Sinergi NU dan BPIP Perkuat Persatuan Bangsa Indonesia yang Majemuk
Kamis, 12 Agustus 2021 - 19:48 WIB
Prakoso menambahkan kedua lembaga ini memiliki kepentingan yang sama untuk menegakkan ideologi Pancasila demi keutuhan bangsa dan negara. "Setiap kegaduhan yang terjadi akan mudah dipadamkan bila dua badan ini bersatu dan saling menguatkan," ujarnya.
Menurut Muhammad Sabri, mengutip Harry J. Benda, tujuan sebuah komunitas masyarakat bernegara adalah untuk menghadirkan kesejahteraan dan kebahagiaan seluruh anggota masyarakatnya. "J. Benda mengatakan bahwa apabila sebagian besar warga negara bahagia maka tugas negara sudah cukup. Namun untuk konteks Indonesia, tanpa ideologi Pancasila yang mampu merangkul seluruh elemen bangsa yang majemuk, tujuan tersebut sulit tercapai," katanya.
Muhammad Sabri menambahkan, Pancasila sebagai teks sudah selesai. Namun sebagai nilai-nilai, Pancasila harus terus dihidupkan di tengah keberagaman bangsa yang melimpah. "Muhammad Iqbal, pemikir Islam, pernah mengatakan bahwa teks suci akan hidup di dalam pikiran yang hidup. Teks suci akan mati di dalam pikiran yang mati," ujarnya.
Memperkuat lontaran pendapat-pendapat di atas, A Muzaini Azis menegaskan, bahwa relasi Islam dan Pancasila sudah tuntas. "Pancasila memiliki kesesuaian dengan Piagam Madinah. Dan Indonesia memiliki kesesuaian dengan Madinah sebagai wilayah yang dihuni masyarakat majemuk. "Tak ada pertentangan antara Islam dan Pancasila," ucapnya.
Abdul Muiz Ali mengatakan bahwa untuk mewujudkan bangsa yang kokoh, Pancasila ditempatkan sebagai asas bersama. Keberagaman dijunjung dengan nilai nilai Pancasila. "Pancasila adalah kesepakatan yang saling menguatkan. Dalam setiap Muswarah Nasional-nya, NU selalu menegaskan melindungi keberagaman. Pancasila mewadahi itu," tuturnya. CM
Menurut Muhammad Sabri, mengutip Harry J. Benda, tujuan sebuah komunitas masyarakat bernegara adalah untuk menghadirkan kesejahteraan dan kebahagiaan seluruh anggota masyarakatnya. "J. Benda mengatakan bahwa apabila sebagian besar warga negara bahagia maka tugas negara sudah cukup. Namun untuk konteks Indonesia, tanpa ideologi Pancasila yang mampu merangkul seluruh elemen bangsa yang majemuk, tujuan tersebut sulit tercapai," katanya.
Muhammad Sabri menambahkan, Pancasila sebagai teks sudah selesai. Namun sebagai nilai-nilai, Pancasila harus terus dihidupkan di tengah keberagaman bangsa yang melimpah. "Muhammad Iqbal, pemikir Islam, pernah mengatakan bahwa teks suci akan hidup di dalam pikiran yang hidup. Teks suci akan mati di dalam pikiran yang mati," ujarnya.
Memperkuat lontaran pendapat-pendapat di atas, A Muzaini Azis menegaskan, bahwa relasi Islam dan Pancasila sudah tuntas. "Pancasila memiliki kesesuaian dengan Piagam Madinah. Dan Indonesia memiliki kesesuaian dengan Madinah sebagai wilayah yang dihuni masyarakat majemuk. "Tak ada pertentangan antara Islam dan Pancasila," ucapnya.
Abdul Muiz Ali mengatakan bahwa untuk mewujudkan bangsa yang kokoh, Pancasila ditempatkan sebagai asas bersama. Keberagaman dijunjung dengan nilai nilai Pancasila. "Pancasila adalah kesepakatan yang saling menguatkan. Dalam setiap Muswarah Nasional-nya, NU selalu menegaskan melindungi keberagaman. Pancasila mewadahi itu," tuturnya. CM
(ars)
Lihat Juga :