Pernyataan Menkominfo soal Hoaks Dinilai Tidak Demokratis
Minggu, 18 Oktober 2020 - 17:25 WIB
Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate. Foto/SINDOnews
JAKARTA - Pernyataan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate terkait berita bohong (hoaks) yang disampaikan dalam wawancara Mata Najwa terkait protes Undang-undang Cipta Kerja, Rabu 14 Oktober 2020 menuai kontroversi.
Dalam wawancara itu, Johnny mengatakan jika pemerintah menyatakan sesuatu sebagai hoaks maka hal itu adalah hoaks.
Pakar komunikasi dari Universitas Pelita Harapan (UPH) Jakarta, Emrus Sihombing mengatakan, pernyataan Menkominfo tersebut berpotensi seolah memposisikan pemerintahan sebagai penafsir tunggal dan atau pihak yang memonopoli kebenaran di ruang publik. Akibatnya, muncul berbagai pandangan yang kontra.
"Saya belum menemukan yang pro. Tentu, pandangan menteri tersebut tidak dikehendaki pencetus dan para pejuang demokrasi yang mengedepankan kesetaraan komunikasi pada semua konteks sosial," ujar Emrus Sihombing, Minggu (18/10/2020).(Baca juga: Sebanyak 23 Pelanggaran Selama Kampanye Pilkada di Riau Didominasi Pelakunya ASN )
Dalam wawancara itu, Johnny mengatakan jika pemerintah menyatakan sesuatu sebagai hoaks maka hal itu adalah hoaks.
Pakar komunikasi dari Universitas Pelita Harapan (UPH) Jakarta, Emrus Sihombing mengatakan, pernyataan Menkominfo tersebut berpotensi seolah memposisikan pemerintahan sebagai penafsir tunggal dan atau pihak yang memonopoli kebenaran di ruang publik. Akibatnya, muncul berbagai pandangan yang kontra.
"Saya belum menemukan yang pro. Tentu, pandangan menteri tersebut tidak dikehendaki pencetus dan para pejuang demokrasi yang mengedepankan kesetaraan komunikasi pada semua konteks sosial," ujar Emrus Sihombing, Minggu (18/10/2020).(Baca juga: Sebanyak 23 Pelanggaran Selama Kampanye Pilkada di Riau Didominasi Pelakunya ASN )
Lihat Juga :