Musyawarah Mufakat 'Teknologi Canggih' Warisan Budaya Pecahkan Persoalan
Rabu, 17 Februari 2021 - 16:31 WIB
Padahal, kata founder lembaga survei KedaiKOPI ini, kalau teknologi musyawarah dan mufakat ini terpelihara dengan baik maka berbagai perbedaan pendapat yang ada di Indonesia akan selesai dengan indah.
“Demokrasi itu perbedaan pendapat wajar dan biasa disampaikan. Kalau selisih paham, ya kita bisa selesaikan dengan bermufakat dan bermusyawarah. Intinya dalam demorasi dalam menyampaikan pendapat Pancasila harus dijadikan dasar dalam berkomunikasi,” tutur Hendri.Baca juga: Bicara Kritik, Jubir Presiden Jokowi: Terima Kasih Pak SBY dan Pak JK
Selain itu, lanjut Hendri, kritik harus disampaikan dengan baik. Lebih penting lagi, jangan melakukan kritik yang berbau SARA, terutama agama. “Selalu junjung tinggi asas saling menghormati antarsesama dan kedepankan Persatuan Indonesia,” tukas dosen komunikasi politik Universitas Paramadina ini," tandasnya.
Dia yakin bila musyawarah dan muafakat itu dilakukan maka komunikasi yang terjadi dalam demokrasi adalah saling menghormati. Itu sangat elok dalam membangun dan menjaga keutuhan bangsa dan negara.
Apalagi saat ini banyak sekali musibah dan gangguan yang tengah dihadapi Indonesia. Baik itu berupa pendami maupun serangan ideologi asing. Selain itu dalam berkomunikasi terutama saat memberikan kritik, sambung dia, semua pihak harus bisa menjaga emosi. Itu penting agar pesan komunikasi bisa tersampaikan sehingga tidak berimbas negatif di masyarakat.Baca juga: JK Bicara Cara Kritik Tanpa Dipanggil Polisi, Mahfud MD: Ekspresi Dilema Kita
“Demokrasi itu perbedaan pendapat wajar dan biasa disampaikan. Kalau selisih paham, ya kita bisa selesaikan dengan bermufakat dan bermusyawarah. Intinya dalam demorasi dalam menyampaikan pendapat Pancasila harus dijadikan dasar dalam berkomunikasi,” tutur Hendri.Baca juga: Bicara Kritik, Jubir Presiden Jokowi: Terima Kasih Pak SBY dan Pak JK
Selain itu, lanjut Hendri, kritik harus disampaikan dengan baik. Lebih penting lagi, jangan melakukan kritik yang berbau SARA, terutama agama. “Selalu junjung tinggi asas saling menghormati antarsesama dan kedepankan Persatuan Indonesia,” tukas dosen komunikasi politik Universitas Paramadina ini," tandasnya.
Dia yakin bila musyawarah dan muafakat itu dilakukan maka komunikasi yang terjadi dalam demokrasi adalah saling menghormati. Itu sangat elok dalam membangun dan menjaga keutuhan bangsa dan negara.
Apalagi saat ini banyak sekali musibah dan gangguan yang tengah dihadapi Indonesia. Baik itu berupa pendami maupun serangan ideologi asing. Selain itu dalam berkomunikasi terutama saat memberikan kritik, sambung dia, semua pihak harus bisa menjaga emosi. Itu penting agar pesan komunikasi bisa tersampaikan sehingga tidak berimbas negatif di masyarakat.Baca juga: JK Bicara Cara Kritik Tanpa Dipanggil Polisi, Mahfud MD: Ekspresi Dilema Kita
Lihat Juga :