Silaturahmi Nasional Penting sebagai Sarana Tabayyun Jaga NKRI
Rabu, 22 September 2021 - 13:42 WIB
Tokoh pemuda Nahdlatul Ulama (NU), Adnan Anwar mengatakan pentingnya menjalin silaturahmi sebagai bekal untuk memperekat persaudaraan kebangsaan dan persatuan NKRI. FOTO/IST
JAKARTA - Dalam konteks berbangsa dan bernegara, persaudaraan tidak hanya dibangun atas dasar persamaan keyakinan, etnis, budaya dan suku. Namun persaudaraan harus diperkuat dalam kerangka persaudaraan kebangsaan , sehingga meski berbeda-beda, bangsa Indonesia bisa hidup berdampingan dengan rukun dan terhindar dari konflik.
Tokoh pemuda Nahdlatul Ulama (NU), Adnan Anwar mengatakan pentingnya menjalin silaturahmi sebagai bekal untuk memperekat persaudaraan kebangsaan dan persatuan NKRI. Terlebih dalam situasi pandemi yang memaksa sebagian besar interaksi dan kegiatan masyarakat terbatasi.
"Mempererat persaudaraan harus terus dijalin melalui silaturahmi nasional yang sering diadakan tahun 1950-1970-an silam, sebagai sarana tabayyun antara kelompok-kelompok masyarakat maupun pemerintah, sehingga tidak menimbulkan multitafsir atau dugaan-dugaan dalam menyikapi berbagai dinamika yang terjadi," kata Adnan Anwar di Jakarta, Selasa (21/9/2021).
Baca juga: Cegah Paham Radikal Terorisme, BNPT Silaturahmi Kebangsaan Ke Suku Baduy
Apalagi, imbuhnya, dewasa ini masyarakat bangsa ini mudah dipecah-belah akibat fenomena liberalisasi informasi, di mana kebebasan berpendapat seringkali tidak memiliki koridor yang tepat antara ruang publik dan ruang privat. Menurutnya, masyarakat selama ini belum diajarkan bagaimana menggunakan ruang publik yang baik yang tidak memicu terjadi mispersepsi dan konflik.
Tokoh pemuda Nahdlatul Ulama (NU), Adnan Anwar mengatakan pentingnya menjalin silaturahmi sebagai bekal untuk memperekat persaudaraan kebangsaan dan persatuan NKRI. Terlebih dalam situasi pandemi yang memaksa sebagian besar interaksi dan kegiatan masyarakat terbatasi.
"Mempererat persaudaraan harus terus dijalin melalui silaturahmi nasional yang sering diadakan tahun 1950-1970-an silam, sebagai sarana tabayyun antara kelompok-kelompok masyarakat maupun pemerintah, sehingga tidak menimbulkan multitafsir atau dugaan-dugaan dalam menyikapi berbagai dinamika yang terjadi," kata Adnan Anwar di Jakarta, Selasa (21/9/2021).
Baca juga: Cegah Paham Radikal Terorisme, BNPT Silaturahmi Kebangsaan Ke Suku Baduy
Apalagi, imbuhnya, dewasa ini masyarakat bangsa ini mudah dipecah-belah akibat fenomena liberalisasi informasi, di mana kebebasan berpendapat seringkali tidak memiliki koridor yang tepat antara ruang publik dan ruang privat. Menurutnya, masyarakat selama ini belum diajarkan bagaimana menggunakan ruang publik yang baik yang tidak memicu terjadi mispersepsi dan konflik.
Lihat Juga :