Dua Alasan Utama Milenial Kecewa Terhadap Demokrasi

Senin, 26 Oktober 2020 - 11:39 WIB
“Akhirnya sistemnya demokrasi, tetapi secara nilai dan substansi jauh dari nilai-nilai demokrasi. Dalam konteks Indonesia, sejak 2004, kita punya presiden yang terpilih secara demokratis. Akan tetapi, ketika memerintah justru tidak demokratis. Ini jadi persoalan juga,” katanya.

Alasan kedua, milenial kecewa berkaitan dengan tantangan dan persoalan khas yang dihadapi. Para milenial ini sangat konsen dengan isu ekonomi, seperti pekerjaan dan kebutuhan hidup. Beberapa waktu lalu, ada riset yang menyebutkan milenial akan kesulitan untuk membeli rumah karena harganya yang meroket.(Baca juga: Tolak UU Cipta Kerja, Buruh Akan Gelar Aksi 2 November 2020 )

Hurriyah menyatakan para milenial ini terbiasa dengan kompetisi. Mereka sangat mengedepankan kemampuan dalam menggapai sesuatu yang diinginkan.

Di sisi lain, para milenial dipertontonkan praktik-praktik yang tidak sesuai dengan norma, seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), oleh para politikus.

“Praktik politik Indonesia yang dilihat adalah nepotisme. Ini kan bertentangan. Mereka meyakini dalam dunia kerja, saya harus kompetitif. Harusnya punya kompetensi untuk mengalahkan orang lain, tetapi dunia politik masih sangat nepotisme. Sekarang nepotisme menjalar ke politisi muda,” tuturnya.
(dam)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!