Belajar dari Rumah di Tengah Pandemi dan Bencana

Selasa, 26 Januari 2021 - 08:00 WIB
Dari sejumlah kejadian, meskipun banjir paling sering terjadi, gempa bumi paling banyak mengakibatkan korban jiwa hingga kini. Korban meninggal akibat gempa bumi berjumlah 91 jiwa, tanah longsor 41 dan banjir 34, sedangkan hilang banjir 8 dan gempa 3. Demikian juga korban luka, gempa bumi masih paling banyak mengakibatkan tingginya jumlah korban. BNPB mencatat korban luka-luka akibat gempa bumi 1.172 jiwa, tanah longsor 26, puting beliung 7 dan banjir 5.

Banyak korban jiwa, harta benda, dan fasilitas umum (fasum) akibat bencana tersebut. Sementara itu, BDR bagi para peserta didik harus tetap berjalan. Pertanyaannya, “Bagaimana BDR tetap asyik dan menarik, tidak menyebabkan peserta didik stres, dan tetap dinikmati sepenuh hati? Peran strategis apa yang idealnya diperankan oleh semua pihak dalam membantu anak-anak bangsa untuk menyukseskan BDR di masa pandemi dan bencana ini?”

BDR Asyik

Menurut Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Tahun Ajaran 2020/2021 di masa Pandemi Covid-19 Kemendikbud, pembelajaran jarak jauh (BDR) masih dihadapkan kepada berbagai kendala. Perbedaan akses dan kualitas selama pembelajaran jarak jauh dapat mengakibatkan kesenjangan capaian belajar, terutama anak dari latar belakang sosio-ekonomi berbeda. Minimnya interaksi dengan guru, teman, dan lingkungan luar ditambah tekanan akibat sulitnya pembelajaran jarak jauh dapat menyebabkan stress dan depresi pada anak.

Dari pengalaman BDR selama musim pandemi ini, keterbatasan alat komunikasi (ponsel, laptop, komputer), koneksi jaringan (sinyal) yang tidak stabil, keterbatasan kuota data, dan rendahnya literasi digital orang tua dalam mendampingi putera dan puteri mereka masih merupakan masalah yang perlu diberi perhatian khusus. Beberapa keluarga dengan tiga anak misalnya, dan semua mengikuti BDR, kerapkali dihadapkan pada keterbatasan laptop atau ponsel dan kuota data. Di beberapa daerah tertentu, alat komunikasi tersedia, tetapi jaringan dan akses internet tidak stabil dan kurang mendukung.

Oleh karena itu, BDR ke depan harus didesain menjadi lebih asyik dan inspiratif, dengan mengurangi potensi kendala teknis tersebut. Dalam waktu yang sama, bantuan kuota data, terutama bagi para keluarga yang terdampak bencana dan keluarga kurang mampu perlu diberikan. Bahkan, akses internet perlu digratiskan. Organisasi penggerak dan guru penggerak dipandang penting berperan aktif dan solutif dalam memberikan pendampingan literasi digital bagi para orang tua, memberikan penyuluhan dan konsultasi psikologis untuk mengurasi potensi stres, depresi, dan disorientasi dalam kegiatan BDR.

Desain BDR asyik juga penting dikembangkan oleh para guru di sekolah masing-masing. Pengembangan materi ajar yang menarik, berorientasi edutainment, diperkaya kuis, video pembelajaran yang menginspirasi dan memotivasi peserta didik untuk terlibat aktif berdiskusi dan mencari solusi merupakan pilihan arif untuk dipenuhi oleh pendidik dan institusi pendidikan yang menyelenggarakan BDR.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!