasan. Pasca ada pernyataan harimau Jawa punah, tidak lama berselang muncul kuasa pertambangan (PT Hakman), yang salah satu petaknya mencaplok sebagian Taman Nasional Meru Betiri.

Pada 2000, muncul ijin eksplorasi dari PT Jember Metal dan Banyuwangi Mineral (satu perusahaan) yang luasannya mencaplok seluruh Taman Nasional Meru Betiri. Dan yang mengkhawatirkan lagi adalah perburuan terhadap harimau Jawa semakin bebas (karena sudah dianggap punah).
(hdr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!