DPR Ingatkan Joe Biden Tak Politisasi Isu HAM di Papua
Sabtu, 14 November 2020 - 18:06 WIB
Anggota DPR dari Dapil Papua Barat, Jimmy Demianus Ijie mengatakan tidak tertutup kemungkinan bagi AS untuk ikut campur terhadap negara-negara yang dituding melakukan pelanggaran HAM. Foto/dpr.go.id
JAKARTA - Kemenangan Joe Biden dalam kontestasi Pilpres Amerika Serikat diharapkan membawa angin segar bagi penerapan isu Hak Asasi Manusia ( HAM ) di dunia. Terutama menyangkut masyarakat multikultural, lingkungan usaha, kelompok minoritas, dan wilayah konflik.
"Bahkan tidak tertutup kemungkinan bagi AS untuk ikut campur terhadap negara-negara yang dituding melakukan pelanggaran HAM," ujar Anggota DPR dari Dapil Papua Barat, Jimmy Demianus Ijie dalam keterangannya, Sabtu (14/11/2020). (Baca juga: JK Sebut Dialog Cara Terbaik Selesaikan Permasalah Papua)
Lebih lanjut Jimmy berharap nantinya kepemimpinan Biden tak mempolitisasi isu HAM yang ada di Papua. Mengingat, AS sendiri dianggap memiliki peran mengintegrasikan Papua, sebelumnya Irian Barat ke dalam wilayah NKRI.
"Seperti yang tercatat dalam sejarah, bahwa Amerika Serikat berperan penting dalam mengintegrasikan Papua dengan Indonesia melalui perjanjian New York (New York Agreement) tahun 1962. Kemudian dilakukan Pepera dengan hasil sebagian besar rakyat Papua memilih bergabung bersama Indonesia," jelasnya.
"Bahkan tidak tertutup kemungkinan bagi AS untuk ikut campur terhadap negara-negara yang dituding melakukan pelanggaran HAM," ujar Anggota DPR dari Dapil Papua Barat, Jimmy Demianus Ijie dalam keterangannya, Sabtu (14/11/2020). (Baca juga: JK Sebut Dialog Cara Terbaik Selesaikan Permasalah Papua)
Lebih lanjut Jimmy berharap nantinya kepemimpinan Biden tak mempolitisasi isu HAM yang ada di Papua. Mengingat, AS sendiri dianggap memiliki peran mengintegrasikan Papua, sebelumnya Irian Barat ke dalam wilayah NKRI.
"Seperti yang tercatat dalam sejarah, bahwa Amerika Serikat berperan penting dalam mengintegrasikan Papua dengan Indonesia melalui perjanjian New York (New York Agreement) tahun 1962. Kemudian dilakukan Pepera dengan hasil sebagian besar rakyat Papua memilih bergabung bersama Indonesia," jelasnya.
Lihat Juga :