Mahfuz Sidik: Sangat Mungkin Ada Basis Pemilih PKS Inginkan Ide Sama dengan Gelora
Selasa, 31 Agustus 2021 - 15:03 WIB
Diketahui, Partai Gelora didirikan oleh para mantan petinggi dan kader PKS seperti M Anis Matta dan Fahri Hamzah. Sementara, Partai Ummat didirikan oleh pendiri PAN, M Amien Rais, yang didukung eks kader Partai Amanat Nasional (PAN). Soal hal ini, Robi Nurhadi mengatakan,"Ibarat petani, mereka menggarap sawah yang sama. Potensi suara Gelora berasal dari PKS, dan Ummat dari PAN. Jadi, potensi mengambil suaranya ada."
Robi mengatakan, fenomena "Internal Swing Voters" atau perpindahan suara dari partai-partai yang berasal dari "rumah" yang sama, berpotensi terjadi. Menurutnya, rumah PAN dan Ummat adalah Muhammadiyah, sedangkan rumah PKS dan Gelora adalah gerakan Tarbiyah.
"Kalau dilihat dari situasi sampai dengan Agustus 2021 ini, potensi Gelora mengambil suara PKS cukup berat, sebab PKS itu konsisten menjadi oposisi terhadap pemerintah. Tidak seperti PAN yang beberapa hari lalu bergabung dalam koalisi pemerintah, di saat tokoh-tokoh Muhammadiyah kritis kepada pemerintah. Jadi, Ummat lebih diuntungkan dibanding Gelora," jelasnya.
Hanya masalahnya, lanjut Robi, dari sisi internal, Gelora lebih diuntungkan dibanding Ummat. Faktor kepemimpinan Gelora dilihat lebih memiliki kekuatan "idyosincratic factors" dengan sistem partai terbuka, dibanding PKS. Sementara, di sisi Partai Ummat memiliki kesan sebagai partai dinasti, sehubungan masuknya anak, menantu Amien Rais dalam jajaran pimpinan utama, dibanding PAN yang lebih terkesan sebagai partainya artis.
"Karena itu, kedua partai tersebut harus memenangkan kelompok massa mengambang atau floating mass yang jumlahnya hingga 30 sampai dengan 40 persen suara pemilih. Memenangkan kelompok floating mass hari ini dengan dua cara, yaitu jadilah partai tengah dan menangkan ruang publik melalui socmed," pungkasnya.
Robi mengatakan, fenomena "Internal Swing Voters" atau perpindahan suara dari partai-partai yang berasal dari "rumah" yang sama, berpotensi terjadi. Menurutnya, rumah PAN dan Ummat adalah Muhammadiyah, sedangkan rumah PKS dan Gelora adalah gerakan Tarbiyah.
"Kalau dilihat dari situasi sampai dengan Agustus 2021 ini, potensi Gelora mengambil suara PKS cukup berat, sebab PKS itu konsisten menjadi oposisi terhadap pemerintah. Tidak seperti PAN yang beberapa hari lalu bergabung dalam koalisi pemerintah, di saat tokoh-tokoh Muhammadiyah kritis kepada pemerintah. Jadi, Ummat lebih diuntungkan dibanding Gelora," jelasnya.
Hanya masalahnya, lanjut Robi, dari sisi internal, Gelora lebih diuntungkan dibanding Ummat. Faktor kepemimpinan Gelora dilihat lebih memiliki kekuatan "idyosincratic factors" dengan sistem partai terbuka, dibanding PKS. Sementara, di sisi Partai Ummat memiliki kesan sebagai partai dinasti, sehubungan masuknya anak, menantu Amien Rais dalam jajaran pimpinan utama, dibanding PAN yang lebih terkesan sebagai partainya artis.
"Karena itu, kedua partai tersebut harus memenangkan kelompok massa mengambang atau floating mass yang jumlahnya hingga 30 sampai dengan 40 persen suara pemilih. Memenangkan kelompok floating mass hari ini dengan dua cara, yaitu jadilah partai tengah dan menangkan ruang publik melalui socmed," pungkasnya.
(zik)
Lihat Juga :