Ubedilah Badrun Sebut Gerakan Mahasiswa Murni, Tidak Ditunggangi Kepentingan Politis
Sabtu, 20 Juni 2026 - 06:00 WIB
Selain itu, tuntutan mahasiswa juga terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih. "Kalau lihat tuntutan mahasiswa itu, saya lihat nggak ada ditunggangi oleh kepentingan politis tertentu. Terlihat murni bahwa mereka menangkap kegelisahan publik. Mereka mengkajinya, mendiskusikannya, saya lihat sangat serius mereka," katanya.
Kedua, kata Ubed, terkait jaringan. Menurutnya, jaringan yang terbentuk itu adalah jaringan yang tidak pernah dikooptasi oleh kekuasaan. "Saya cek juga itu aliansi mereka siapa aja. Kan saya tahu BEM-BEM yang pernah dikooptasi, jadi antek-antek intelijenlah, itu saya tahu," ujarnya.
Faktor ketiga adalah dukungan finansial untuk mereka bergerak. "Mereka terbuka tuh, bahkan mereka bisa transparansi uang dari mana, itu urunan. Partisipasi dari mahasiswa, dari dosen, dari alumni, kemudian mereka kumpulkan dalam satu mungkin bendahara, dan mereka bisa laporkan untuk apa saja (uang digunakan). Jadi ada transparansi," jelasnya.
Pria yang pada 1996 membidani lahirnya Forum Komunikasi Senat Mahasiswa se-Jakarta (FKSMJ) ini mengatakan, jika penilaian mereka dibiayai oligarki dan koruptor, itu mengada-ada. "Dari indikator-indikator itu, saya cermati mereka masih on the track."
Ubed mengatakan, gerakan mahasiswa ini meluas di berbagai daerah. "Jadi artinya ada kegelisahan kolektif di hampir seluruh kalangan mahasiswa dan itu juga karena persoalan ekonomi yang menyentuh keluarga mereka," ujar Ubed yang mendapat informasi adanya kenaikan jumlah mahasiswa yang melakukan penundaan pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) karena kesulitan ekonomi keluarganya.
Kedua, kata Ubed, terkait jaringan. Menurutnya, jaringan yang terbentuk itu adalah jaringan yang tidak pernah dikooptasi oleh kekuasaan. "Saya cek juga itu aliansi mereka siapa aja. Kan saya tahu BEM-BEM yang pernah dikooptasi, jadi antek-antek intelijenlah, itu saya tahu," ujarnya.
Faktor ketiga adalah dukungan finansial untuk mereka bergerak. "Mereka terbuka tuh, bahkan mereka bisa transparansi uang dari mana, itu urunan. Partisipasi dari mahasiswa, dari dosen, dari alumni, kemudian mereka kumpulkan dalam satu mungkin bendahara, dan mereka bisa laporkan untuk apa saja (uang digunakan). Jadi ada transparansi," jelasnya.
Pria yang pada 1996 membidani lahirnya Forum Komunikasi Senat Mahasiswa se-Jakarta (FKSMJ) ini mengatakan, jika penilaian mereka dibiayai oligarki dan koruptor, itu mengada-ada. "Dari indikator-indikator itu, saya cermati mereka masih on the track."
Ubed mengatakan, gerakan mahasiswa ini meluas di berbagai daerah. "Jadi artinya ada kegelisahan kolektif di hampir seluruh kalangan mahasiswa dan itu juga karena persoalan ekonomi yang menyentuh keluarga mereka," ujar Ubed yang mendapat informasi adanya kenaikan jumlah mahasiswa yang melakukan penundaan pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) karena kesulitan ekonomi keluarganya.
(zik)
Lihat Juga :