Guru Adalah Pahlawan Sepanjang Masa
Selasa, 24 November 2020 - 08:42 WIB
Keberhasilan Program Penguatan Karakter tentu tak lepas dari peran para guru yang berjuang dengan setulus hati untuk menjadi penggerak bagi para rekan guru dan anak didik.
I Kadek Sembah Semadiartha, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum sejak tahun 2015 sekaligus Guru Matematika SMKN Bali Mandara, Kabupaten, Bali. Guru Penggerak Angkatan I tersebut sehari-hari mengajar di sekolah yang diperuntukkan bagi keluarga dengan latar belakang ekonomi kurang mampu.
“Murid murid berada di asrama selama 24 jam. Ini benar-benar menempa saya, karena tidak hanya menjadi guru tetapi juga orang tua siswa, Untuk itulah saya harus terus berinovasi dalam memberi layanan yang terbaik untuk siswa agar mereka semangat belajar,” tuturnya.
Sebagai Wakil Kasek Bid Kurikulum, guru yang biasa dipanggil Pak Sembah ini banyak mengembangkan kurikulum yang berpihak pada siswa. Misalnya, integrasi materi dan aktivitas pembentukan karakter. Semua dilakukan agar siswa mendapat manfaat dari inovasi kurikulum.
Pengalaman inovasi kurikulum ia bagikan pada para rekan guru penggerak dan membuatnya berhasil meraih juara I penghargaan ajang inovasi di 2018.
Gigih dan pantang menyerah sudah menjadi karakter bagi pria asal Bali ini. Hal itu terlihat dalam kisah perjuangannya selama menjalani masa seleksi Guru Penggerak, beragai ujian dan tantangan ia hadapi. Kata-kata motivator selama mengikuti proses pelatihan diakuinya menjadi pelecut semangatnya.
“Frase frase sederhana merdeka belajar, menghamba pada anak, menjadi teman perjalanan guru penggerak dan memanusiakan hubungan dan lainnya. Frase sederhana ini menjadi pondasi untuk menjadi teman perjalanan untuk menjadi guru penggerak dalam Menjalankan praktik-praktik baik untuk menjadikan bermanfaat dalam dunia pendidikan,” tutur ayah tiga anak ini.
Selain menjadi pendamping para guru sekaligus menjadi pengajar bagi para anak didiknya, ia juga harus menjalankan peran sebagai pendidik di rumah bagi ketiga anaknya, apalagi sang isteri harus berjuang di garda depan sebagai tenaga kesehatan yang menangani para pasien Covid-19.
Kisah inspiratif juga datang dari Amalia Ahandini, guru yang berasal dariYogyakarta. Amalia adalah satu dari sekian banyak guru yang selalu bersemangat dalam melakukan Pembelajaran Jarak Jauh di Masa Pandemi Covid-19 selain tetapmenekankan pentingnya guru untuk tetap belajar.
Amalia dengan segala keterbatasan di masa pandemi, ia tak henti memotivasi anak-anak didiknya untuk giat belajar “Salah satu prinsip penting dalam belajar di rumah adalah jangan sampai tugas-tugas dari guru merepotkan orangtua. Pandemi ini memang membuat semuanya tidak mudah, tapi kita sebagai guru harus selalu belajar agar semua pihak merasa nyaman untuk terus belajar,” jelas wanita yang mengenakan kerudung ini.
Kisah inspiratif lainnya datang dari Isnaini Cahyanto, Guru IPA di SMP Negeri 3 Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Selain sebagai guru IPA, ia juga menjabat sebagai wakil kepala sekolah bidang akademik, dipercaya untuk menjadiKetua MGMP IPA Wilayah Barat Kabupaten Bogor, Duta Sains PPPPTK IPA Kemdikbud, aktif juga di dalam organisasi menjadi Anggota IGI dan PGRI Kabupaten Bogor.
Ia terpilih menjadi guru penggerak sejak 5 Oktober 2020 lalu. Isnaini adalah sosok guru yang aktif, tidak heran kalau semangatnya menular kepada rekan-rekan seprofesinya maupun anak-anak didiknya.
“Hampir setiap hari saya bersama murid-murid hebat untuk belajar IPA di SMP Negeri 3 Leuwiliang Kabupaten Bogor. Saya dan rekan-rekan guru IPA ingin lebih kreatif dan produktif, kreatif di dalam menyikapi berbagai kekurangan, di dalam pembelajaran. Produktif menghasilkan media pembelajaran, dan juga penelitian-penelitian pendidikan,” tuturnya.
Melalui Program Guru Penggerak, Isnaini mengaku tertantang sekaligus termotivasi untuk menjadi pemimpin pembelajaran agar mampu menjadi teladan dan dapat mempengaruhi guru baik di sekolah maupun di komunitas. Ini menjadi suatu pembelajaran yang suportif, berorientasi kepada anak didik. Ia percaya bahwa melalui pendidikan Guru Penggerak, maju bersama dapat terwujud. Bagi Isnaini, tidak ada bedanya antara guru ASN atau guru PNS, guru swasta, guru di desa, atau guru di perkotaan, karena sejatinya guru adalah satu. Profesi guru adalah pendidik.
I Kadek Sembah Semadiartha, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum sejak tahun 2015 sekaligus Guru Matematika SMKN Bali Mandara, Kabupaten, Bali. Guru Penggerak Angkatan I tersebut sehari-hari mengajar di sekolah yang diperuntukkan bagi keluarga dengan latar belakang ekonomi kurang mampu.
“Murid murid berada di asrama selama 24 jam. Ini benar-benar menempa saya, karena tidak hanya menjadi guru tetapi juga orang tua siswa, Untuk itulah saya harus terus berinovasi dalam memberi layanan yang terbaik untuk siswa agar mereka semangat belajar,” tuturnya.
Sebagai Wakil Kasek Bid Kurikulum, guru yang biasa dipanggil Pak Sembah ini banyak mengembangkan kurikulum yang berpihak pada siswa. Misalnya, integrasi materi dan aktivitas pembentukan karakter. Semua dilakukan agar siswa mendapat manfaat dari inovasi kurikulum.
Pengalaman inovasi kurikulum ia bagikan pada para rekan guru penggerak dan membuatnya berhasil meraih juara I penghargaan ajang inovasi di 2018.
Gigih dan pantang menyerah sudah menjadi karakter bagi pria asal Bali ini. Hal itu terlihat dalam kisah perjuangannya selama menjalani masa seleksi Guru Penggerak, beragai ujian dan tantangan ia hadapi. Kata-kata motivator selama mengikuti proses pelatihan diakuinya menjadi pelecut semangatnya.
“Frase frase sederhana merdeka belajar, menghamba pada anak, menjadi teman perjalanan guru penggerak dan memanusiakan hubungan dan lainnya. Frase sederhana ini menjadi pondasi untuk menjadi teman perjalanan untuk menjadi guru penggerak dalam Menjalankan praktik-praktik baik untuk menjadikan bermanfaat dalam dunia pendidikan,” tutur ayah tiga anak ini.
Selain menjadi pendamping para guru sekaligus menjadi pengajar bagi para anak didiknya, ia juga harus menjalankan peran sebagai pendidik di rumah bagi ketiga anaknya, apalagi sang isteri harus berjuang di garda depan sebagai tenaga kesehatan yang menangani para pasien Covid-19.
Kisah inspiratif juga datang dari Amalia Ahandini, guru yang berasal dariYogyakarta. Amalia adalah satu dari sekian banyak guru yang selalu bersemangat dalam melakukan Pembelajaran Jarak Jauh di Masa Pandemi Covid-19 selain tetapmenekankan pentingnya guru untuk tetap belajar.
Amalia dengan segala keterbatasan di masa pandemi, ia tak henti memotivasi anak-anak didiknya untuk giat belajar “Salah satu prinsip penting dalam belajar di rumah adalah jangan sampai tugas-tugas dari guru merepotkan orangtua. Pandemi ini memang membuat semuanya tidak mudah, tapi kita sebagai guru harus selalu belajar agar semua pihak merasa nyaman untuk terus belajar,” jelas wanita yang mengenakan kerudung ini.
Kisah inspiratif lainnya datang dari Isnaini Cahyanto, Guru IPA di SMP Negeri 3 Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Selain sebagai guru IPA, ia juga menjabat sebagai wakil kepala sekolah bidang akademik, dipercaya untuk menjadiKetua MGMP IPA Wilayah Barat Kabupaten Bogor, Duta Sains PPPPTK IPA Kemdikbud, aktif juga di dalam organisasi menjadi Anggota IGI dan PGRI Kabupaten Bogor.
Ia terpilih menjadi guru penggerak sejak 5 Oktober 2020 lalu. Isnaini adalah sosok guru yang aktif, tidak heran kalau semangatnya menular kepada rekan-rekan seprofesinya maupun anak-anak didiknya.
“Hampir setiap hari saya bersama murid-murid hebat untuk belajar IPA di SMP Negeri 3 Leuwiliang Kabupaten Bogor. Saya dan rekan-rekan guru IPA ingin lebih kreatif dan produktif, kreatif di dalam menyikapi berbagai kekurangan, di dalam pembelajaran. Produktif menghasilkan media pembelajaran, dan juga penelitian-penelitian pendidikan,” tuturnya.
Melalui Program Guru Penggerak, Isnaini mengaku tertantang sekaligus termotivasi untuk menjadi pemimpin pembelajaran agar mampu menjadi teladan dan dapat mempengaruhi guru baik di sekolah maupun di komunitas. Ini menjadi suatu pembelajaran yang suportif, berorientasi kepada anak didik. Ia percaya bahwa melalui pendidikan Guru Penggerak, maju bersama dapat terwujud. Bagi Isnaini, tidak ada bedanya antara guru ASN atau guru PNS, guru swasta, guru di desa, atau guru di perkotaan, karena sejatinya guru adalah satu. Profesi guru adalah pendidik.
Lihat Juga :