Pembangunan Melek Bencana

Jum'at, 05 Februari 2021 - 06:05 WIB
Kembali kita perlu sadari di mana kelemahan dan kelengahan itu bersumber. Penulis melihat paling tidak ada tiga titik awal kelemahan yang menjadi pangkal dari tidak terkelolanya kejadian bencana yang saat ini terjadi. Pertama, kita tidak mampu memprediksi dengan baik daya dukung dan daya tampung ekosistem. Kedua, tidak adanya pengawasan dan monitoring pembangunan secara baik, dan ketiga, terlambatnya kita memberikan edukasi kepada masyarakat dalam menentukan keseimbangan pembangunan. Untuk itu, penulis melihat ketiga hal di atas sebagai agenda yang harus dituntaskan.

Tiga Agenda

Ketiga agenda yang tertinggal tersebut harus dituntaskan satu per satu. Pertama, soal daya dukung dan daya tampung. Dalam kajian KLHS sering kita melihat daya dukung dan daya tampung tidak terformulasi dengan baik. Daya dukung fisik lahan menerima pembangunan, daya dukung sosial menerima pengaruh, daya dukung ekologi melakukan resilience, serta daya dukung politik dalam memberikan pertimbangan.

Daya dukung ini seharusnya dijabarkan dalam sebuah model prediksi tampung maksimum dan minimum. Kejadian banjir dan longsor saat ini memperlihatkan kepada kita menurunnya kemampuan lahan menahan laju air. Proses penyerapan dan penyimpanan air tidak mampu diprediksi dengan baik. Seharusnya ketika kita menembang sebuah pohon di dataran tinggi untuk kepentingan pembukaan lahan bagi pembangunan perumahan, hotel atau infrastruktur lainnya, kita sadar bahwa itu sudah menghilangkan kemampuan lahan dalam menahan laju air. Akibatnya air langsung bergerak, baik melalui celah tanah yang terbuka yang membawa erosi dan longsor maupun langsung ke badan air.

Ketika kejadian banjir ini terjadi, kita juga tidak paham berapa lama kondisi akan membaik untuk kembali pulih (resilience). Satu pohon menentukan lamanya air tertahan sebelum mengalir ke anak sungai (ini termasuk skenario daya dukung). Selanjutnya daya dukung juga di tengah, yaitu kemampuan tampung badan air. Sering kali kita menggunakan model prediksi untuk hal ini namun sering juga model yang disajikan tidak operasional.

Di sini penulis berpikir solusinya adalah daya dukung dan daya tampung dalam bentuk model yang operasional dalam pembangunan, tidak sekadar model konseptual yang tertuang dalam dokumen KLHS. Sehingga, dalam penyusunan pedoman KLHS dan tata ruang, orang harus mampu menyiapkan ini, bukan sekadar mampu menyelesaikan administrasi proyek. Banyak terjadi selama ini pelaksana proyek terjebak dalam urusan administrasi dari substansi. Titik lemah ini yang seharusnya diisi kampus atau universitas. Setiap kajian harus dilakukan dan didampingi pakar dari kampus yang tentunya punya banyak desain perencanaan. Teknis pembangunan dapat dilakukan konsultan teknik. Model prediksi daya tampung dan daya dukung menjadi ranah yang tidak boleh diabaikan dalam tata ruang dan pembangunan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!